PENDAR (bayangan dibawah sebuah cerita)

Aku melihat pendar cahaya di langit lepas. Memandangnya cukup menyipitkan mata yang lemah ini. Namun angin membantuku menikmati pantulan cahaya itu di atas air berombak. Kicauan burung menemaniku tergeletak di atas pasir putih yang hangat. Sendirian menikmati sedikit waktu dalam tahun perjuanganku yang panjang, membuatku larut dalam pikiranku yang tak pernah ada dalam waktu yang sama. Mengapa aku tak pernah berhasil? Mengapa aku tak berani melakukan hal yang kuingin? Mengapa aku tak memiliki cinta dalam hatiku? Mengapa aku tak pernah maju? Dan mengapa…aku larut dalam ketidakbahagiaan selama ini. Di ujung pandangan kumelihat perahu layar tak bertuan yang terombang ambing tak menahan hembusan angin yang menerpanya. Perahu itu tetap kokoh menerima kegaduhan di sekelilingnya. Mungkin kayunya kuat, layarnya mantap , dan yang pasti tak berpenghuni. Namun, perahu itu seakan dekat dan semakin dekat menghampiriku. Deburan ombak kecil berbuih menyambut kakiku yang terbangun dan melangkah maju. Hangatnya air seakan meresap ke dalam kulit dan hatiku. Tenang dan tenang melangkah pasti. Langkah dan melangkah melawan ombak yang masih bisa kurasakan. Perahu itu semakin dekat kepadaku.

Semakin jelas kulihat keanggunannya…dan kesunyian yang dalam tiba-tiba datang. Aku menyambut sebuah perahu yang tak pernah benar-benar menghampiriku di kejauhan. Dan ia jauh lebih indah di dasar lautan seperti ini……GELAP.

… …

Terima kasih, Tuhan…

Kau temukan lagi aku dengan angka-angka yang bertambah, dan jam pasir kehidupan yang terus berkurang…

Tak tahu seberapa bermanfaatkah aku di muka bumi ini, terlalu banyak yang kukecewakan dan kuabaikan…

 

Bantu aku memilih, Tuhan…

Untuk menjadi orang yang berhasil dalam hidup, berguna untuk semua orang dan bertaqwa kepada-Mu…

 

Terima kasih untuk yang datang dan pergi mewarnai hidupku…

Semuanya…

Aku sangat sayang…

Bakat Terpendam

Penulis : Agoeng Widyatmoko

Kamis, 08 Maret 2007, Dibaca : 7563 kali | Dicetak : 431 kali | Cetak artikel ini

Seekor kodok mengajak berlomba ikan adu cepat. Jalur yang ditempuh menyeberangi sungai. Sang ikan yang bisa berenang cepat menyanggupi karena merasa pasti akan menang.
Pada hari perlombaan, sang ikan bersantai-santai. Ia yang sudah lama hidup di sungai menganggap mustahil kodok bisa mengalahkan dirinya. Maka, ketika lomba dimulai, ia pun masih bersantai. Pikirnya, mana bisa kodok berenang lebih cepat?
Tapi, ternyata. Kodok tidak berenang. Ia meloncati beberapa batuan yang ada di sungai. Karena itu, kodok bisa sampai di seberang lebih cepat dari ikan.
Ikan pun protes.
“Kodok, kamu curang. Bukankah harusnya kamu berenang?”
“Siapa bilang? Kita kan lomba menyeberangi sungai, bukan berenang menyeberangi sungai?”

***

Kadang, kita sering jengkel pada keadaan. Sudah bekerja keras banting tulang peras keringat, kok belum sukses juga? Sesudah begitu, kita lantas membanding-bandingkan dengan orang lain. Rasa iri muncul saat melihat orang sukses karena koneksi lah, karena terlahir kaya lah, karena lebih pintar lah. Akhirnya, yang muncul kemudian komentar bernada miris. Yah, dia bisa begitu karena koneksi. Yah, dia sukses kan karena bapaknya kaya. Tanpa kita sadari, kita malah jadi buang-buang energi untuk mengutuk nasib kita yang miskin koneksi, yang tidak kaya, dan hal-hal negatif lainnya.

Cerita sang kodok yang mengalahkan ikan sebenarnya bisa kita jadikan pelajaran. Betapa setiap mahkluk itu punya kelebihan dan kekurangan. Karena itu, iri kepada kelebihan orang lain sebenarnya hanya akan membuang waktu dan tenaga. Kalau kita tahu kelebihan kita, serta tahu bagaimana memanfaatkan kelebihan itu, kita pasti juga bisa sukses. Tidak perlu lagi kita berkomentar negatif pada orang lain yang lebih sukses. Curiga pada kesuksesan orang lain hanya akan menghabiskan energi kita.

Yang perlu kita lakukan adalah menemukan potensi yang ada pada diri kita masing-masing. Kita gali bakat-bakat terpendam yang mungkin ada pada diri kita. Okelah sesekali kita iri dengan orang lain. Tapi, mari kita coba mengubah rasa iri itu jadi hal positif bahwa kita juga bisa berbuat lebih baik lagi. Kalau orang lain bisa sukses, kenapa kita tidak?

Ibarat kodok tadi. Kalau kita tidak pandai berenang, pandai-pandailah kita memanfaatkan kelebihan untuk meloncat. Jadi, siap menggali bakat-bakat terpendam kita?

Agoeng Widyatmoko

Dialog Prancis

Aip : Bonjour Dina!
Dina: Bonjour!
Aip : Ca va?
Dina: Bien merci, et vous?
Aip : Bien aussi! Dina qu’est-ce que tu as fait le week end?

Dina : Je suis alle a Cisarua
Aip : C’est interresant! Qu’est-que tu fait
Dina: J’ai visite le zoo Taman Safari
Aip : Avec qui?
Dina: Avec ma famille,ma cousine,et ma tante, et toi? Ou est-ce que tu as le vacances?

Aip : Je suis alle a Yogyakarta, Dina… J’ai visite le temple Borobudur
Dina: Wow! Comment tu es parti a Yogya?
Aip : Je suis parti en train avec mon copain.
Dina : Combien de temps tu es reste a Yogya?
Aip : mmm… Un semaine. Et toi?
Dina : Je suis reste a Cisarua 2 jour
Aip: A Yogya j’ai achete un sac. Qu’est-ce que tu as achete a Cisarua?
Dina : J’ai achete une cassette et un livre. Qu’est-ce que tu as regarde?
Aip : A Yogya j’ai regarde le temple,le musee,et monument. C’est magnifique!!
Dina : Wow.. C’est interressant! A Cisarua j ‘ai regarde le musee nationale
Aip : oke dina ma mere est m’appelle
Dina ouio..au revoir aip,mmmuuaacchh!!
Aip : au revoir 🙂

Review : The Exorcist

The Exorcist is a novel of supernatural suspense by William Peter Blatty in 1971. It was by a 1949 case of demonic possession and exorcism that Blatty heard about while he was a student in the class of 1950 at Georgetown University, a Jesuit school.

Aspect of the character Father Merrin were based on the British archaelogist Gerald Lankaster Harding, who had excavated the caves where the Dead Sea Scrolls had been found and whom Blatty had met in Beirut. Blatty has stated that Harding was the physical model in his mind when he created the character.

The story begins when an elderly Jesuit priest named Father Lankaster Merrin is leading an archaelogical dig in northern Iraq and is studying ancient relics. Following the discovery of a small statue of the demon Pazuzu (an actual ancient Assyrian demigod) and a modern day St. Joseph medal curriously justapoxed together at the site, a series of omens alerts him to a pending confrontation with a powerfull evil, which unknown to the reader at this point, he has battled before in an axorcism in Africa.

Meanwhile, in Georgetown, a young girl named Regan MacNeil living with her famous mother, actress Chris MacNeil, becomes inexplicably ill. After a gradual series of poltergeist-like disturbances, she undergoes disturbing psychological and physical changes, appearing to become “possessed” by a demonic spirit.

After several unsuccesful psychiatric and medical treatments, Regan’s mother turns to a local Jesuit priest. Father Damien Karras, who is currently going through a crisis of faith coupled with the loss of his mother, agrees to see Regan as a psychiatrist, but initially resist the nation that it is an actual demonic possession inhabited by a diabolical personality, he turns to the local bishop for permission to perform an exorcism on the child.

The bishop with whom he consults does not believe Karras is qualified to perform the rites, and appoints the experienced Merrin, recently returned to the States, to perform the exorcism; although he does allow the dourbt-ridden Karras to assist him. The lengthy exorcism tests the priests both physically and spiritually. After the death of Merrin, who had previously suffered cardiac arrhythmia, the task ultimately falls upon Father Karras. When he demands that the demonic spirit inhabit him instead of the innocent Regan, the demon seizes the opportunity to afflict the priest, thus Karras surrenders his own life in exchange for Regan’s.