Merahnya Hitam Putih – by @halimunali

Sebuah kotak musik berdering anggun, mengaung di sunyinya kamarku yang besar. Aku terduduk di kasur, di samping jendela, menatap ke langit kelam siang itu. Jingga belum datang, kini hanya ada kelabu yang siap menangis.

Aku menghela napas panjang, dan berdiri. Meresapi tiap nada yang melayang di udara, menyelaraskanya dengan langkahku. Kedua lenganku berayun santai. Berputar dan tersenyum, sementara gaun putih ini berkibar bagai mangkuk yang berputar. Tuk… alunan merdu mendadak terhentak, berhenti. Kotak musik tua itu membisu, seiring dengan berhentinya langkah-langkah kecil, dan ayunan tanganku. Ku ambil kotak musik itu. Agaknya kotak musik tua pemberian ibuku ini memang sudah rusak.

Aku berdiri terpaku ditengah kamar, menatap kotak itu. Diam.  Angin dingin berhembus masuk, melalui jajaran jendela besar di kamarku yang suram. Hening. Bosan. Bingung.

“Hidup itu hanya sekedar rangkaian napas. Tak ada yang begitu berarti dalam hidup ini. Tak ada yang berkuasa melawan waktu yang berlalu.” Berapapun kata menggema diantara dinding ini, mereka tetaplah dinding bisu. Hanya aku dan batinku, monolog semu.

“Mengapa kau berhenti menari?”  seseorang berkata, dari luar sana.

Aku menatap menembus jendela, tak puas, lantas aku berjalan, membuka pintu. Disini aku, di balkon kamarku, di lantai dua.

Mataku memburu. Seperti setitik tinta yang terjatuh di kertas putih, mencuri pandanganku pada satu arah, mengoyak sepi menembus rindangnya pepohonan dan daun-daun yang berjatuhan. Seorang pria aneh berbaju hitam, duduk santai di sebuah batang pohon di depan rumahku, tak jauh dari tepi jendela kamarku.

 “Boo!” suaranya meletup ketika mata kami bertemu.

“Sejak kapan kau berada disana!?” tanyaku ketus.

Ia menatapku dalam, dan tersenyum. Sekejap saja ekspresi wajahnya yang misterius dan dingin berubah jadi senyum hangat nan lebar, bahkan mungkin bibirnya mempertemukan kedua telinganya, lantas menyeringai.

Pria itu menjawab dengan tenang, “Baru kali ini aku melihatmu menari… biasanya kau hanya duduk termenung di balkon itu, menatap langit.”

            “Jawab pertanyaanku! Sejak kapan kau berada disitu?! Dan beraninya kau memata-mataiku!?”

            “Sejak kapan aku berkewajiban untuk menjawab pertanyaanmu?” balasnya.

Aku menatap tajam penuh kekesalan. Tapi dia malah tertawa. Seperti anak panah terhempas tameng, dan gagal menusuk hatinya.

Ayah!!! Akan kupanggilkan Ayahku!Dia akan menangkapmu wahai penyelinap! aku menjerit.

“Memangnya dia ada di rumah?” balasnya dengan nada merendahkan yang membuat aku makin jengkel.

“Dia tadi baru pulang! Tunggu! Lihat saja! Aku akan memanggilnya! aku berlari keluar kamar menuju lantai dasar sambil berteriak memanggil. Sesampainya di separuh dari seluruh anak tangga rumahku, mataku memburu. Hanya ada ruang-ruang kosong dan dua orang pelayan yang membersihkan perabot.

“Baru pergi lagi non bapaknya…” balas seorang dari mereka.

Kembali dengan setengah berlari, aku di balkon kamarku. Sendiri? Kemana pria itu? Dan kotak musikku! Tadi kutinggalkan disini! Dia mencurinya!

 

***

 

 

Langitnya mendung seperti kemarin. Aku merenung, memikirkan kotak musikku yang hilang dicuri orang. Apakah dia akan datang lagi? Semoga saja iya… aku  ingin kotak itu kembali.

“Hai! Hari ini kau kembali duduk disana, menatap langit, dan memikirkan aku?” Mendadak suara itu melesat masuk ke telingaku.

“Kembalikan kotak musik milikku, dasar pencuri! Dan aku tak pernah memikirkanmu!”

Sambil tertawa dia menjawab, “Ah! Sekarang kau menuduh aku pencuri… sedang kau mencuri diriku dalam pikiranmu.”

“Cepat kembalikan kotak itu!Kotak itu yang kupikirkan, bukan dirimu!

“A’a… panggil saja ayahmu, suruh dia menangkapku dan mengambil kotakmu.”

Ayah belum pulang, sejak kemarin ia belum kembali.

“Aku mohon kembalikan kotak itu!” Aku berteriak, memohon, menunduk, dan air mata menyelinap, lantas jatuh dari kelopak mataku.

Aku kembali mengangkat kepala ini. Tiba-tiba dia sudah ada di hadapanku, entah bagaimana caranya. Pria itu, begitu dekat dan berbisik di telingaku.

“Kotak itu menceritakan segalanya padaku.”

Lalu ia menutup mataku dengan tangannya…

Begitu aku membuka mata, aku melihat ibuku! Cantik. Memberi sebuah kotak, kotak musik, yang mengalunkan lagu fur elise. Aku, aku masih kecil. Ibuku memutar tungkai kotak itu. Aku menari, menari, terjatuh, dan ibu membantu aku bangun dan menari bersamaku. Hari-hari bahagia terdahulu, aku melintas waktu. Aku, ibu, dan senyum. Terus… hingga hari itu. Ayah mabuk. Ia menjemput Ibu setelah mengajar. Lalu Ibu mati. Bersama semua senyumku. Ayah… Ayah pada hidupnya sendiri. Membuang kotak itu dan yang lainnya ke gudang. Ya, kegudang. Salah satu pelayan di rumahku mencarikannya untukku. Ketemu! Tapi sudah rusak. Lalu… lalu aku melihat wajah orang asing. Seorang pria, berbaju hitam, tersenyum menyerahkan kotak musik itu… terbuka, melantunkan lagu. Terus, sampai habis. Tidak berhenti ditengah jalan. Aku memejamkan mata, menikmati alunan nadanya, menari, dan tersenyum.

“Woi…” letupan suara itu membuat mataku terbuka.

Aku sendiri… di balkon bersama kotak musik yang terbuka dan melantunkan lagu, terus, sampai habis tidak berhenti di tengah lagu.

 

***

 

Hari ini, lebih cerah dari hari-hari lainnya. Langit masih murung, tapi siapa peduli. Aku tak menatap langit. Aku membuka jendela kamarku lebar-lebar, lalu keluar menuju balkon. Duduk di tepian, menatap pohon besar di hadapanku, di sana di seberang balkon ini.

Dia tidak ada, tidak duduk disana seperti biasa. Masih pagi, mungkin dia belum bangun. Atau dia sedang berjalan menuju kemari dari rumahnya. Lucu juga dia. Duduk di pohon itu setiap hari dan memperhatikan aku. Kenapa tidak bilang saja, atau menyapaku? Atau memang dia orang aneh mesum yang hobinya mengintip.

 Aku terus bertanya-tanya, bercakap-cakap dengan suara-suara kecil dari hatiku. Apa aku wawancarai saja pohon itu? Andai pohon besar itu bisa bicara. Seperti orang gila, aku senyum sendirian, menatap ke sana ke pohon itu.

Aku penasaran, bagaimana dia memanjat? Aku tertawa membayangkanya. Ah, mungkin dia lelaki bajingan yang memanjat pohon untuk mengintip kamar seorang gadis kan? Apa saja yang sudah dia lihat!? Apakah dia melakukan itu setiap hari? Rasa-rasanya aku mulai termakan batinku sendiri.

Tiba-tiba terdengar suara yang mulai familiar di telingaku, dari atas, diatap rumahku.

“Kenapa kau sangat suka bengong di balkon itu? Bukankah aku sudah memperbaiki kotak musikmu itu? Menarilah!”

“Sejak kapan kau ada disana!?”

“Sejak kapan aku wajib menjawab pertanyaanmu!?” balasnya bertanya.

“Kalau begitu aku tidak akan menjawab pertanyaanmu! Dan sejak kapan aku harus menari untuk menghiburmu! Jangan harap!” jawabku ketus.

“Ya sudah, siapa juga yang butuh jawaban dari perempuan gila yang tertawa sendiri dan berbicara dengan pohon.” Balasnya.

  “Hei! Mengapa kau tidak memanjat pohon itu! Dan bagaimana kau bisa naik kesana!?”

“Ahahahahahaha! Kau berharap aku datang padamu dan menantiku di pohon itu.” Jawabnya tertawa puas, lalu menyeringai.

“Tidak! Aku ingin melihatmu jatuh saat memanjat pohon itu!

“Aku sudah jatuh. Jatuh dari langit. Bukankah kau lebih suka menatap langit? Jadi aku datang dari langit.”

Aku tersenyum, dan berkata, “Langit sekarang hanya muram dan menangis. Lagipula ada hal lain yang lebih aku sukai daripada menatap langit dari balkon ini.”

“Apa?”

Yaitu tadi! Melihatmu jatuh dari pohon itu!” jawabku sambil tersenyum.

Hei bodoh, aku sedang menawarkan jasa mengabulkan keinginan. Satu keinginan. Dan kau hanya ingin aku jatuh dari pohon itu!?”

“Mengapa kau mau mengabulkan keinginanku?” aku bertanya.

Dia turun dari atap ke balkon, berjalan melewatiku, melompati tralis pagar balkon dan melayang! Ya, dia menyusun lompatan-lompatan langkah kecil antara dahan menuju pohon tempat ia biasa bertengger, sambil berkata.

“Kau tahu kupu-kupu?”

“Ya, tentu saja,”

“Umur kupu-kupu adalah seminggu. Seminggu, atau 2 minggu, atau sebulan, atau berapapun lamanya yang masih tak dapat dikatakan panjang. Seekor kupu-kupu tak pernah hidup sampai satu tahun,”

“Oh ya? Mereka semua sudah menjadi tanah sebelum waktu yang dibutuhkan bayi untuk bisa berjalan tercapai?” aku bertanya.

Pernah sempat kupikirkan berapa luas dari dunia ini yang sempat mereka nikmati dalam waktu hidupnya yang singkat itu. Banyak yang mati dan kemudian menjadi tanah, meyambung lingkaran rantai kehidupan di dunia ini, hancur dan kemudian dihisap tanaman yang madunya dimakan oleh anak cucu mereka sendiri, dan ada juga yang terus membeku menghiasi kotak koleksi para kolektor serangga.”

“Lalu?”

Kemudia ia bertanya padaku, “Pernahkah sempat terbersit di pikiranmu, apakah mereka puas dengan kehidupan sesingkat itu?”

Pertanyaan tersebut menghentikan lidahku. Aku berpikir sejenak, hendak menjawab, namun Ia keburu melanjutkan.

“Mereka terus menari. Mereka seakan melompat-lompat dari satu bunga ke bunga lainnya. Tak peduli dengan tetesan air hujan yang memberatkan kepakan sayap mereka, yang harus berusaha mereka hindari.Seperti hujan hujaman anak panah yang siap merobek sayap mereka, namun mereka terus berkelana.” kisahnya dengan semangat.

Dengan yakin aku melanjutkan, “Mereka ingin menghabisi masa hidupnya dengan warna! Mereka selalu mencari bunga-bunga yang terindah, yang terharum dari sekumpulan makhluk cantik itu. Mencicipi madu yang manis, seakan berkenalan dengan warna yang baru yang ia temui di mahkota setiap bunga…”

“Bayangkan jika mereka manusia…” ucapnya.

“Mereka justru menghabiskan waktu untuk merengut, berkeluh kesah dan menggerutu, atas umurnya yang pendek itu.Atau mempertanyakan kenapa hari hujan.”  Balasku.

“Tidak, tentu mereka tidak punya waktu sebanyak itu! Yang harus kau lakukan adalah hanya menghitung pertemuanmu dengan matahari sampai 7 kali, sebelum kau terbebas dari kehidupan ini.”

Lalu aku bertanya, “Apakah mereka meneteskan air mata saat mereka kelelahan bersuka ria berdansa di udara dan bertengger di tangkai kecil? Apakah mereka sedih karena mereka melewatkan waktunya dengan lelah?”

“Untuk apa mereka menangis? Hidup tak mengasihani mereka, meskipun mereka menangis. Mereka selalu tampak angkuh, terus berpergian saat kau mencoba menangkapnya. Tapi yang mereka inginkan hanyalah bebas, mereka tak punya waktu untuk terkekang. Jika kau hanya punya seminggu untuk hidup, kau pun akan begitu.” Jawabnya.

“Ya, meski mereka dengar detakan jam dinding di kamarku yang setia menghitung mundur umurnya yang singkat, meski turun hujan, meski lelah, mereka tetap menari. Tapi aku, kita, bukan kupu-kupu!”

“Kita memang bukan kupu-kupu, tapi apa menurutmu, umur manusia itu pasti lama?”  ucapnya. Lalu Ia datang menghampiriku, memegang tanganku dan berkata sambil tersenyum, “Hiduplah! Lalu setelah itu bebaskan dirimu dari kehidupan ini.”

 

***

 

“Jika kau menjadi kupu-kupu, kemana kau akan terbang?” Ia bertanya perlahan.

“Aku ingin terbang ke langit…”

“Angan-angan klise… bisakah kau lebih imajinatif?” Ia mengejek.

“Ah! Dengar dulu! Ibuku dulu sekolah di Eropa, katanya sore hari di musim dingin, sangatlah indah!”

Lalu ia berkata sambil menjauh pergi, menuju pohon di seberang sana, “Intinya, kau ingin kesana?”

“Bukan, aku belum selesai bicara! Aku ingin terbang ke langit, menembus salju yang berjatuhan menuju tempat salju dibuat!”

“Hei bodoh, kau ini kupu-kupu, bukan pesawat Apollo atau satelit cuaca!” setelah menyelesaikan kata-katanya, wajahnya menengadah ke atas sambil berusaha menggoyang-goyangkan pohon besar itu.

Salju! Berjatuhan diantara rindangnya dedaunan dan dahan. Angin yang berhembus mengantarkan mereka kearahku dan mendarat di wajahku. Dingin.

“Waaaah! Bagaimana mungkin?” aku bertanya sambil menjatuhkan pandangan ke dahan pohon di seberang… dia hilang… kemana dia.

Salju terus berjatuhan, aku berdiri di tepi balkon ini sendiri, melihat langit yang cemberut, tapi gagal mematahkan senyumku.

 

 

***

 

 Suara tiap tetes air yang jatuh ke bumi berdetakan, saling menyusul, mengantarkanku membuka mata hari itu. Akhirnya langit menangis juga. Segeralah aku bangkit dan melangkah menuju balkon. Jangan-jangan pria itu kehujanan dan menunggu di pohon itu! Atau di atap rumahku?

Aku membuka pintu, dan mataku memburu. Tak ada sosok orang itu. Hujan begitu deras. Dia tidak akan datang.

Mendadak terdengar suara seorang pria dari halaman rumahku di bawah sana. Mungkinkah itu dia?

“Hai” teriak seseorang berpayung biru, membawa seikat mawar. Dia membawa seikat mawar. Aku tidak percaya.

“Kupikir kau tidak akan datang!” aku berteriak, penuh semangat.

Mata kami bertemu, wajahnya muncul dari balik payung, dan orang itu bukan dia yang kutunggu.

“Ah! Aku tau kamu menunggu aku! Aku segera keatas, tunggu aku yah! Oh iya, ini aku belikan seikat mawar dan coklat” balasnya.

Tak lama kemudian ayah berjalan dibelakangnya, mereka saling bicara sebentar, sepertinya, membicarakan aku. Pria di bawah sana, adalah anak rekan kerja ayah. Dan ayah berusaha menjodohkanya denganku. Sial. Dan aku malah menyapanya dengan ramah penuh semangat, dan tak lama lagi dia sampai dihadapanku. Sial kuadrat.

“Aku pikir aku berhasil mencegah langit yang murung, untuk tidak menangis.”

Kalimat itu menyeret pandanganku ke pohon di seberang sana. Suara yang tak asing lagi, sosok yang kunanti berdiri di dahan itu dengan basah kuyup.

“Tidak… kau berhasil melakukan lebih dari sekedar membuatnya tidak menangis, kau membuatnya tersenyum…” kataku sambil tersenyum.

“Kemana saja kau! Kupikir kau tak akan datang…” aku menambahkan.

“Bukankah sudah kubilang, meskipun hujan turun mereka tetap beterbangan dan menari.”

“Jadi kau kupu-kupu?”

Tiba-tiba terdengar suara dari dalam kamar. Ah, ayah dan mantu idamanya itu sudah nampak di pintu kamarku.

“Bisakah kau mem…” belum selesai aku berkata, Ia menggenggam tanganku dan mengajak tubuh ini melayang menembus hujan, menuju pohon besar di seberang balkon rumahku.

Kami berdua menunduk, bersembunyi. Tampak di seberang sana, ayah dan mantu idamannya kebingungan mencariku, melihat sekitar, menyerah dan kembali keluar dari kamarku.

 Kami berdua tertawa, suara kami bertempur dengan derasnya suara hujan.

“Tadi kau bertanya apa?”

“Jadi kau kupu-kupu?” aku membalas.

“Menurutmu?”

“Bukankah kupu-kupu itu penuh warna? Tidak seperti kau…”

Lalu ia duduk berhadapan dengan ku, matanya menatapku dalam, dan berkata, “Hitam itu, adalah semua warna yang menyatu, kuat dan pekat.”

“Oh ya?”

“Ya.” Jawabnya yakin dan tegas.

“Sementara putih itu hampa dan kosong.” Ia menambahkan.

“Kalau begitu beri aku warna.”

“Kuberikan kau merahku.”

            Aku bingung mau berkata apa, rasanya lompat kebawah sana adalah jalan yang tepat. Tapi aku mengurungkan niatku itu.

“Apa? Aduh, hujan begitu deras, suaramu tidak terdengar jelas.” Aku beralibi. Dan dia malah tertawa puas. Brengsek.

Hujan mulai mereda. Dia berhenti tertawa, dan menempelkan jari telunjuknya ke bibirku, “Sssttt.”

Lalu ia menunjuk ke langit, ke arah pelangi yang merekah diantara kelabu. Indah.

“Wah… kan sudah kubilang kau berhasil membuat langit tersenyum.” ucapku.

“Ssst… bukan hanya langit yang tersenyum…”

“Ya… aku juga tersenyum…”

“Ya… iya… terserahlah, bukan itu maksudku.”

Err… kali ini aku bingung mau berkata apa lagi, sebaiknya aku diam sebelum makin parah. Dan dia malah tertawa melihat kebodohanku ini.

“Kau dengar itu?” Ia bertanya.

Perlahan terdengar suara kodok dan jangkrik, makin lama makin nyaring, dan beberapa kupu-kupu terlihat beterbangan. Indah.

“Ya…”

“Dulu Ibu pernah mengajakku pergi, dan ternyata hari itu hujan, dan kami berteduh di bawah pohon seperti ini.”

“Dia menyayangimu.”

“Ya.”

“Dan aku bukan Ibumu…”

“Ehm… ya.”

Keadaan menjadi hening, hanya suara-suara kodok dan jangkrik di bawah sana, serta tetesan air sisa-sisa hujan. Kami berdua memandang pelangi yang mulai pudar.

Dia menengok dan memandangku, lalu bertanya,

“Adakah yang ingin kau katakan?”

“Oh, iya… itu, pelanginya mulai sirna,” aku menjawab gugup. Ia tetap memandangku.

“Hanya itu yang ingin kau katakan? Karena aku harus pergi sekarang.”

“Pergi? Kemana?”

“Aku harus pergi.”

Baru kali ini dia berpamitan, biasanya dia menghilang begitu saja.

“Benar tak ada yang ingin kau katakan lagi?” Ia menambahkan.

“Entahlah…”

“Andai aku adalah Ibumu. Apa yang akan kau katakan?”

“Eem… Aku menyayangimu…”

“Aku atau Ibumu?” ia bertanya.

“Ibumu”

“Hah?”

“Maksudku Ibuku!”

“Baiklah, aku pergi. Kesempatan bicaramu sudah habis.” Setelah selesai bicara, dia melompat turun dan menghilang.

“Bagaimana aku turun!” aku berteriak, namun dia sudah entah dimana. Brengsek.

***

 

Hari menjelang malam. Aku berhasil turun dari pohon itu dengan selamat. Perlahan aku berjalan menuju rumahku. Aku disambut seorang pelayan di rumahku,  dengan wajah cemas dan handuk, ia menghampiriku. Segera aku mengeringkan diri dengan handuk.

“Non, kemana aja sih, dicariin ayah, dia marah-marah non…” katanya cemas. Sementara hanya kubalas dengan senyum.

Tak lama kemudian keluarlah si mantu idaman ayah dari rumah. Ia menghampiriku dan berkata,

“Kemana aja kamu, aku sangat mencemaskanmu. Kamu bisa sakit, basah-basahan seperti ini.” Sambil berusaha merangkulku, namun aku berontak.

“Bi, cepat sana buatkan teh.” Dan pelayan rumahku bergegas pergi.  “Aku baik-baik saja” tambahku.

“Lihat kamu tidak memakai sandal, kakimu bisa terluka.”  Ujarnya sambil membungkuk memeriksa kakiku, sementara aku terus berjalan, tak menghiraukan. Begitu aku sampai didepan pintu, ayah telah menunggu di ruang tamu. Aku memberanikan diriku untuk masuk.

“Dari mana saja kau!?” tanyanya ketus, setengah berteriak.

Aku hanya menatapnya tajam. Diam.

“Jawab!”

“Sejak kapan aku berkewajiban menjawab pertanyaanmu!?”

“Aku ini ayahmu! Orangtuamu! Sudah berani melawan yah!”

“Iya, jawab kamu. Jangan melawan orang tua.” Mantu idamanya itu, yang kini berdiri di samping ayah dia menambahkan. Membuatku makin jengkel.

“Orang tuaku hanya ibu, dan dia sudah mati karena kau!” aku membentak, “Kau hanya pria tua yang sibuk bekerja, dan dilucuti perempuan jalang itu! Kau bukan Ayahku”  

Selesai aku berucap, sebuah tamparan pedas mendarat di wajahku. Aku tidak peduli. Kebencianku menggebu. Aku terbakar kebencian, air mataku meleleh di pipi.

“Ayahku adalah orang yang mencintai ibuku, bukan menghapus dirinya dari kehidupan dan menggantikankanya dengan perempuan jalang!”

“Kau tidak boleh berkata seperti itu pada ayahmu!” pria disebelah Ayah berkata.

“Diam kau penjilat!” aku memaki dan meninggalkan mereka berdua, ke lantai atas, ke balkon. Ayah masih terpaku disana, terpaku kata-kata.

Sesampainya aku dikamar, aku langsung membuka pintu menuju balkon. Namun tak ada seorangpun disana. Dia, bagaimana caraku memanggil dia. Haruskah aku menunggu hingga esok.

Aku duduk di tepi dan menangis. Tak lama kemudian, aku menatap pohon itu, dia duduk disana melihatku menangis.

“Mereka terus menari. Mereka seakan melompat-lompat dari satu bunga ke bunga lainnya. Tak peduli dengan tetesan air hujan yang memberatkan kepakan sayapnya, mereka terus berkelana. Mereka ingin menghabisi masa hidupnya dengan warna, mereka selalu mencari bunga-bunga yang terindah, yang terharum. Mencicipi madu yang manis, berkenalan dengan warna yang baru yang ia temui di mahkota setiap bunga.”

“Aku ingin jadi kupu-kupu, mereka tidak perlu memiliki waktu untuk merengut, memikirkan masalah dalam hidupnya yang menghantui pikirannya. Mereka tidak memiliki waktu untuk berkeluh kesah.”

Ia mendekat, tersenyum padaku dan berkata,

“Aku harus pergi.”

“Kau benar. Mereka tampak angkuh, terus berpergian saat kau mencoba menangkapnya. Tapi yang mereka inginkan hanyalah bebas, mereka tak punya waktu untuk terkekang.” Aku berkata, kecewa.

Aku menatapnya dalam dan bertanya, “Apakah bunga itu memberimu madu yang manis? Aku punya setoples—tapi jika kuberikan pun, tentu kau tak datang.”

“Kau tau tempatku bukan di sini, di balik jendela di bawah atap, dekat perapian yang hangat.”

Tiba-tiba ayah datang, ia membuka pintu kamar, dan berusaha mencariku. Ia melihatku, dari balik jendela. Mata kami bertemu, ia menangis, menunduk dan berjalan mendekatiku.

Aku mengalihkan pandanganku, kembali menatap dia yang kini berdiri dihadapanku. Kedua tangannya berada di pipiku. Kami begitu dekat. Aku bisa mendengar suara napasnya.

Ia mendekatkan wajahnya, berbisik di telingaku,

“Kini kau bebas.”

Ia menurunkan tanganya, meletakkanya di pundakku dan memutar badanku menghadap sisi lain, membelakangi dia. Dan kini aku berhadapan dengan ayah.

Pria itu menangis, matanya basah berkaca-kaca. Kami berdua berjalan mendekat. Ia memeluk erat tubuhku. Aku mendengar detak jantungnya yang menggebu-gebu. Tubuhnya yang hangat bergetar menangis, tak berhenti mengucap maaf. Maaf padaku. Pada Ibu. Pada segalanya. Aku terdiam membisu. Air mataku jatuh lagi, di bahunya, bahu ayah. Bahu ayahku.

“Pergi! Kupu-kupu itu akan segera pergi!” Batinku memperingatkan. Aku melepaskan diri dari pelukan hangat ayahku. Berbalik, berpaling darinya. Pria itu, pria aneh berbaju hitam, melayang. Aku berlari, memanjat, melampaui tralis pagar tepian balkon ini. Dan berteriak.

“Aku ingin selalu bersamamu!”

Dia mendengarnya! Langkahnya berhenti, wajahnya menengok ke belakang, menatap aku. Mata kami bertemu, Ia tersenyum. Aku tertawa bahagia. Tubuhnya berpaling menghadapku, kedua tangannya terbuka lebar seraya menyambut.

Kini aku melayang… Tapi hanya untuk beberapa detik.

 

***

Sesuatu yang Ajaib – PART II

Cepat sekali waktu berlalu, tapi cukup lambat bagi Nangroe Aceh Darussalam pulih dari bencana. Tsunami yang melanda baru enam bulan kemudian terpulihkan sedikit dari deritanya. Itu pun tidak secara total, masih banyak yang harus diperbaik di sana-sini. Masih banyak pula keluarga yang belum menemukan anggota keluarganya yang hilang (dipastikan mereka telah meninggal). Sungguh miris keadaan pada waktu awal-awal terjadinya bencana tsunami yang dahsyat itu.

Begitu pula denganku dan Aldi. Enam bulan aku menemaninya menghadapi cobaan yang ia dapat setelah tsunami. Ya, tangannya yang hilang terbawa derasnya arus air laut. Kala itu ia depresi berat, aku tak tega untuk meninggalkannya sebatang kara di Aceh. Ibunya ditemukan meninggal tertimbun tanah dan barang-barang masyarakat yang seakan menjadi satu kala itu, Aldi sudah sangat bersyukur dapat menemukan jasad ibunya, sedangkan ayahnya menghilang ditelan ombak.

Aku benar-benar tak ingin meninggalkannya, dan aku pun sepenuh hati mengurus dan membantunya beradaptasi dengan lingkungan setelah tangannya mengalami cacat. Aku tak berani mengucapkan kata-kata itu di depannya, karena pasti ia akan murung dan rasa percaya dirinya menghilang lagi. Begitu sulitnya masa-masa ini, trauma yang tak berkesudahan namun selalu ada keinginan untuk kembali.

Aku sendiri juga berusaha melewati masa-masa itu dengan sabar. Diawali dengan tinggal lebih dari satu bulan di tenda darurat bersama Aldi, menjadi sukarelawan yang sangat dibutuhkan, bahkan bekerja untuk Aldi. Semua itu aku lakukan untuknya. Orang tuaku di pesisir memakluminya. Bahkan mereka meyuruhku tetap di sana sampai Aldi benar-benar membaik.

Dan sekarang aku dan Aldi tinggal di lokasi perumahan khusus untuk korban tsunami selama enam bulan yang melelahkan itu. Tempat yang sangat sederhana dibangun degan secepat kilat demi semua korban mendapat tempat singgah dan bernaung yang lebih baik. Aldi sering menyuruhku pulang saja kembali ke pesisir, menurutnya aku membuang-buang waktu mengurus dirinya yang akan terus seperti itu. Tapi aku tidak akan meninggalkannya, aku akan terus bersamanya sampai ia benar-benar bisa mengandalkan dirinya dan mampu menghadapi kenyataan. Alasan terbesar adalah karena ia tidak punya siapa-siapa di sini.

“Kau pulang saja, Aira…” kata Aldi membangunkanku dari lamunan terdalam, sambil menatap hujan melewati jendela kamarnya dan duduk di kursi rodanya. Walaupun terlihatnya tangannya lah yang terparah mengalami musibah, namun sejauh ini Aldi sangat lemah untuk berjalan, butuh waktu beberapa lama lagi.

“Aldi…udahlah…aku bosan mendengarnya, yang jelas, aku tidak akan pernah meninggalkanmu…” kataku sambil bangun dari kursi.

“Tapi kau terlalu lama menemaniku. Kasihan orang tuamu di pesisir, pasti mereka sangat merindukanmu. Situasi di sini juga sangat tidak baik untukmu…” Aldi semakin meratap.

Aku hanya menghela napas dan mengerutkan dahi. Aku bingung apa lagi yang harus kukatakan padanya agar ia tidak berkata seperti itu lagi. Entah kenapa, aku ingin ia beranggapan tak ada orang lain yang bisa seperti ini selain aku. Aku yang sahabatnya.

Tiba-tiba saja aku menyadari sesuatu yang bisa menjawabnya, dan aku yakin Aldi sudah siap.

“Bagaimana kalau kau dan aku pulang ke pesisir bersama?” aku berkata riang. Aldi diam tak menjawab dan aku meneruskan, “Kalau kau tidak yakin, pesisir itu rumahmu juga!  Kau bisa tinggal bersamaku, dan kita bisa bermain ke pantai lagi!”

Sesaat tidak ada suara, tiba-tiba Aldi ,memutar kursi roda dengan tangan kirinya dan berkata, “Aku tidak bisa dan tidak mau kembali ke sana, banyak kenangan yang membuatku frustasi…”

Aldi pergi kea rah pintu. Dengan cepat aku menghentikan kursi roda Aldi dan duduk bertumpu pada lutut.

“Aldi…Asal kau tahu, aku sangat…sangat…tidak ingin berpisah denganmu lagi, rasanya sangat tidak enak, Aldi,” aku menatapnya lembut, “…dan kenapa kau harus takut dengan kenangan masa lalumu sendiri? Kau harus menghadapi dan melawannya. Aku yakin semuanya akan terlewati jika kau menikmatinya. Berbeda jika kau terus terpuruk di sini, di sini hanya ketakutan yang membelenggumu, begitu juga aku, aku takut berada di sini. Aku ingin memori dulu, saat kita bermain di pantai, aku ingin itu, Aldi. Kau butuh suasana berbeda, orang tuaku pasti sangat senang kau datang.” Aku menatapnya lekat-lekat.

Aldi terdiam. Aku tahu ia sedang berpikir.

“Kau mau kan?” aku kembali meyakinkannya.

Aldi pun mengangguk pelan. Aku menghela napas lega dan tersenyum.

“Aku akan terus tinggal?” tanya Aldi.

“Kau akan terus tinggal, sahabatku yang baik…” kataku sambil mencubit pipinya, dan kali ini aku berhasil membuatnya benar-benar tersenyum lebar. Aldi sudah siap untuk pulang dan melupakan ini semua, aku yakin itu.

 

Dua hari kemudian aku dan Aldi sudah selesai mengemasi pakaian-pakaian kami dan barang-barang lainnya. Bahkan aku sudah mempunyai dua tiket pesawat untuk pulang hari ini juga. Senang rasanya akan kembali ke rumahku sebenarnya.

Walaupun begitu,ada rasa sedih yang mendalam karena harus berpisah dengan warga senasib di sini. Sebagian besar aku tahu bagaimana perjuangan mereka; mencari kerabatnya yang hilang, mencari bantuan, kami beribadah bersama. Miris memang menghadapi dan menjadi saksi hidup dari suatu musibah yang takkan pernah terlupakan, namun kebersamaan mengalahkan semua ketakutan itu.

Salam perpisahan kami ucapkan kepada seluruh penghuni perumahan itu, semua bahagia, semua sedih, tapi kenangan ini tak akan terlupakan.

Aku dan Aldi berangkat ke bandara. Aldi terdiam terus sampai menaiki pesawat. Memang, sebelumnya dia mengatakan cukup berat meninggalkan Aceh dan kenangannya. Tapi aku selalu menghiburnya bahwa kita pasti akan mengunjungi Aceh lagi. Dan aku yakin dengan pulang ke pesisir Aldi bisa berubah secara psikis.

Di dalam pesawat Aldi masih saja diam, ia tidak menjawab semua pertanyaanku. Aku sedikit tidak enak padanya, karena memaksanya pulang ke pesisir. Tapi itulah kurasa yang ia butuhkan, suasana yang berbeda dari biasanya.

Akhirnya aku mengikuti kemauanya untuk diam sepanjang perjalanan.

 

Kami tiba di malam hari. Aku terus mendorong kursi rodanya dan naik taksi. Akhirnya, kami tiba di pesisir.  Suasana di sini sungguh masih terlihat sama seperti saat aku tinggalkan enam bulan lalu. Tapi inilah yang sangat aku rindukan.

Aku lihat senyum tipis Aldi saat melihat pemandangan laut di malam hari yang sudah lama tak dilihatnya. Aku melihat pondok rumahku, lampu-lampu masih menyala. Pasti ayah dan ibu menungu kedatangan kami.

Dengan susah payah aku berusaha menggiring Aldi dan kursi rodanya melewati undakan-undakan teras rumahku yang terbuat dari kayu. Setelah itu aku mengetuk pintu perlahan dengan perasaan senang yang tak bisa terjelaskan, aku juga yakin Aldi merasakan hal itu.

Setelah beberapa kali aku mengetuk, pintu terbuka. Aku melihat wajah ibuku yang sangat terkejut melihatku.

“Aira!! Kau kembali!”

Ibu memelukku lembut. Pelukan itu terhenti saat ibu melihat Aldi di kursi roda.

“Aldi…” panggil ibuku lembut.

Aldi mengangguk lembut dan menyembunyikan tangannya yang hilang. Ibuku menghampiri Aldi dan menunduk menyamainya.

“Aldi…kau tidak perlu menyembunyikan tanganmu. Aku sudah mengetahui semuanya dari Aira. Tanganmu tetap tanganmu, tidak ada yang berubah dari itu. Dan Aldi tetap Aldi” hibur ibuku. Kemudian ibuku memeluknya, dan menyuruh kami masuk karena makan malam sudah ibu siapkan.

Saat aku masuk, aku dan Aldi disambut hangat oleh ayahku yang sekarang makin terlihat kurus saja, tapi tetap gagah tentunya.

Kami makan malam bersama dengan suka cita yang tak terbendung. Tapi Aldi tidak bisa menutupi kesedihannya akan tempat ini. Ia tetap saja terus tertawa dan tersenyum, namun aku tahu di hatinya ia sangat ingin menangis. Banyak topik-topik yang ayah dan ibu hindari agar Aldi tidak semain terpuruk.

 

Malam pun berlalu, pagi menjelang.

Aku bangun dan menghampiri kamar Aldi yang sudah disiapkan sebelumnya. Tapi ia tidak ada di sana! Aku mencari-carinya di seisi rumah, tapi ia tetap tidak ada. Lalu aku keluar, dan ternyata ia sedang duduk di kursi rodanya, di jembatan kayu yang biasa kami hampiri dulu. Aku bingung, bagaimana caranya dia bisa menaiki kursi rodanya ke atas jembatan kayu itu. Mungkin orang tuaku membantunya. Atau, ia berusaha sendiri, karena memang kondisi kakinya sudah bisa dipaksakan untuk berjalan, namun tetap tidak baik untuknya.

Aku menghampirinya ke jembatan kayu itu dan menyentuh bahunya.

“Di sini kau rupanya. Aku mencarimu kemana-mana.” Kataku.

“Seharusnya kau sudah tahu di mana aku” kata Aldi menatap indahnya lautan yang menampilkan landscape matahari terbit dengan cahayanya yang hangat.

Aku berdiri di sampingnya, dan ikut menatap.

“Sesuatu yang ajaib, bukan?” tanyaku. Aldi tidak menjawab.

“Aira, apa aku merepotkan orang tuamu?” tanya Aldi setelah beberapa lama.

“Tentu saja tidak…”

“Kalau aku merepotkan, aku bisa kembali ke rumah lamaku disebelah sama…” Aldi menunjuk ke pondok yang menjadi terlihat tua setelah ditinggalkan beberapa tahun lalu itu, tempat ia dan keluarganya tinggal dulu. Aku ikut menoleh.

“Hey, kau tidak perlu melakukan itu, kau hanya perlu tinggal di rumahku. Bukannya aku melarangmu, tapi kau tidak baik kalau tinggal disana, kau akan stress.”

Aldi menghela napas kesal setelah mendengar perkataanku dan dengan susah payah bangun dari kursi rodanya dan berdiri. Aku cemas melihatnya dan mendekatinya untuk membantu berdiri.

“Sudahlah Aira!!” kata Aldi keras seraya menepis tanganku yang akan membantunya, “Sudah cukup kau terlalu protektif kepadaku seperti itu. Aku ingin bebas, aku ingin mandiri, aku ingin normal. Bukan sebaliknya dibayang-bayangi olehmu. Aku tahu aku cacat, tapi bukan berarti aku tidak bisa melakukan apa-apa, kan. Dan kau tahu, aku menyesal dengan kedatanganmu ke Aceh waktu itu…”

Aku sangat terkejut mendengarnya, seperti semua dinding yang menahanku untuk tetap berdiri kokoh runtuh seketika dan menghancurkan perasaanku. Apakah ini yang selama ini Aldi sembunyikan dariku? Ia tidak suka dengan keberadaanku? Aku pun mundur menjauh dari tempat Aldi berdiri. Air mataku menetes tak tertahankan.

“Maafkan aku, Aldi…” kataku tersengguk, “…aku tak bermaksud terus membayangimu, aku hanya mengkhawatirkanmu, dan kekhawatiranku itu untuk kebaikanmu juga.”

Sesaat semuanya hening, hanya ada suara ombak dan kicauan burung pagi. Aku memberanikan diri maju dan menghampirinya lagi dan berkata, “Maafkan aku Aldi…”

Aku berbalik dan berniat untuk berlari meninggalkan Aldi dan pergi masuk ke dalam rumah, tapi tiba-tiba tangan kiriku diraihnya dan aku terpaksa berhenti.

“Tunggu, Aira…aku tidak bermaksud marah padamu. Aku hanya ingin menyatakan sesuatu.” Aldi memandangku lembut seakan merasa bersalah dengan semua perkataannya tadi. Tubuhnya yang tinggi membuatku harus melihat ke atas.

“Tapi itulah yang kau nyatakan…” kataku mencoba pergi lagi, tapi ditahan lagi olehnya.

“Tunggu, Aira…ada yang mau aku katakan padamu.” Aldi memejamkan matanya.

“Apa?” tanyaku masih berlinang air mata.

“Aku…” ia berhenti, “Sebelumnya aku meminta maaf padamu atas apa yang aku katakana tadi. Dan aku mau berterima kasih padamu, atas semua yang telah kau lakukan dengan tulus untukku. Aku menyadari, seandainya tidak ada kau mungkin aku sudah menjadi gelandangan. Betapa bodohnya aku berkata kasar padamu…” Aldi menunduk dan melepas genggamannya dari lenganku.

Sebenarnya aku sangat bingung, apa yang mau ia katakan.

“Tidak apa-apa…dan aku melakukannya sepenuh hati.” Kataku memulih. Belum pernah aku sedekat ini dengan Aldi, rasanya juga sangat aneh dalam suasana ini.

“Aku…” Aldi melanjutkan, “Aku tahu aku sangat tidak pantas untukmu, sekalipun sebagai sahabat. Kau sahabat terbaikku yang pernah aku miliki di dunia ini. Aira, gadis pesisir, dan aku Aldi si anak pantai, yang cacat tentunya.” Aldi tersenyum kaku sambil melihat tangannya yang tak ada dan aku terus menatapnya.

Aku terus menunggu dan kata-kata itu pun mengalir terucapkan dari mulut Aldi.

“Aku…mencintaimu, Aira…dengan perasaan yang berbeda…”

Aldi sangat gugup dan aku sangat terkejut mendengarnya. Aldi mencintaiku dengan perasaan yang berbeda?

“Tapi kau tidak boleh mencintaiku juga, dan kau hanya boleh menjadi sahabat baikku…” Aldi terlihat bingung.

Lalu ia mendekat perlahan dan mencium keningku dengan lembut. Mungkin saat-saat itu hanya beberapa detik yang aneh, membuat aku dan Aldi memejamkan mata menikmati suasana yang tercipta ketika kecupan itu mendarat di keningku.

Aldi langsung pergi dan sedikit berlari dengan tertatih penuh usaha untuk melakukannya dengan kaki yang sakit. Tapi ia tak kembali ke rumahku, ia kembali ke rumah lamanya dan menutup pintu dari dalam dengan kencang. Rumah itu terlihat gelap.

Aku masih terpaku di jembatan kayu yang penuh kenangan. Lalu aku melangkah ke ujung jembatan, menatap matahari pagi yang semakin terang benderang dengan perlahan dan menangis tersedu-sedu.

 

DA 260913

Sesuatu yang Ajaib

Teman sejati itu memang ada. Itulah yang aku rasakan kini. Aldi, ialah teman sejatiku, yang setia menemaniku kapanpun. Walaupun terkadang sulit untuk mejabarkan arti sebenarnya teman sejati di jaman sekarang, aku bersyukur tetap menemukannya.

Di pesisir patai inilah aku dan keluargaku, juga keluarga Aldi tinggal. Keluargaku dan keluarga Aldi sangat akrab. Aku sudah lima tahun tinggal di sini. Sungguh tempat yang indah dan terasa milik kami, karena memang hanya keluargaku dan keluarga Aldi yang tinggal.

Persahabatanku dengan Aldi sudah berusia sama dengan selama aku tinggal disini. Memang terlihat janggal disini, berteman dekat dengan seorang lawan jenis. Gejolak remaja justru mengajarkan kami akan jalannya persahabatan yang benar. Sebagai seorang perempuan malah terasa terlindungi berteman dengan laki-laki, karena ia sangat baik menurutku.

“Aira…” panggil Aldi di balik pohon belakang rumahku yang pintunya terbuka.

Aku menoleh dan tersenyum. Aldi, lelaki yang seusia denganku sekitar 14 tahun itu terlihat lucu memakai kaus oblong dengan celana pendek khas anak pantai.

Aku menghampirinya, “Ada apa, Di?”

“Kau sedang tidak sibuk kan?” tanya Aldi berbisik. Aku jawab singkat dengan gelengan.

Ia langsung menarik tanganku dan mengajakku berlari. Rok yang aku pakai terkibas angin sore yang kencang. Dihiasi dengan tawa riangku dengannya. Sebenarnya aku sudah tahu mau dibawa kemana oleh Aldi. Itu merupakan kebiasaan kami setiap sore, namun tetap berkesan.

Akhirnya kami tiba di sebuah jembatan kayu yang menjorok ke laut. Aldi naik terlebih dahulu dan membantuku menaiki papan kayu itu. Tanganku diraihnya.

Ya…benar. Aldi ingin menunjukkan lagi kepadaku matahari sore yang akan terbenam. Aldi tidak pernah bosan menunjukkannya. Karena menurutnya, ini adalah sesuatu yang ‘ajaib’. Dan sampai saat ini aku tidak pernah tahu maksud dari kata ‘ajaib’ itu. Menurutku, itu adalah kebesaran Tuhan, kan.

Kami pun duduk di ujung jembatan yang tak menghubungkan apapun itu. Kaki kami tergantung di jembatan dan menikmati percikan air.

“Kau lihat itu, Aira? Keajaiban datang lagi…” kata Aldi yang tatapannya menuju matahari sore yang berwarna oranye dan cahayanya yang datang langsung berhadapan dengan kami terasa hangat menerpa wajah.

Aku hanya menggelengkan kepala perlahan dengan senyum kagum. Selalu itu yang ia katakan. Tapi aku takkan pernah bosan, karena kata-kata itu begitu lembut terdengar.

Matahari pun perlahan terbenam. Sangat indah. Warna oranye bercampur jingga yang membuatku gemas ingin menyentuhnya. Tapi pertemuanku dengan Aldi kali ini sangat terasa berbeda. Sikapnya yang tidak seperti biasa, cara dia menatap matahari…semuanya.

Maghrib terdengar di ujung pendengaran. Detik-detik terbenamnya matahari merupakan saat-saat yang indah dan spesial, karena hanya berlangsung dalam beberapa detik, namun sangat istimewa. Dengan inisiatif aku dan Aldi pulang. Sebelum masuk ke rumah yang tak jauh dari pantai, aku melambaikan tangan pada Aldi. Tapi ia tak membalasnya. Ada tatapan sedih mendalam di wajahnya. Tatapan yang membuatku iba dan ingin kembali merangkulnya. Tapi biarlah, mungkin Aldi sedang ada masalah dengan keluarganya, dan itu bukan ranahku untuk mengetahuinya.

 

Malam itu pun terlewati dan pagi yang cerah datang. Aku terbangun di pagi yang indah, meregangkan seluruh tubuh dan tanganku dan segera keluar kamar.

Aku melihat ayah dan ibuku di meja makan. Mereka terlihat murung dan diam. Ada apa ini? Aku menghampiri mereka dan bertanya kepada ibuku sambil meminum segelas air yang kuambil terlebih dahulu.

“Ada apa, bu?”

Beberapa saat ibuku tetap terdiam dan menjawab, “Seharusnya kau bangun tadi subuh.”

“Memangnya kenapa?” aku terheran.

“Aldi dan keluarganya pergi…” ibu menatapku.

“Loh, itu wajar kan? Kan memang Aldi selalu ikut ayah dan ibunya ke pasar untuk menjual ikan.”

“Tapi mereka tak akan kembali, mereka pindah ke Banda Aceh. Mereka menetap disana.”

Spontan gelas plastik yang kupegang terjatuh dan menumpahkan airnya. Hal itu mengagetkan ayahku. Ya Tuhan? Aldi pergi? Sahabatku? Kenapa ia tidak mengucapkan salam terakhir untukku dan pergi begitu saja?

“Tapi ia memberikan ini untukmu,” Ibu menyodorkan sepucuk surat untukku. Dengan amplop berwarna biru kesukaanku. Aku mengambilnya dengan tangan sedikit gemetar. Dengan cepat aku membukanya. Aku tahu  pasti bahwa ini tulisan Aldi. Dan surat itu berbunyi…

“Aira. Maafkan aku, Aira. Cukup jelas aku harus pergi dan tinggal di Aceh. Mungkin saat kau membaca surat ini, aku sedang berada di pesawat menuju Aceh sekarang. Ayahku pindah untuk bekerja disana. Seandainya aku bisa menolak, aku tak akan mau pindah kesana, Aira. Mungkin akan sulit bagiku menemukan teman baru disana, khususnya seperti dirimu. Sekali  lagi maafkan aku, Aira. Selamat tinggal pesisir terindah. Selamat tinggal, Aira…”

Aku benar-benar terpaku. Tak terasa air mataku menetes dan membasahi surat dari Aldi. Aku masuk ke kamarku. Terdengar suara ombak yang menghancurkan. Seperti hatiku yang kini telah hancur. Aku tak menyangka, ternyata senja kemarin adalah senja terakhir untukku dan Aldi? Hal itu ternyata yang membuatku bingung dengan sikapnya. Apa yang bisa aku lakukan sekarang tanpanya? Ia juga tak memberitahuku kapan ia akan kembali. Apakah karena ia tak akan kembali? Aku terus saja menangis. Tapi tak ada yang bisa kutakutkan. Sampai akhirnya air mata itu pun habis dan terlupakan.

 

Sudah enam tahun Aldi tidak tinggal lagi disini. Pasti ia sudah besar sekarang, layaknya aku yang telah menjadi gadis dewasa.

Aku duduk menatap senja dari jendela kamarku. Teringat Aldi. Tapi aku berusaha untuk tidak mengingatnya, karena pasti air mataku pecah lagi.

Kini aku menatap layar TV di ruang tengah. Dan aku sangat terkejut. Disana, di setiap stasiun tv aku melihat berita yang terus membicarakan tentang bencana tsunami di Aceh. Aceh!! Itu tempat tinggal Aldi! Banyak warga Aceh yang meninggal dunia, bahkan tak terhitung jumlahnya. Apa termasuk Aldi? Keluarganya? Ya Tuhan…pikiran-pikiran aneh mulai menggerayangiku.

Perasaanku pun  bergejolak. Niat gilaku langsung muncul untuk menyusulnya ke Aceh, karena aku yakin tak mungkin Aldi benar-benar tidak mengalami hal yang sulit. Aku ingin tahu keadaannya. Aku sahabatnya, aku harus tahu. Lagi pula aku sudah besar, aku bisa pergi ke sana sendiri, bagaimana pun kondisi tidak aman yang masih bergejolak di sana.

Aku meminta izin kepada ayah dan ibu pada hari itu juga. Walaupun sempat bertengkar dan melarangku pergi karena aku telah memutuskan hal ceroboh, tapi mereka melihat sesuatu yang tulus di mataku dan rasa ingin tahu yang besar atas suatu ketidakjelasan. Aku yakin aku harus pergi untuk tidak menggantung hatiku.

Dengan cepat aku segera mempersiapkan keberangkatanku yang sudah bisa kulakukan esok hari walaupun penuh kesulitan untuk mengurusnya. Untung saja larangan terbang dan mendarat di Aceh belum langsung di sosialisasikan dengan tegas saat itu. Bagiku ini sangat penting dan mengganjal hatiku sampai aku harus melakukan ini secepatnya.

Esok paginya aku berpamitan dengan ibu dan ayahku, aku membawa beberapa pakaian saja agar tidak merepotkan diri sendiri di sana.

Setelah beberapa jam menaiki pesawat dengan perasaan berkecamuk dalam dada, akhirnya aku sampai di bumi Aceh. Tercium bau ‘kematian’ dimana-mana, aku sangat menyadari hal itu. Suasana menegangkan langsung menghantuiku. Mayat yang tergeletak di mana-mana dan masih dalam proses evakuasi, sampah-sampah rumah tangga yang tak terbendung menumpuk di berbagai sudut jalan seperti lautan sampah. Merasa sadar atau tidak, sepertinya aku sempat melihat seonggok lengan terdampar mengenaskan di salah sudut itu. Namun aku berusaha menguatkan diriku dan berkonsentrasi dengan tujuanku datang kesini. Mengatasi trauma bisa aku lakukan nanti.

Di Aceh, aku tahu alamat Aldi berada, sebelum berangkat ibu memberitahuku yang katanya ia tahu dari ibu Aldi sebelum beberapa tahun lalu meninggalkan pesisir, tapi ia tak pernah memberitahuku. Apakah rumah Aldi telah hancur diterpa tsunami? Semoga saja tidak.

Tak terbayang olehku, sudah enam tahun aku tidak bertemu dengan Aldi dan sekarang aku akan menghampirinya dalam keadaan seperti ini. Tuhan selalu memberikan kejutan tak terkira dalam setiap kehidupan manusia-Nya, baik suka maupun duka.

Aku terkejut, saat aku sampai di alamat yang aku tuju setelah menaiki kendaraan evakuasi yang terus berpatroli menyelamatkan warga. Dan nyatanya, rumah itu telah rata dengan tanah tanpa aku tahu bagaimana dulu bentuknya. Tapi pikiranku tak terhenti sampai disitu, aku langsung mencari Aldi di tenda-tenda pengungsian darurat. Aldi –jika memang ia terluka- pasti ada ditenda terdekat, atau mungkin terjauh.

Tenda pertama, tidak ada. Tenda kedua, juga tidak ada. Pencarian di beberapa tenda itu sangat membuatku shock, miris dan sedih yang amat mendalam menghadapi ini semua. Aku melihat mayat, orang-orang yang terluka parah, anak kecil yang mencari kedua orang tuanya, semuanya begitu memilukan tanpa bisa aku membantunya.

Namun aku tak berhenti. Aku sampai di tenda ke tujuh, tenda terakhir yang sedikit membuatku lebih jauh dengan lokasi yang pertama kudatangi. Dan aku menemukan sosok itu, sosok yang sangat mirip dengan Aldi yang kukenal di masa kecil, namun tampak berbeda. Itulah dia, itu memang Aldi, tergeletak di ujung ruangan tenda buatan ini di atas sebuah meja yang kelihatannya adalah sebuah meja makan yang terpaksa harus dijadikan tempat tidur sementara.

Ia tampak berbeda, wajahnya penuh goresan luka, terlihat sekali penderitaannya karena musibah ini. Perasaanku kini senang karena bisa kembali bertemu dengannya, sangat senang. Tapi juga begitu sedih karena harus bertemu dengannya dalam keadaan situasi seperti ini.

Kulihat seluruh bahunya yang berbalut perban dan sebelah tangannya tertutup kain. Aku memberanikan mendekat dan menyentuhnya. Ia terbangun. Air mataku terjatuh. Ia membuka mata perlahan. Aldi terkejut melihatku, ternyata ia cukup cepat mengingat dan mengenalku kembali.

“Aira…kenapa kau datang?” kata Aldi terbata-bata.

“Aku ingin menjemputmu..” aku mulai terisak.

“Aku tidak pantas lagi untukmu.”

Aku heran mendengar perkataannya. Tidak biasanya ungakapan ketidakpercayadirian keluar dari mulutnya selama aku mengenalnya. Tidak mungkin enam tahun mampu mengubah itu.

“Kenapa?” tanyaku sambil memegang erat pada pinggir meja yang sekarang menjadi alas terbaringnya Aldi.

Lalu ia membuka kain putih yang menutupi lengannya. Aku tersentak kaget melihat apa yang baru saja aku lihat. Tangan kanannya telah hilang, tidak ada. Dan banyak darah merembes pada balutannya. Aldi melanjutkan kata-katanya.

“Kau ingat tentang keajaiban?” kata Aldi dan kubalas dengan anggukkan yakin, “Aku sangat mengagumi matahari. Matahari sangat ajaib, pagi hari ia datang, sore hari ia pergi.” Aldi terdiam sesaat. “ Aku selalu menganggap aku ini ajaib memilikimu, meraih dan menarik tanganmu dengan senang dan melepas tanganmu dengan sedih. Tapi kini aku tak ajaib lagi, karena sekarang aku tidak bisa melakukannya, aku tidak bisa menyentuh tanganmu. Arus air itu menghilangkan tanganku, tapi aku juga tidak ingin menjadi hamba yang murka terhadap Tuhannya. Aku tidak seperti dulu lagi, Aira…” Aldi menangis.

Pertemuan ini seakan mengumpulkan pikiran kami jadi satu tanpa mengingat semua kejadian bencana yang baru saja terjadi. Seakan melupakan rasa syukur atas pertemuan berharga ini.

Lalu aku lebih mendekat, terduduk menopang pada lututku untuk menyamainya dan berusaha mengerti. Ia kehilangan tangannya, itu yang kutahu. Kini ia terpuruk, dan jelas masih belum bisa menerima keadaannya. Aldi…andai aku bisa menggantikanmu yang sedang sedih, aku bersedia, demi membuatmu tersenyum kembali. Tapi aku tahu apa yang harus dan bisa aku lakukan, yaitu menjadi dirinya.

“Aldi…” panggilku sambil menggenggam tangannya yang lain, “…jangan pernah salah berucap.” Aku berusaha tegar tanpa tangis yang kutahan, “Hal yang ajaib akan terus ajaib, mutlak dan tak bisa dijelaskan. Kalau kau percaya keajaiban itu, matahari tak akan pernah kehilangan seberkas pun cahayanya hanya karena mendung dan hujan. Tapi cahaya itu tetap disana dan tetap bersinar, tak pernah hilang. Percaya itu, Di…” air mataku tak terbendung, berusaha menjadi lebih kuat di tengah kondisi ini. Riuhnya keramaian pada tenda pengungsian itu tak membuat percakapan kami kehilangan makna bagi kami berdua.

Aku terus memegang tangan kirinya erat, “Kau sahabatku, si Aldi anak pesisir.” Aku mengembangkan senyum menahan tangis yang tak boleh lebih hebat lagi, “Kau tetap sahabatku itu, apapun dirimu dan keadaanmu sekarang, kau tetap Aldi yang kukenal, …Aldiku itu. Dan aku juga tetap sahabatmu yang tak akan pernah meninggalkanmu. Mulai sekarang kau harus berbagi padaku, aku disini untukmu, Aldi. Tak perlu kau bingung. Kau tahu, hanya sahabat yang indah. Sekarang, aku yang akan menjadi ajaib untukmu, menjadi mataharimu…”

Air mataku pun berlinang.

OLD SCRIPT WITHOUT CHANGES

DA 210913

“A Real Man…”

“Tos…” kata Romy memulai.

Dentingan gelas terdengar begitu kecil saat mereka beradu di tengah meriah dan gemerlapnya ruangan penuh sesak manusia yang berpesta pora penikmat suasana tengah malam Jakarta di salah satu tempat hiburan malam . Disanalah Jay dan Romy duduk bersama di depan meja bar, menikmati minuman penghilang penat. Disanalah pula dua sosok lelaki sosialita Jakarta yang sibuk menguntai cerita dibalut kemeja dan jins .

“Je…” panggil Romy lembut sambil menaruh tangan dan di bahu Jay yang sedang meminum sedikit demi sedikit, “ …gak nyangka ya kita udah selama ini.”

“Apanya My…?” jawabnya dengan panggilan kesayangan.

“Hubungan kita…”

Jay tertegun. Ya, tak terasa hubungan unik dan penuh ketidakjelasan antara mereka ini sudah berjalan lima tahun. Hubungan yang tak semestinya, gelagat yang tak semestinya. Tak terasa semua itu berjalan cukup lama dan tak hanya sesederhana itu. Rasa cinta dan sayang diantara mereka tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, hanya bisa dengan emosi. Hal-hal yang terlarang justru membuat pasangan ini semakin berani untuk menumbuhkan rasa diantara mereka. Perhatian sosial sudah tidak menjadi batu ganjalan untuk hubungan semacam ini, dan akan terus lumrah terjadi seiring banyak yang melakukanya.

Namun disitulah ada yang berbeda, ya, disana, hati kecil Jay yang masih bisa mengatakan ini salah, ditengah minimnya dukungan untuk menyatakan semua ini benar. Lima tahun yang aneh baginya, mencintai dan dicintai dengan cara yang berbeda. Bahkan dalam memperlakukan dirinya sendiri. Tapi tak bisa dipungkiri, Romy adalah separuh dirinya. Lima tahun bukanlah waktu yang singkat, lima tahun bukanlah waktu yang tidak berarti. Cinta menguasai mereka, dua lelaki yang belum pernah merasakan cinta seorang wanita. Tapi perasaan bersalah bukanlah kendala itu. Diamnya Jay membuat Romy bingung.

“Kamu kenapa, sayang?” Tanya Romy.

“Gak apa-apa,My…” balas Jay senyum.

“Mmmmm…mungkin kamu kecapekan ya ngurus distro kamu?Gimana kalo ke rumah aku?”

“Kayaknya aku gak bisa My, aku mau tidur di rumah aja…” kata Jay menaruh gelasnya ke meja.

“Pleasee…”

Jay tak pernah bisa memosisikan dirinya  untuk bisa menolak. Hal yang tidak bisa dilakukan adalah ketika Romy menunjukkan ekspresi itu, ekspresi memelas, menatapnya dalam dan memegang lengannya sekeras itu tanda memohon.

“Oke…” hanya itu yang bisa dikatakan Jay.

 

Di lain tempat dalam waktu yang sama, ayah Jay masih terjaga. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 1 pagi. Walaupun sudah menjadi duda sejak 15 tahun yang lalu dan berusaha melaksanakan peran seorang ibu dan seorang ayah sekaligus sejak Jay masih berumur 14 tahun, ia tetap memberikan perhatian terbaiknya pada anak semata wayangnya itu.

Ia berdiri menikmati dini hari yang dingin itu di teras rumahnya, sambil menatap pekarangan rumahnya yang kian kotor dipenuhi daun berguguran dari pohon mangga yang ia rawat. 60 tahun hidupnya terasa menjadi berat saat tak ada sosok wanita yang mengurusnya. Kali ini tak ada yang bisa membantunya mengurus rumah, selain dirinya sendiri, dan mengharapkan Jay. Namun Jay tak pernah menunjukkan itu.

“Kemana itu anak…” gumamnya sambil menggaruk-garuk bahunya dan menahan rasa dingin malam itu.

Semenjak Jay berhasil membangun distro pakaian lelaki 2 tahun terakhir ini, tak bisa dielakkan mengharuskan Jay pulang larut malam, bahkan tidak sama sekali. Ayah Jay tak bisa melarang lagi, Jay sudah cukup tahu kebaikan dan keburukan untuknya.  Namun kebiasaannya menunggu kepulangan Jay setiap malam yang tanpa kabar itu tak pernah ia hilangkan. Hati dan jiwanya akan lebih tenang saat melihat Jay datang kembali melewati pintu pagar rumah sederhana itu dan mengetuk pintu dengan lembut, mencium tangan ayahnya dan pergi ke kamarnya. Ya, ke kamarnya, ruangan yang tak pernah didatangi ayah Jay. Bukan karena tidak mau, bahkan keinginan itu sangat besar, dapat melihat bagaimana anak lelakinya menata kamarnya, kehangatan kamar itu. Tapi Jay bersikeras selalu melarang ayahnya pergi ke ruangan pribadinya itu tanpa memberikan alasan mengapa.

Disitulah ayah Jay tertegun. Kenapa tidak? Pikirnya. Dengan mantap ia melangkahkan kaki masuk ke dalam dan berjalan ke pintu kamar Jay. Ketika sampai di depan pintu berwarna putih itu, ayah Jay terdiam dan hanya memandangi daun pintu, memikirkan sekali lagi tindakan yang akan dia lakukan. Ayah Jay selalu memikirkan perasaan anaknya, tak pernah ia mengecewakan Jay dengan sebuah janji. Tapi ini semua untuk apa? Terkadang ia merasa aneh, kenapa seorang ayah perlu takut untuk masuk ke kamar anaknya sendiri.

Ayah Jay pun membuka pintu perlahan, entah kenapa menjadi sedikit mencekam dengan perasaan aneh seperti itu yang menyelimuti hati seorang ayah kandung memasuki kamar anaknya yang tak pernah ia masuki. Wangi lavender pengharum ruangan langsung menghampiri hidung ayah Jay. Setelah pintu ia buka lebar-lebar, terlihatnya sebuah kamar yang rapih dengan dinding berwarna merah hati yang elegan. Setidaknya warna cat kamar ini sering dilihat sendiri oleh ayah Jay dari kejauhan. Sebuah rak buku setinggi  badan orang dewasa  memojok di sudut ruangan, tak ada ruangan disana untuk buku baru karena terlihat begitu penuhnya urutan buku itu. Ayah Jay tak menyangka anaknya adalah seorang pembaca buku. Tak jauh dari sana, terpajang sebuah lukisan berpigura emas yang mengkilap, sebuah lukisan abstrak yang sarat makna. Sebuah PC juga tertata dengan rapi beserta perangkatnya. Ayah jay melangkah lebih jauh masuk ke dalam kamar. Pandangannya yang terus mengelilingi seisi ruangan tiba-tiba berhenti di satu sisi menuju sebuah buffet yang membentuk siku-siku di sudut ruangan dekat jendela. Buffet itu penuh dengan pajangan-pajangan foto. Ayah Jay melangkah mendekatinya. Senyumnya terkembang saat melihat semua foto-foto yang terkemas rapi pada pigura kecil. Ia mengambil sebuah pigura pertama, disana ada sepasang wajah yang sangat ia cintai, almarhumah istirinya sedang menggendong Jay saat ia masih kecil di sebuah taman hiburan bermain Jakarta dengan background pepohonan dan rumput hijau, mungkin Jay masih 2 tahun saat itu. Tempat itu menjadi tempat yang sering dikunjungin keluarga kecil ini setelahnya. Ekspresi yang tulus, memancar dari wajah istrinya yang masih sehat saat itu.Terlihat betapa bahagianya mereka berdua. Air mata tak sengaja membumbung di mata ayah Jay, seakan menyesal kenapa tak ada dirinya disana. Namun melihat kebahagiaan itu terasa begitu cukup memekarkan hatinya yang rapuh. Ia taruh foto itu kembali di tempatnya.

Foto lain di sebelahnya pun tak kalah membuat ayah Jay berseri-seri, seakan tak percaya Jay menyimpan dan memberikan arti pada semua foto-foto ini. Ada si kecil Jay disana, berpakaian seragam pilot yang masih kebesaran. Ayah Jay ingat saat itu ketika umur Jay 6 tahun, Jay sering mengatakan bercita-cita ingin menjadi pilot, sehingga ayah Jay ingin memberikan kebahagiaan kepada anaknya dengan mengikutsertakan Jay pada lomba 17 Agustus di daerah rumahnya. Betapa lucu dan gagahnya Jay di foto itu, berpose sendiri dengan tegap dengan ekspresi serius. Dalam pandanganya ayah Jay tak sanggup menahan air mata untuk jatuh di pipi, tapi tak ia hapus. Ia usap foto itu seakan ingin segera memeluknya jika Jay dewasa berada di hadapannya sekarang.

Ia taruh foto kedua itu. Dengan semangat yang sama ia terus memperhatikan foto-foto yang terpajang disana. Foto saat Jay dan ayahnya ketika bermain gitar bersama di sebuah acara keluarga, foto Jay sedang mendesain baju di depan ruang tv, foto ayah Jay sedang tertidur. Semua itu kenangan-kenangan yang tak disangka sangat berarti untuk Jay, anaknya yang begitu dingin dan tak banyak bicara.

Sampailah pandangan Jay di ujung buffet itu. Terdapat sebuah kotak hitam yang cukup besar dan tidak tertutup. Ayah Jay melihat ke dalamnya, banyak pigura-pigura foto yang terbalik. Ayah Jay heran kenapa foto-foto ini tidak dipajang dengan foto-foto yang lain. Ia pun mengambil salah satu pigura itu. Saat membalikannya, sebuah foto Jay dan Romy yang saling merangkul di bahu dan tertawa bersama.

“Oohh, foto Jay sama teman-temannya…” Ayah Jay melihatnya seksama.

Sambil memegang foto itu, ia mengambil foto yang lain dari dalam kotak itu, yang ini lebih besar. Saat membalikannya, terpampang foto Romy dan Jay sedang olahraga gym bersama. Ayah Jay tertegun, karena kali ini gelagat di foto ia rasa mulai aneh. Ia mengambil foto-foto yang lain ; Jay dan Romy sedang membereskan stok baju di distro Jay, gambar mereka foto di kamar mandi hotel, foto mereka berjemur di pantai dengan memakai underwaer. Semua pigura itu berisi foto mereka.

Ayah Jay semakin cepat mengambil dan melihat semua gambar yang membuatnya terkejut itu, sampai ada yang berjatuhan dan tak diambil olehnya. Tanpa disadari tangan ayah Jay gemetaran menahan rasa kejut dan panik yang muncul tiba-tiba itu. Ekspresi bahagia dan bangga yang baru beberapa menit lalu terpampang jelas di wajahnya, kini digantikan amarah dan kecewa yang begitu dalam. Ia memperhatikan semua foto-foto yang banyak itu terus menerus bergantian, seakan berharap apa yang ia lihat adalah salah dan tidak akan mungkin terjadi. Semua foto itu mengarah pada kesimpulan yang tidak ia harapkan selama ini.

“Ternyata ketakutanku benar…”

Ayah Jay memandang keluar jendela, malam gelap gulita yang diliputi dingin yang menusuk. Malam terburuk baginya, saat Jay tak kunjung pulang. Tak pulangnya Jay kali ini terasa berbeda setelah semua gambar itu berputar-putar di kepalanya.

Rasa sakit yang sudah tidak pernah hadir sejak beberapa tahun terakhir kini kembali menusuk di dada ayah Jay. Sontak ia memegang dada kirinya yang seakan tertarik. Ayah Jay terhempas duduk di tempat tidur Jay. Kepanikannya memuncak, rasa sakitnya semakin mendalam sampai ia sulit untuk mengatur nafasnya. Dengan sekuat tenaga ia menghampiri telepon yang terletak di samping buffet, dan berusaha menekan beberapa tombol nomor.

Ayah Jay tak sanggup mengangkat tangannya ke telinga saat nomor itu mulai terhubung, ia tak kuat menahan tubuhnya dan ia terjatuh. Membuat kotak yang menampung semua foto-foto Jay dan Romy jatuh dan mengeluarkan seisi kotak itu menjadi berantakan. Ayah Jay tersungkur dan memejamkan mata.

 

Di tempat yang berbeda, apartemen Romy yang sarat akan mode menjadi saksi rutinitas mereka dalam memadu kasih. Romy dan Jay tidur di satu ranjang yang sangat nyaman dan berselimut tebal.

“Kamu gak lepas baju? Gak mau sekarang?” Tanya Romy memandang Jay sambil menyanggah kepala di tangan kanannya.

“Sebenernya aku lagi males, My..” balas Jay tak menoleh.

“Males? Males kenapa sih? Kamu bener-bener ada masalah ya?”

“Enggak juga sih…”

“But hey…this is our 5th anniversary, beib…” kata Romy sambil mengelus lengan Jay yang menopang kepalanya .

“Sebenernya hubungan kita mau dibawa kemana sih My?” suasana tegang seakan langsung menghampiri ruangan itu saat Jay menanyakan hal itu.

Diawali dengan diam yang cukup lama, Romy menjawab, “ Yaa…semestinya kamu gak perlu tanya hal itu baru sekarang. Kenapa gak dari awal…”

“Mesti dong, My…” Lagi-lagi Jay tak menoleh.

“Kita tahu persis apa yang kita lakuin, Je…” Romy berusaha meyakini, “…dengan apa yang udah kita lewatin dan rasain, untuk apa kita pikirin ujungnya hubungan kita? Toh aku akan selalu sama kamu, Je…”

Jay terdiam. Berusaha mencerna semua kata-kata itu. Berusaha bertanya kepada diri sendiri, apa yang membuatnya menjadi galau dan ragu akan hubungan tak pernah rumit ini, yang selama lima tahun adalah waktu yang indah bagi mereka berdua. Dan kenapa baru sekarang. Ini adalah masa-masa yang aneh bagi Jay, melihat dirinya ke belakang dan lebih mendalam namun pada saat ia sudah matang dan sulit untuk berubah.

            Tiba-tiba Romy merubah posisi tubuhnya, ia mendekat menghampiri tubuh Jay dan memeluknya . menaruh kepala di dada Jay dengan lembut.

“Aku percaya kamu, Je…”

Jay memejamkan mata sejenak untuk merasakan kata-kata itu.

Romy dengan perlahan tapi pasti melepaskan kancing Jay satu per satu, memasukkan jari jemarinya dan menyentuh kulit Jay yang halus. Membelai-belai dengan penuh sayang dan hasrat yang memuncak. Dengan tanpa keraguan sentuhan Romy terus menjalar dari atas sampai bawah tubuh Jay, menimbulkan getaran-getaran yang tak terjelaskan bagi Jay. Dikecupnya sekujur tubuh Jay. Jay sangat menikmati saat tangan Romy tak pernah pergi dari kemaluannya, seakan membawa otak dan pikirannya pergi  dari tempat itu. Malam itu pun seindah malam-malam lainnya dengan keindahan dua insan dengan caranya yang berbeda.

Malam itu terasa begitu panjang bagi Jay dan Romy. Selesai dengan urusan masing-masing adalah tujuannya. Jay melepas dekapannya dari tubuh Romy yang menghadap ke arah lain. Romy mungkin cukup lelah untuk tetap terjaga. Jay kembali menatap langit-langit kamar, pikiran kosong namun bergerak cepat dalam benaknya.

Entah kenapa pikiran itu sampai di masa lalu, yang tak pernah ia kira sebelumnya. Tayangan kejadian di masa lalu seakan terulang kembali dalam daftar kenangan buruknya yang tak pernah dia inginkan. Jay teringat saat hari dimana ayahnya melakukan hal yang sangat membuatnya marah, namun diawali dengan hal yang mengesankan. Beberapa tahun lalu sebelum mengenal Romy, Jay memang sangat kesulitan mendapat pasangan hidup yang sesuai. Bukan karena tidak pernah ada yang menghampiri, entah kenapa Jay adalah sosok yang pemilih saat itu. Hubungan asmara bukan hal prioritas dalam hidupnya. Hal itu yang menggerakan ayah Jay sengaja mengajak anak semata wayangnya itu ke tempat hiburan malam dengan alasan menghabiskan waktu berdua dengan anaknya dengan cara yang berbeda tanpa ada hal yang ditutup-tutupi antara ayah dan anak. Jay cukup kurang pergaulan saat itu, tak pernah sebelumnya dia menginjakan kaki di tempat seperti itu. Walaupun canggung Jay tetap berusaha percaya diri demi menyenangkan hati ayahnya.

Disana mereka makan dan minum bersama. Saling menceritakan pengalaman hidup masing-masing sambil mengomentari sekeliling yang ramai dan penuh kegembiraan. Ternyata ada rencana dibalik itu semua. Ayah Jay telah meminta pertolong seorang wanita cantik, menarik, dan terbaik di kalangannya untuk menemani Jay semalam di salah satu hotel. Memang terdengar aneh karena ini adalah permintaan seorang ayah yang menurutnya untuk  kebaikan anaknya. Tak ada alasan jelas kenapa ayah Jay melakukan itu semua, mungkin ketidakpercayaan dengan istilah jodoh pasti bertemu untuk kategori orang seperti Jay di masa itu.

Jay tak pernah tahu ayahnya membawa kemana setelah mereka menikmati hiburan malam saat itu. Tapi mobil mereka sampai di sebuah hotel berbintang di Jakarta. Tak pernah sebelumnya ayah Jay mengajak anaknya bermalam di tempat lain selama masih punya rumah dan bukan saat-saat liburan. Disana mereka tak melakukan pemesanan kamar, namun langsung menaiki lift dan sampai di lantai 5 mereka mengetuk pintu salah satu kamar. Keluarlah seorang wanita cantik, putih, berambut pendek seleher berwarna hitam pekat menyambut kedatangan mereka.

“Pa…ini siapa? Mama baru?” Tanya Jay lugu bercampur heran dan sindiran untuk ayahnya ditengah suasana canggung saat pintu itu terbuka dan menampilkan sesosok wanita muda yang cukup tinggi semampai layaknya model professional.

“Mmm..bukan untuk papa, tapi untuk kamu…” singkatnya.

“Maksudnya?” Jay mengernyitkan dahi.

“Papa tinggal dulu ya, kamu tunggu di dalam aja..” Tak memberi kesempatan pada tanggapan Jay, ayah Jay langsung berlalu dengan senyuman kepada wanita itu.

“Pa?” panggil Jay setelah ayahnya beranjak.

“Yaudah…tunggu didalem aja..” ajak wanita itu.

Jay tak menjawab.

“Udah gak apa- apa, pasti papa kamu lama…” wanita itu menarik lembut tangan Jay agar dia masuk. Jay tak kuasa menolaknya. Ia masuk sambil berusaha melepaskan genggaman wanita itu dari lengannya.

Tanpa menoleh Jay mendengar pintu di belakangnya tertutup. Tak lama wanita itu berjalan mendahuluinya. Pakaian wanita itu seakan suatu kesengajaan, piyama putih selicin plastik ditambah dia terlihat tak memakai pakaian dalam membuat Jay justru sedikit jijik.

“Namaku  Tania…panggil aja aku Nia” mulai Nia sambil mengambil sebuah gelas bening dan meminum isinya. Nia menghampiri Jay dan mengelilinginya seakan ingin menginterogasi lelaki itu. Suaranya yang berat membuat Jay justru benar-benar merasa takut, wanita macam apa ini. Mungkin karena rokok, pikir Jay.

“Duduk?” tawar Nia sambil menunjuk tempat tidur yang masih tertata rapi.

Tanpa mengangguk dan berkata, Jay menghampiri kasur itu dan duduk. Ia berusaha santai dan gugup. Ia sangat heran kenapa mau masuk ke tempat ini, terlebih lagi tindakan ayahnya yang pergi begitu saja.

Nia menghampiri Jay dan duduk di sebelahnya. Jay merasa kurang nyaman dengan tindakan itu. Gelas yang dipegang Nia ia taruh di bawah dan langsung menatap Jay sangat dalam, dan semakin rapat mengatur posisinya. Tiba-tiba saja tangan Nia mengelus-elus punggung Jay yang terasa sangat hangat. Tangan Jay hanya terus terlipat di pahanya sendiri. Namun Nia mampu memanfaatkan kondisi itu, dipegang erat tangan Jay yang tak berkelit namun setelahnya terus berjalan menelusuri lengan, bahu dan leher Jay yang kaku. Pikiran Jay seakan mulai terbuka dengan ‘kegiatan’ aneh ini, pasti ayahnya dibalik semua ini.

Beberapa jam kemudian, ayah Jay datang kembali ke kamar hotel itu dengan cukup mengetuk pintunya. Tak lama setelah mengetuk keluarlah Jay dengan baju kaosnya yang basah penuh keringat, muka yang sedikit pucat dan tatapan yang garang. Marah dan benci menyatu saat itu dalam hati Jay. Tapi tak ingin berlama-lama di sana, ia langsung pergi dari hadapan ayahnya dengan sengaja membenturkan bahunya cukup keras ke bahu ayahnya yang terheran-heran.

“Bagaimana?” Tanya ayah Jay kepada Nia semangat untuk mengetahui hasil pendekatan yang ia ciptakan.

“Hhhh…gak terjadi apa-apa om, dia cuma duduk, panik sendiri. Cupu banget om. Saya sentuh dan mainin Mr. P dia aja gak ada reaksi apa pun, tanpa open baju loh om, dibuka aja susah banget…” nada bicara Nia seakan kekecewaan akan pekerjaannya yang kurang berhasil kali ini.

Ayah Jay hanya menghela napas, ternyata wajah yang keluar dari pintu itu bukan suatu hasil yang baik.

Jay yang sedang terbaring melihat masa lalu di samping Romy yang tertidur kembali menghadapi kenyataan sekarang. Ia menggeleng-geleng keras mengingat hal paling menyebalkan dalam hidupnya itu. Saat itu ia sangat membenci ayahnya, sampai selalu membentak-bentak ayahnya waktu itu karena Jay tidak su           ka dengan yang ayahnya perbuat. Membiarkan anaknya berada di suatu kamar hotel dengan wanita mengerikan untuk suatu tujuan agar ia mampu memiliki hubungan secepat kilat dengan wanita itu. Butuh waktu yang lama bagi Jay untuk memaafkan ayahnya.

Kini ia mungkin sedikit mengerti apa maksud semua tindakan ayahnya itu, agar ia mampu menjadi lelaki pemberani dan menemukan cinta sejatinya. Berani mengungkap perasaan terdalam dengan seorang pasangan dan menjadi lelaki sesungguhnya dengan itu semua. Ya, lelaki sesungguhnya dalam cinta. Dan kini, -Jay menoleh melihat Romy- ia menemukan hal yang tak terduga, dengan cinta yang tulus dan besar dari seorang lelaki, bukan wanita secantik dan mengerikan seperti Nia.

Tapi kini tak seindah awal bertemu dengan Romy. Ada hal aneh yang Jay rasakan setelah lima tahun berjalan, hanya saja tak bisa ia jabarkan itu. Entah jenuh, kesadaran, merasa kehilangan jati diri atau rasa bersalah karena ayahnya tak pernah mengetahui hal ini, semua itu bercampur jadi satu. Rasa sayangnya terhadap Romy tak bisa dipungkiri, dan itu begitu besar. Tapi ada hal menggelitik, merayap dan menjadi racun tersendiri dalam diri Romy yang seakan menyuruhnya untuk berhenti. Walaupun ia tak pernah yakin untuk menyudahinya karena tidak punya alasan pasti.

Jay berusaha bangkit dari lamunannya yang semakin liar dan terduduk sambil merapikan selimut yang menutupi seluruh tubuh telanjangnya. Tiba-tiba handphone Jay bergetar, ia mengambilnya di meja yang tak jauh dari tempat tidur dan mengangkat telpon tak beridentitas itu.

“Halo…siapa ya?” sapa Jay.

Jay berusaha mencerna semua kata-kata, berita, dan kabar buruk dari suara di ujung telpon itu. Jay terkejut akan berita bahwa ayahnya dilarikan ke rumah sakit setelah ditemukan tergeletak di kamarnya.

Tanpa pikir panjang ia langsung bangkit dari sana. Romy yang perlahan mulai terbangun dari tidurnya heran melihat kepanikan Jay dalam berpakaian.

“Kamu kenapa, Je?” Tanya Romy.

“Ayahku masuk rumah sakit, My..” Jay berkata sambil berusaha memakaikan celana jinsnya, “…jantungnya kambuh. Kamu disini aja ya My.” Selesai berpakaian Jay bergegas pergi.

Tanpa berkata-kata Romy membiarkan Jay pergi dan kembali terlelap.

Dengan cepat dan gas sekuat tenaga Jay pergi meninggalkan apartment Romy dan meluncur dengan mobilnya menyusuri pagi sekitar pukul 3 itu di jalanan ibu kota yang lengang. Kecemasannya semakin memuncak saat mengingat kembali perkataan tetangganya yang berhasil membawa ayah Jay ke rumah sakit mengatakan bahwa ayah Jay tergeletak di kamar depan yang berarti adalah kamarnya. Apa yang papa lihat sampai bisa seperti ini, tanya Jay dalam hati.

Kesedihan menguasai hati Jay yang takut dan cemas. Sudah lama ayah Jay tak pernah kambuh dari penyakitnya dan kini terlihat darurat sekali. Jay berusaha menghilangkan rasa takutnya sebelum melihat dengan jelas wajah ayahnya.

Jay sampai di salah satu rumah sakit yang khusus menangani masalah jantung tempat ayahnya dirawat. Ia turun dengan cepat dari mobilnya, berlari memasuki rumah sakit dan segera menuju kamar yang sudah ia ketahui setelah dikabari tadi. Jay sampai di lantai 2 rumah sakit itu, mancari kamar 207 dengan kepanikan yang tak tertahankan. Saat melihat kamar itu langsung ia buka dengan perlahan.

Disana terbaring ayah Jay dengan pakaian berwarna putih, selang-selang penyelamat terhubung rapi ke seluruh tubuhnya. Nafasnya pun turut dibantu oksigen. Terlihat naik turunnya dada ayah Jay yang perlahan tapi pasti menghirup udara.

Jay masuk selangkah demi selangkah dengan  rasa berkecamuk penuh haru melihat kondisi ayahnya yang seburuk ini. Jay langsung menarik bangku dan duduk disamping tempat tidur ayahnya. Mencium tangannya dengan lembut dan perlahan tanpa mengangkatnya tinggi. Namun ayahnya terbangun, mata ayah Jay membuka sedikit demi sedikit. Terlihat tatapan senang dengan kesakitan yang tertahan melihat anak semata wayang ada di hadapannya. Namun kekecewaan juga terlihat jelas di mata itu.

“Papa…” sapa Jay ragu.

“Nak…” ayah Jay berusaha memperjelas kata-kata yang akan keluar walaupun sedikit bergetar, “…kenapa nak? Kenapa …kamu ngelakuin …hal yang papa…takuti…?”

“Maksud papa apa, Pa? Papa jangan banyak omong dulu…” suara Jay bergetar menahan sedih menduga-duga apa yang dimakud ayahnya adalah hubungannya dengan Romy yang baru saja ia ketahui.

“Foto…”  kata ayah Jay sambil memindahkan lengannya yang di tahan Jay dan mendarat di dada sebelah kirinya, “…foto kamu dan…lelaki itu.”

Jay menghela napas . Papa akhirnya tahu, pikir Jay miris. Jay menunduk tak berani menatap mata ayahnya. Jay merasa seperti saat-saat dulu lagi saat ia masih kecil, dimarahi ayahnya karena melakukan sesuatu yang salah. Mungkin saat dulu mata ayahnya seakan bisa keluar untuk menunjukkan betapa marahnya ia pada Jay. Namun kali ini dengan masalah yang berbeda, dengan sebuah rahasia lama, dalam kondisi yang berbeda. Dan amarah ayah Jay bukan amarah karena kenakalan seperti dulu, tapi kekecewaan mendalam lah yang terlihat di matanya.

“Nak…” panggil ayah Jay, “…Papa gak akan pernah menghakimimu, nak…Papa menyayangi kamu dan tak pernah berkurang…seberapa pun dewasanya kamu…” ayah Jay terdiam mengatur napasnya yang tersengal-sengal namun berusaha untuk bicara.

Ayah Jay semakin larut dengan perasaannya .

“Papa tahu itu mungkin pilihanmu, keputusanmu yang mungkin sebenarnya kamu… juga tidak yakin. Tapi itu semua ,..itu semua salah nak…itu semua bukan tujuanmu. Papa mengharapkan hal yang lebih dari kamu…bukan ini. Ketakutan papa…terjawab saat melihat foto itu…foto-foto kamu dan…temanmu itu. Papa takuti itu, nak…”

Jay tak mampu berkata-kata dan menunduk melihat kakinya sendiri. Ia tak kuasa melihat wajah atau tatapan ayahnya yang pasti akan sangat menusuk. Jay tak mampu dan tak akan membela diri untuk saat ini. Dan tak  bisa Jay hentikan ayahnya terus berkata-kata.

“Tapi papa minta maaf, nak…papa minta maaf…tak bisa menjadi seorang ayah yang bisa kamu teladani. Tak bisa…sekaligus menjadi ibu untukmu. Papa minta maaf…telah menghilangkan sosok ibu untuk kamu…”

“Meninggalnya mama bukan salah papa, bukan siapa pun…” sergah Jay dalam tunduk malu.

“Ya…tapi papa tak sanggup menggantikannya. Papa…minta maaf nak. Tapi papa mohon, jangan tambah rasa berasalah papa…dengan apa yang akan kamu lakukan…nantinya. Kamu mampu menjadi lelaki sejati itu, nak. Hidup mandiri…bersikap…tanpa menjadi pasangan untuk lelaki manapun yang kamu sayangi. Kamu adalah lelaki sejati itu…apapun kamu nantinya. Jangan jadikan semua ini pilihan…jadikan ini putusan…mau pergi kemana kamu nantinya, dengan…atau tanpa lelaki dalam foto itu. Banggakan papa. Kamu…adalah …lelaki sejati… yang tak pernah menyembunyikan apapun pada papa. Memiliki kuasa atas diri kamu sendiri…dan makhluk paling kuat dari siapapun di muka bumi ini…”

Jay memberanikan mengangkat kepala dan melihat wajah ayahnya. Ia seakan melihat kesunyian, ketidakmampuan untuk berkata-kata lagi, marah dan haru. Namun, ada rasa sayang mendalam di mata itu.

Tanpa Jay sadari air mata membumbung di kelopak matanya, dan terjatuh di pipi. Beberapa detik Jay tak menyadari apa yang baru saja mengalir dipipi lelaki yang tak pernah menangis itu selain memberikan tangisannya pada ibu tercinta.

Hey, aku menangis, heran Jay dalam pikirnya.

“Kamu memang lelaki sejati itu, nak…percaya papa, yakini dirimu.” ayah Jay mengusap air mata yang mengalir deras di pipi Jay.

Saat itu juga Jay merasa menemukan titik balik hidupnya yang harus ia jalani. Seakan ini semua jawaban atas keraguannya yang aneh akan hubungannya dengan Romy, yaitu mengakhirinya untuk sebuah kejelasan, dan untuk ayahnya. Mungkin satu-satunya alasan yang jelas adalah kekecewaan ayahnya.

“Mungkin ini yang harus aku lakukan, Pa…aku pasti menyelesaikan ini semua…” kata Jay meyakini dan menghentikan kata-katanya dengan pertimbangan, “…asal papa sembuh dan pulang dari sini secepatnya.”

“Papa pasti pulang, nak…papa kangen sekali sama kamu yang jarang pulang ke rumah.” Ayah Jay memunculkan senyumnya, demi menenangkan hati Jay.

Jay pun memunculkan senyuman tulus itu untuk ayahnya, seakan permohonan maaf yang mendalam atas semua ini dan ketidakpulangannya ke rumah yang ternyata hal itu membekas di hati ayahnya.

Jay menghabiskan waktu bersama ayahnya. Jay temani ayahnya tertidur lelap dan nyenyak seakan beban telah terlepas dari tubuhnya yang kini ringkih. Jay tak bisa ikut tidur , ia tidak akan tenang, cukup melihat ayahnya tertidur dan memperhatikan terus satu-satunya orang yang paling berharga dalam hidupnya yang tak pernah bisa benar-benar ia sadari.

Tapi ia kembali teringat, ada hal yang harus ia selesaikan dengan bijak. Diluar hari sudah pagi dan matahari hangat sudah cukup menyinari jalan. Jay mengecup kening dan tangan ayahnya yang tertidur dan meninggalkan tempat itu.

Jay kembali mengendarai mobilnya, tidak dengan terburu-buru, tidak dengan kepanikan, namun dengan keyakinan yang terus ia tumbuhkan untuk bertemu Romy di apartmentnya. Romy menyetujui untuk bertemu kembali disana saat Jay hubungi sebelumnya. Ketika sampai kembali di ruangan yang baru saja semalam Jay dan Romy hadirkan cinta yang tulus namun kebimbangan pada salah satu dari mereka, Jay langsung menutup pintu apartment diikuti dengan suara yang keras, menghampiri Romy yang terlihat senang dengan kedatangan Jay di pagi hari.

“Hei, beib..aku lagi bikin…” perkataan Romy terhenti karena dengan tiba-tiba Jay menarik Romy dengan kencang dan menghempaskan Romy ke tempat tidur, melepaskan pakaiannya sendiri dan Romy satu per satu membuat Romy tersenyum-senyum geli melihat tingkah Jay. Jay membalikkan tubuh Romy dengan nafsu mendalam yang sengaja ia timbulkan penuh dalam dirinya, dan ia lakukanlah semua itu dengan rasa yang memuncak akan suatu penyelesaian, keberanian memilih, semua itu untuk terakhir kalinya.

Setelah selesai dengan semua hal menggairahkan itu, Romy mencium pipi Jay dengan senyum lebar.

“Kamu hebat banget hari ini.” puji Romy yang terduduk tanpa busana sedikitpun, begitu juga dengan Jay.

“Aku mau ngomong sesuatu sama kamu, sesuatu yang serius…” Jay berkata dingin membuat ekspresi Romy berubah tak mengerti.

“Ngomong apa, Je…masalah papa kamu? Dia sakit parah?”

“Bukan itu,” sanggah Jay berusaha untuk tidak dingin dalam situasi ini, “…aku mau putus dari kamu, aku mau udahin ini semua…”

“Apa? Maksud kamu apa sih, Je…becandanya jangan kayak gitu ah…” Romy seakan meminta penjelasan dan menatap Jay serius.

“Enggak, aku gak becanda My… kita harus ngealakuin ini. Maksudku, aku…” Jay berusaha tegar.

“Apa?!? Kenapa kamu jadi gak jelas gini sih, Je… kamu jangan sembarangan ngomong begitu. Apa yang salah belakangan ini? Perasaan gak ada… kalo ada aku gak tahu itu apa, Je. Tapi aku minta maaf banget sama kamu kalo aku salah…” Romy mulai cemas dengan kata-kata yang keluar dari mulut Jay. Ia mendekati Jay dan memeluknya, tapi Jay berusaha melepasnya dengan perasaan yang juga sakit untuk melakukannya.

“Aku harus ngelakuin ini, My…” lanjut Jay, “Aku harus memutuskan ini sebelum hubungan kita makin aneh dan berantakan. Suka gak suka kita harus begini…”

Emosi Romy yang bercampur kesedihan mendalam yang datang tiba-tiba akibat pernyataan Jay jadi memuncak, “Apanya yang aneh, Je?! Apanya yang berantakan?! Semuanya baik-baik aja dari semalem, aku gak bisa terima ini.”

“Kamu memang gak harus nerima ini, My…ini keputusan aku untuk ninggalin kamu dan belajar jadi diri sendiri. Kita ini salah…”

“Salah lo bilang? Lima tahun lo bilang salah?!” Romy mengubah panggilannya karena kesal yang memuncak atas keputusan sepihak Jay yang mendadak. Suara Romy meninggi dan menatap Jay marah, “Lo pikir hubungan kita selama ini apa? Bercanda?!?”

“Terus kamu pikir mau dibawa kemana hubungan kita, My?” tanya Jay tegas dengan suara yang menyamai Romy.

Romy terdiam dengan pertanyaan itu. Romy memiliki banyak kata yang bisa ia keluarkan pada Jay tapi ia tak mampu. Seakan logikanya baru terbangun saat itu.

“Tapi cinta kita gak pernah salah, Je…” hanya itu yang keluar dari mulut Romy dengan air mata menetes di pipinya. Jay sedikit merasa bersalah melihat itu. Ia tak pernah membuat Romy menangis sebelumnya. Dan kini ia harus bersikap nekat untuk bisa menghilangkan semua ini dalam sesaat.

Jay menghadapkan tubuhnya pada Romy, duduk mendekat dan menempelkan lututnya pada lutut Romy. Mengambil kedua tangan Romy dan menyatukan jari-jemarinya dengan jari-jemari Romy. Ini untuk terakhir kalinya, pikir Jay sedih.

“Cinta kita gak pernah salah, My… Cinta kita indaah banget buat aku, terutama untuk kamu. Cinta kita yang menurut banyak orang aneh, buat kita sangat berharga kan, My. Gak akan ada orang yang mengerti selain diri kita sendiri. Kita ngelaluin semuanya, dihujat, sembunyi, rahasia, bahagia, semua kita rasain bareng-bareng. Indah banget, My…” Jay sedikit menunduk tidak ingin menunjukkan wajah sedihnya pada Romy yang berlinang air mata tanpa suara dan kembali berani melanjutkan , “Tapi kita gak tahu sama sekali tujuan hubungan kita, tujuan hidup kita.”

“Semua itu gak perlu alasan, Je…dulu kita pernah janji sama-sama…” kata Romy lembut.

“Sekarang salah satu dari kita bukan yang dulu lagi, My…yaitu aku, aku harus mampu memilih saat ini. Dan yang aku pilih bukan kamu… Bukan karena aku jahat, tapi ini untuk kebaikan kita berdua, karena kita gak ditakdirkan untuk ini, itu yang udah bisa aku pahamin My. Kita harus mampu nemu akhir perjalanan kita, bukan terus menerus menikmati hal yang gak ada habisnya, dan ngelupain kehidupan pribadi kita yang ternyata adalah keluarga kita.” Jay menatap Romy tulus tanpa melepaskan genggaman tangannya, “Dan yang perlu kamu tahu, aku gak pernah nyesel ketemu kamu My… aku gak pernah nyesel dengan semua cerita hidup yang berhasil kita buat. Ini begitu indah. Yang terpenting, dari hubungan ini aku tahu arti cinta sebenarnya… dan aku tulus bilang ini semua.”

Romy naik pitam, tak menerima semua perkataan Jay. Ia tarik dengan kasar tangannya dari genggaman Jay. Bangun dari duduknya dan turun dari kasur masih dengan tubuhnya yang tak terbungkus pakaian. Menatap Jay dengan kebencian yang teramat dalam, wajahnya sedikit memerah. Telapak tangannya seakan sudah tak sabar melakukan ini, dan…

“Paakk…!” telapak tangan Romy mendarat di pipi kiri Jay dengan keras dan tanpa ragu.

“Cepet lo pergi dari sini…cepet pergi!!!!” teriak Romy sambil menunjuk pintu keluar. Jay memegang pipi kirinya yang baru saja ditampar telapak tangan seorang lelaki.

Tapi Jay tak ingin menimpali kemarahan Romy lagi, Jay sangat mengerti apa yang Romy rasakan sekarang. Ia berpakaian dengan cepat tanpa melihat Romy yang gemetar menahan amarah yang besar. Ternyata Romy tak bisa mengerti, pikir Jay.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Jay yang sudah berpakaian segera mengambil kunci mobil di bawah kakinya, menatap Romy yang tak ingin menatapnya. “Terima kasih banyak, My…” hanya kalimat  itu yang keluar untuk terakhir kalinya.

“Pergi gue bilang…” kata Romy dengan nada garang tanpa melihat sedikit pun.

Jay pergi dan melewati pintu yang ia tutup sendiri. Ia berdiri cukup lama diluar apartment Romy, menatap pintu itu dengan tatapan perpisahan. Bukan respon ini yang dia inginkan. Lalu Jay memegang pipi kirinya yang mendapat tamparan Romy, entah kenapa ada rasa aneh dalam hatinya, ia begitu lega dan puas dengan tamparan keras itu. Seperti telah menghancurkan tembok rapuh yang sudah lama berdiri dalam sekali dentuman. Dan Jay amat senang dan puas akan hal itu.

Jay menepuk pintu itu dengan lembut tanda perpisahan untuk Romy di dalam sana, dan pergi meninggalkan tempat itu. Ada senyum simpul yang terbentuk di bibir Jay yang tak bisa ia tahan, rasa puas dan kebahagiaan berhasil menyelesaikan ini untuk ayahnya, dan untuk dirinya sendiri.

Jay semakin yakin dengan proses terbaru dalam hidupnya ini, memutuskan titik balik dimana dia harus berubah. Keyakinan itu semakin bertambah saat ia sudah sampai lagi di rumah sakit. Kebahagiaan memuncak saat perjalanan menuju ke ruangan ayahnya ia mempersiapkan kata-kata apa yang tepat untuk menggambarkan ini semua, bahwa dia ternyata mampu melepas kehidupan lamanya dengan caranya sendiri.

Namun semua itu hancur berkeping-keping saat melihat kamar ayahnya penuh dengan orang-orang, para kerabat dan tetangga rumahnya yang senantiasa membantunya. Ayah Jay memang sosok yang bersahabat di mata semua orang disekelilingnya, terutama tetangga-tetangganya. Jay terlihat bingung dengan semua ini, kenapa semua orang berada disini secara bersamaan, ditambah wajah mereka yang terlihat sedih. Mereka tersigap saat melihat kedatangan Jay.

“Dimana papa?” tanya Jay kepada semua orang yang ada disana saat melihat ayahnya tak ada di tempat tidur itu.

“Maaf kami harus mengatakan ini, Jay…” kata seorang lelaki paruh baya yang masih terlihat bugar, tetangga Jay yang membantu ayahnya saat mengalami serangan jantung kemarin, “Ayahmu sempat mengalami masa kritis tadi, detak jantungnya tak terkendali. Seluruh dokter sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi…”

“Tapi apa om?” tanya Jay membelalak.

“Tapi nyawa ayahmu tidak bisa tertolong…” lanjutnya.

“Jangan bohong, om…” Jay belum bisa percaya, “…saya baru bersama dia tadi pagi, dan dia baik-baik aja sedang tertidur!” suara Jay meninggi tanpa dia sadari.

“Semua itu juga tidak ada yang mengira Jay…kejadiannya baru terjadi dua jam lalu…”

“Kenapa tidak ada yang menghubungi saya?!?” suara Jay mulai  bergetar.

“Kami mencoba menghubungimu, Jay, tapi nomormu sepertinya tidak aktif…” sambut salah seorang wanita di ujung ruangan. Dengan panik Jay cepat-cepat mengeluarkan handphone dari kantungnya, dan melihat kondisi handphone. Ternyata benar handphone Jay mati total dan dia tidak berani berkata apa-apa.

Dunia Jay serasa runtuh saat itu. Ia menatap semua orang yang iba kepadanya saat itu. Siang yang kelam ini terasa bahagia sebelumnya dengan kabar kejutan untuk ayahnya, namun terasa buruk saat kabar ini sampai di telinganya.

Jay tak mampu berkata-kata, terpaku karena rasa kaget. Dengan perlahan ia berbalik dan keluar ruangan yang penuh itu, menatap kekosongan meninggalkan orang-orang di dalam. Ia menjauhi ruangan itu dan bersandar di dinding koridor.

“Papa kan janji mau pulang ke rumah sama Jay, Pa…” gumam Jay yang terpaku bersandar.

Lelah serasa tiba-tiba menghampirinya dengan kenyataan ini, ia pun teduduk di lantai. Menangis penuh sesal tak terbayarkan karena tak bisa melihat ayahnya lagi dengan kesembuhan. Jay menopang wajahnya di lutut dan menangis sekencanganya. Badannya berguncang tak kuasa menahan tangisannya. Tangisan yang seakan terkumpul untuk semua kejadian yang baru saja ia alami, semuanya. Ketidakyakinannya akan hidup, rasa kecewa ayahnya atas apa yang ia perbuat selama ini, hubungannya dengan Romy yang harus ia akhiri, semua terasa berada di hadapannya kini. Dan yang menyakitkan tak ada yang bisa ia salahkan saat ini, selain dirinya sendiri.

Dalam tangis Jay terus bertanya pada keadaan apakah ia memang harus melewati semua ini dulu untuk bisa berubah sepenuhnya. Berjuang sendiri menata hidup yang baru. Atau ini adalah hukuman terberat untuknya. Jay tak bisa menjawab itu semua. Kenyataan ini begitu menyakitkan harus ia hadapi.

 

Beberapa hari berlalu. Saat-saat pemakaman adalah yang terberat, melihat sekali lagi wajah ayahnya tercinta dalam liang lahat tempat peristirahatan terakhir. Namun kesendirian setelah itu yang menjadi tanda tanya untuk Jay harus bagaimana.

Jay tak pernah pergi dari renungan, rasa putus asa dan sesal sedang menguasai dirinya. Terkadang ia merasa tidak yakin apakah yang ia lakukan setelah berjanji pada ayahnya itu benar, karena ia merasakan hal yang lain. Jay kali ini ingin mengenang sesuatu, ia pergi ke taman hiburan bermain yang dulu pernah sangat berarti saat ibu, ayah, dan dirinya ada disini beberapa tahun yang lalu. Ia membawa kotak hitam besar yang belum lama ini menjadi penyebab atas keterpurukan ayahnya. Namun kini tidak berisi semua foto-fotonya dengan Romy, kini berisi semua foto berkesan dalam hidupnya. Foto penuh cinta dari sebuah keluarga, saat ibu Jay menggendong Jay waktu masih kecil, foto ayah Jay, dan semua kenang-kenangan kehidupan yang sudah tidak bisa terulang lagi. Salah satunya adalah foto itu, foto yang diambil saat berada di taman hiburan ini, paling berkesan baginya.

Saat sampai di taman utama, sepinya tempat itu seakan mendukung suasana hati Jay. Suasananya masih terlihat sama saat banyak kenangan yang pernah tecipta disini bersama orang tuanya. Tapi matahari sore dengan suara kicauan burung sangat melegakan hati Jay, bahwa tak akan lebih buruk lagi. Ia memilih duduk di bangku taman yang cukup untuk 3-4 orang. Ia menaruh kotak hitam itu disampingnya dan mengambil salah satu isinya, yaitu pigura foto yang berisi gambar dirinya dan ibu sedang dalam bahagia dan ceria akan candaan yang tak bisa dijelaskan. Tak ada ayahnya disana, tapi ayahnya ada di balik kamera. Membuat Jay mengerti bagaimana rasanya saat itu, melihat sosok-sosok berharga dalam hidup sedang tertawa di hadapannya, dan tak akan bisa ia rasakan lagi.

Hembusan angin yang lembut menerpa kulit dan rambut Jay yang tak terlindungi. Kemeja lengan pangan berwarna biru tua Jay juga ikut bergoyang di terpa angin. Semua seakan menandakan kehadiran orang-orang yang telah pergi dalam hidup Jay.

Terkadang ada senyum di bibir Jay saat melihat foto-foto yang sangat berkesan baginya. Ia tak ingin ada air mata lagi, semua terasa cukup untuk ditangisi. Beberapa lama ia melihat foto-foto itu, Jay tertegun, membayangkan keputusannya untuk berubah dalam menjalani hidup ini. Ketidakyakinan sempat menghampirinya akan kesimpulan bahwa ia seperti tidak bisa menjalani hidup yang baru ini, apalagi dengan semua musibah yang baru saja ia alami. Keraguan itu kini sangat besar.

Pandangannya menjalar ke semua tempat di taman ini. Namun pandangannya terhenti di ujung taman yang cukup jauh darinya, sesuatu datang dari sebelah kanan. Seorang wanita cantik berjalan perlahan dari kejauhan. Tangan kanannya membawa seutas tali yang mengikat sebuah balon yang menggantung di atas kepalanya. Balon berwarna merah muda berbentuk hati. Tangan kirinya menggantung sebuah tas kecil berwarna merah. Rok pendek selutut berkibar-kibar saat wanita itu berjalan dengan ceria. Senyum lebarnya selalu menghiasi wajah setiap ia membetulkan caranya memegang balon itu. Rambut gelombangnya yang berwarna coklat tembaga terjuntai panjang di belakang bahunya sampai pinggang. Bando tipis berwarna senada dengan balon menambah manisnya wanita itu. Bajunya yang berlengan pendek dan berwarna putih semakin membuat jelas indah rambut coklatnya.

Wanita itu semakin mendekat dengan tempat Jay singgah. Jay tak pernah pergi dari pandangannya kepada wanita yang semakin medekat itu. Terlihat wanita itu juga membalas tatapannnya dengan ekspresi heran dan penasaran yang muncul tiba-tiba. Wanita itu seakan memutuskan untuk mendekati Jay.

Dan sampailah ia di hadapan Jay yang duduk termangu dan tak berkutik. Saat wanita itu berdiri di hadapan Jay sekitar satu meter, Jay seakan mengenal pakaian yang dikenakan wanita itu.

“Hai…” suara wanita itu terdengar lembut saat menyapa dengan penuh ceria.

“Hai…” balas Jay singkat.

“Sori…kalo gue boleh nebak lo itu Jay bukan sih? Yang punya distro di daerah Jakarta Selatan?”

Pertanyaan yang langsung benar-benar tertuju untuk Jay itu membuatnya berpikir dan membuktikan sesuatu. Pakaian yang dikenakan wanita itu adalah salah satu pakaian wanita yang dijual didistronya, dan keluaran terbaru. Jay sangat mengetahui itu karena ada tulisan “TRUE LOVE ALWAYS COME” di bagian dada pada kaus itu. Membuatnya salah tingkah namun tetap menjaga kewibawaannya.

Jay seakan terlempar dari jurang yang tinggi dan dalam, Jay menemukan sesuatu yang sebenarnya, sesuatu yang lebih nyata. Dan semua itu datang seperti sebuah keajaiban yang muncul dengan tiba-tiba saat wanita itu memberikan sesuatu yang berbeda dan tak ada yang pernah menduga. Seakan ini adalah jawaban dari semua keraguan yang menghantui Jay. Dan inilah kenyatannya; kalau titik balik Jay itu bukanlah saat janji yang terucap kepada ayahnya untuk berubah, bukan saat dia begitu puas dengan tamparan perpisahan Romy, bukan saat ia harus menghadapi cobaan hidup dengan kepergian ayahnya dan menjadikannya berjuang sendirian, bukan itu. Jay menyadari dan melihat lebih dalam bahwa titik baliknya adalah ini, wanita yang ada di hadapannya dengan tak terencana, begitu indah suara dan parasnya. Dan seakan mendapat suatu penjelasan entah darimana, Jay memahami rasanya cinta pada pandangan pertama. Titik baliknya dalam hidup.

Sedikit risih dengan tatapan Jay dan keheningan karena Jay tak kunjung menjawab membuat wanita itu kembali menegur, “Hey…”

“Oh…ya…” Jay gugup, “…iya bener, gue Jay…”

“Woww…gak nyangka gue ketemu disini sama lo. Oh ya, gue suka banget sama baju-baju distro lo, gue hobi banget beli disana…” kata wanita itu ceria.

“Jay…” Jay dengan spontan mengulurkan tangannya dan menunggu respon perkenalan dari wanita itu.

Wanita itu terdiam heran melihat uluran tangan itu, tapi langsung ia sambut. Dengan senyum manis yang terkembang ia berkata, “Yasmine…”

Semua itu pun menjadi begitu jelas. Yasmine dipersilahkan duduk disamping Jay dan kotak besarnya. Mereka tertawa bersama membahas balon berbentuk hati yang dibawa Yasmine, dan obrolan mereka pun semakin akrab.

Jay belajar banyak dari ini semua, suara, tatapan, dan gelagat Yasmine. Semua itu begitu indah ia rasakan untuk pertama kalinya. Seakan kedaan menunjukkan suatu kebenaran bahwa inilah kenyataannya. Walaupun tak pernah ada yang salah dengan cinta sebelumnya, cinta dan ketulusan Romy tidak pernah salah, meski bukan kemauan mereka. Cinta dan kenangan Romy adalah hal berarti bagi Jay. Tapi Yasmine lebih dari nyata dari itu semua, hal baru dalam hidupnya yang begitu sempurna.

Namun ada hal terpenting yang berhasil Jay jawab atas tantangan ayahnya, bahwa ia sudah memilih, untuk menjadi lelaki sejati yang tak terkalahkan oleh keadaan.

DA 210913

Merenung

Sedikit waktu, tak pernah tertuang untuk ini

Berhenti…merebah…dan tak berpikir

Menjadikan angin teman yang tak ternilai

Menatap keburukan dan kebaikan dunia bertatap waktu yang sama

Sabar menanti…

Membuka kesempatan pada diri ini melihat lebih dalam dan bercermin ke belakang

Seakan waktu saat-saat terbaik bukan hal yang diidamkan lagi

Selatan dan utara menjadi searah

Baik dan buruk menjadi sama

Sedih dan bahagia menajadi tidak beda

Cinta dan benci menjadi samar

Tabu dan nyata sudah tidak berarti

Semakin ku ke dalam, semakin terlihat buruknya keadaan

Sedihnya, lampu penerang hidup yang kecil dan rapuh namun berarti itu tak pernah lagi menjadi matahari yang bersinar…

Hembusan angin kini hanya menjadi tawa kehidupan tanda sepinya hidup

Ramainya kicauan burung kini hanya menjadi radio rusak tanda gagal kuperbaiki

Seakan sebenarnya telah terjawab…

Bahwa semua yang sudah tidak pada  tempatnya,…tak mampu kubenahi…

DA 180913

17:16

Bayangan

Tak kunjung berhenti air mataku

Membiarkannya mengalir didampingi hatiku yang kuat bergetar

Terbayang pedih, sakit dan hinanya diri ini memandang jauh ke depan waktu

Akankah ada teriakan namaku ke langit seraya berdoa?

 

Aku muda dan penuh gairah

Namun kelemahanku akan bayang-bayang kematian yang mengikuti

Dalam mimpi ia bertanya, kapan kusiap?

Membuatku bergetar, merinding, sedih dan takut

Dalam bayang ia memesona, akan keindahan dan godaannya untuk berhenti dari lelahnya sandiwara hidup tak berujung

 

Aku benci masa depanku

Tabu, tak berbentuk, sulit digenggam…

Ap ceritanya setelah matiku?

Berartikah aku?

Berartikah tetesan darah, keringat, pengorbanan, siksaan dan tragedi yang melekat pada tubuh dan jiwa ini?

Kemana pahit yang tak sebanding ini membawaku?

 

Aku ingin pulang…aku ingin pulang..

Aku ingin pulang lelah dalam damai

Tanpa lengkingan teriakan menyayat dada

 

Kudengar masa depan tak seindah cerita

Akan kuhitung berapa kali namaku bergetar di langit cerah maupun kelam

Sumpahku pada bumi…

 

DA-140913