Raga Jiwa Asa dan Kehendak Buta

            Matahari menggelegar. Memanggil butiran-butiran keringat bersautan keluar dari pori kulit seorang wanita buta yang bertumpu di kedua lututnya, menghela nafas dibawah sebuah pohon besar. Mencuri bayangnya untuk berlindung dari langit yang menggila. Kakinya terluka setelah berlari bertelanjang kaki, meraba semak belukar, diantara pepohonan. Tubuhnya penuh luka lebam bekas timpukan batu, sedang matanya telah lama buta, dicungkil oleh orang-orang dari desanya sendiri, tanah dimana dia dilahirkan. Mereka berdalih, tatapannya dapat menyihir pria mana pun untuk menuruti kata-katanya. Nyaris saja mati Ia dibakar hidup-hidup, kalau bukan karena keberuntungan yang menuntunya. Bisikan-bisikan dari kupu-kupu yang beterbangan, katak diantara genangan, dan  angin yang membelai, menuntunya dari dua orang pria yang nyaris memperkosa dirinya malam itu, yang kemudian beralasan bahwa mereka berdua dalam kendali sihir. Setiap kejadian buruk, malapetaka, bencana dan hama selalu dikaitkan pada dirinya.

            ‘Sang Pembawa Sial’ begitulah julukan yang di tancapkan penduduk desa pada pribadi wanita lembut dan pendiam ini. Berawal dari kematian ibunya saat ia dilahirkan, tumbuh dan berkembang sebagai gadis pendiam yang senantiasa diolok-olok sebayanya, hingga kebiasaanya berdiam diri di hutan dan seakan-akan berbicara pada binatang, saat itulah orang-orang mulai menganggapnya aneh. Meskipun tak pernah ada yang benar-benar tahu, atau pernah menyaksikanya langsung, bagaimana ia memerintah ribuan belalang untuk merusak ladang milik tabib yang enggan mengobati ayahnya, hingga akhirnya meninggal dunia.

            Setelah semalam suntuk berlari tak tentu arah sejauh mungkin dari desanya, ia berbaring di pinggir padang rumput bersandar pada pohon tua. Diantara dedaunan, cahaya matahari menyelinap, mendarat di wajahnya yang penuh keringat diantara ilalang dan tetesan darah dari luka pada pelipisnya. Nafasnya berat , tubuhnya dingin, sedang perutnya saling menggerus, diburu lapar, dan tenggorokanya diradang dahaga. Setengah sadar ia meraba rumput disekitarnya, mengendus bau tanah kering yang terpanggang matahari, menyandarkan kepalanya pada kulit kayu yang kasar. Perlahan ia mendengar suara langkah. Panik memburu, memacu darahnya mengalir deras, bersiap berdiri dan berlari, namun kakinya tak lagi dapat digerakkan. Menahan nyeri ia menyeret tubuhnya dengan tangan, menjambak rerumputan, menjauh dari suara yang mendekat.

Satu langkah, dua langkah, tiga langkah, empat langkah, dan berhenti.

“Tidak perlu takut wahai nona yang malang.”

“Jangan kau mendekat! siapa kau!?” tertatih-tatih ia membentak.

            Satu, dua, tiga, empat. Langkahnya mendekat. Dari suara benturan langkahnya ke tanah, bukanlah langkah manusia. Apabila seseorang dari desa, mengejarnya dengan berkuda, tentulah sang wanita itu tertangkap.

“Apa yang kau inginkan!? Bunuh saja aku sekarang!”

“Untuk apa aku membunuhmu, nona yang sebetulnya cantik. Aku bukan pemangsa! wahai kau yang merusak rumput-rumput lezatku!” balasnya ketus.

“Siapa kau?” sang wanita bertanya.

“Aku domba jantan yang sedang merumput, nona cantik.” jawabnya.

“Mau kah kau membantuku?”

“Bagaimana caranya aku membantumu?” sang domba balas bertanya.

“Aku lelah sekali, kaki ini sudah tak lagi dapat digerakkan, berilah aku tumpangan menuju bukit di selatan…”

“Lantas apa yang aku dapat?” sang domba bertanya.

“Disana tumbuh rumput tersubur dan terlezat di seluruh negri, tak kan habis kau lahap hingga akhir hayatmu wahai domba yang perkasa.”

“Sejauh aku memandang, seluas aku merumput, belum pernah aku melihat bukit di selatan, dan rumput seperti yang kau ceritakan.” balas sang domba.

“Maka antarlah aku kesana dan engkau akan menemukanya wahai domba yang perkasa, melangkahlah terus ke selatan.”

            Sang domba bersimpuh dan membiarkan wanita itu naik ke punggungnya dan berpegangan pada kedua tanduknya yang besar, dan berjalan mengarah ke selatan menuju bukit. Ketika matahari mulai bersiap menukik tenggelam, dan panasnya tidak lagi menggigit, perjalanan mereka terhenti. Dihadapan mereka membentang luas hutan pinus penuh kabut berhiaskan lolongan anjing. Hutan yang akan menyesatkan siapapun yang melewatinya, tertelan dalam kabut, dan berakhir di perut anjing liar, dan kemudian di habisi oleh gagak hingga tak tersisa. Melangkahlah masuk sang domba yang perkasa, menginjakkan kaki di tanah basah tertutup daun berguguran, kabut mulai menyelimuti, sedang kerumunan gagak berkumpul menyaksikan, menanti waktu pesta datang dari dahan-dahan diatas mereka.

“Wahai nona cantik, apa kau yakin ini jalan yang harus ditempuh?” tanya sang domba penuh ragu dengan suara gemetar.

“Ya, teruslah melangkah ke selatan.”

“Namun tak ada domba yang pernah melewati hutan ini, kami merumput disekitar hutan ini dan menyaksikan bagaimana mereka yang tersesat dan tak pernah kembali, aku tidak akan menukar nyawaku demi rerumputan sesegar apapun.” balas sang domba.

            Lolongan anjing dan gagak yang bersautan, serta dinginnya kabut menggelitik kulit sang wanita buta, membuatnya merinding dan membeku sejenak, lantas berpikir. Pastilah kita akan tersesat dan berakhir dalam perut anjing jika tertelan dalam kabut ini, diantara labirin pepohonan dan tanah yang dingin.

            Wajahnya menengadah ke langit, kegelapan bayang-bayang pepohonan menyelimuti, seperti kegelapan  dibalik kain yang membalut luka dalam rongga mata wajah sang wanita, dan berteriak…

“Wahai gagak-gagak yang agung, datanglah kepadaku dari kalian, seekor yang terpandai dan paling bijaksana. Seekor yang pernah terbang menembus langit dan mencuri rahasia takdir. Datanglah pada ku dan buktikan!”

            Teriakkanya bagai mengguncang pepohonan, membubarkan puluhan kawanan gagak yang terkejut dan beterbangan menjauh, hingga tinggal satu ekor, yang paling bijak. Sementara anjing-anjing mulai memburu asal teriakan tersebut.

“Duhai wanita pemberani, kau telah menunjukan keberanian yang tidak biasa dalam hutan yang siap menerkam dirimu kini. Aku sang gagak yang menguasai misteri hutan ini, siap menjawab tantanganmu!”

“Duhai gagak yang bijak dan mengetahui, tunjukkan kami jalan keluar dari labirin ini dan tunjukkan langkah yang menghindarkan dari anjing-anjing lapar!” sang wanita membalas.

“Mengapa aku harus membantumu?”  tanya sang gagak.

“Agar kau dapat membuktikan padaku bahwa benar kau menguasai misteri hutan ini.” jawab sang wanita.

“Lebih baik aku membiarkanmu mati dan menjadi makan malamku duhai wanita pemberani”

“Kalau kau benar mengetahui, tahukah kau obat yang dapat menyembuhkan kebutaan ini, dan menghilangkan kelumpuhan kaki ini duhai gagak yang bijaksana?” sang wanita bertanya.

“Kematian, duhai wanita pemberani. Tak ada yang mampu mengembalikan pengelihatanmu, atau menyembuhkan kaki-kakimu.”

“Kau salah! Sungguh kau tidak mengetahui. Kau hanya bisa beromong kosong…” sang wanita menghina.

“Tidak mungkin! Beritahu aku dan aku akan menyelamatkanmu dari anjing-anjing lapar dan ketersesatan.”

“Aku akan menunjukkanya padamu, semua itu ada di bukit di selatan, dibalik lebatnya hutan ini, tunjukkan sang domba yang perkasa kemana ia harus melangkah membawaku keluar dari hutan ini.”

            Segera sang gagak melesat menembus pepohonan menuju langit dan melihat hutan dari ketinggian, lantas menukik tajam, memberi tanda bagi sang domba, kemana ia harus melangkah. Menembus kabut, menjauhi kejaran anjing-anjing liar yang lapar. Hingga mereka tiba di tepi hutan, kembali teracak kaki sang domba menyentuh padang rumput yang menjingga seiring matahari yang mulai tenggelam. Ketiganya melanjutkan perjalanan. Sang gagak terbang tinggi menunjukkan arah sedang sang domba mengikuti.

“Kita harus sampai sebelum malam datang, aku tidak dapat melihat sang gagak dalam kegelapan.”  kata sang domba sambil berlari kelelahan.

            Sekuat tenaga ia melangkah, hingga sang gagak hinggap di bahu wanita buta. Malam telah tiba, matahari berganti menjadi bulan yang terangnya tidak seberapa dibanding kegelapan langit.

“Aku kira aku sudah tidak bisa mengarahkan kalian, kita tunggu saja hingga fajar membara.” kata sang gagak.

“Dan aku tidak berani melangkah atas apa yang tidak aku lihat, serta aku tidak tahu kemana aku mengarah.” tambah sang domba, kemudian ia bersimpuh beristirahat.

            Kemudian sang wanita turun dari punggung sang domba, menyeret tubuhnya dengan kedua tangannya cepat. Diantara alang-alang dia tertatih menjauh dari sang domba dan gagak yang hanya pasrah diam menunggu. Mendadak sang wanita menggeram kesakitan. Tanganya tidak sengaja menggenggam seekor ular yang berdesis. Terkejut, sang ular menggigit tangan wanita itu dan menyuntikkan racun ke dalam tubuhnya. Sang ular pergi menjauh, sedang sang wanita buta duduk terdiam. Beberapa saat kemudian sang ular kembali menghampiri wanita buta yang tampak tak bergerak sedari tadi, memastikan apakah korbannya sudah siap disantap.

“Aku mendengar desisanmu dari kejauhan, maaf mengejutkanmu, aku tidak dapat melihat.” tiba-tiba sang wanita berkata, dan mengejutkan sang ular yang mengira dia sudah mati.

“Bagaimana mungkin kau selamat dari gigitanku?”

“Karena aku tidak bergerak, dan bisa mu tidak menyebar. Segera aku menghisapnya keluar.” jawab sang wanita buta.

“Tidakkah kau berusaha melawanku? atau mengejarku dan menangkapku yang telah menggigitmu dengan penuh kebencian?” tanya sang ular.

“Tidak. Aku memaafkanmu. Lagipula, Kebutaan ini tidak memungkinkan untuk menangkapmu.”

“Atau tidakkah kau lari menjauh ketakutan?”

“Tidak. Aku percaya padamu. Lagipula, Aku tidak mampu berjalan.”

“Dengan siapa aku berbicara oh wanita pemberani?” tanya sang ular.

“Oh ular yang anggun, Aku mengembara dari desa di utara. Membawa seekor domba dan gagak. Namun, ketika hari sudah gelap, tak ada dari mereka yang sanggup melanjutkan. Ketika aku mendengar desismu, siapa lagi yang bisa kuandalkan dalam gelapnya malam selain dikau yang merasakan apa yang tidak kami rasa dan melihat melaluinya?”

“Belum pernah ada yang selamat dari racunku, dan berbicara seperti itu pada pembunuh berdarah dingin seperti diriku. Apa yang aku harus lakukan oh pengembara buta? Apa yang kau butuhkan dariku?” sang ular kembali bertanya.

“Adakah sebuah bukit disekitar sini oh ular yang anggun?” tanya sang wanita buta setengah berbisik.

“Ada, namun tidak ada apapun disana oh pengembara buta. Apa gerangan yang kau cari?”

“Syukurlah, Aku berjanji mengantarkan kedua hewan itu menuju bukit di selatan. Aku mencari seekor ular yang dapat kupercaya, anggun, mematikan, dan mampu melindungiku. ” jawab sang wanita buta penuh keyakinan.

“Adalah kehormatan bagiku mendampingi seorang pengembara sepertimu nona.” balas sang ular.

            Sang wanita buta memanggil domba dan gagak untuk melanjutkan perjalanan. Ular yang mereka temui menuntun jalan mereka dalam kegelapan, merayap diantara kaki-kaki sang domba menuju bukit di selatan.

            Matahari mulai merekah kembali di ujung langit pagi hari, keempatnya tiba di bukit yang dimaksud sang ular. Sang domba perkasa yang kelaparan dan lelah segera merumput. Menyantap rerumputan di bukit di selatan. Rumput paling nikmat yang pernah ia rasakan seumur hidupnya. Sedangkan sang gagak yang bijaksana, menemukan bahwa obat yang mampu membuat sang wanita berjalan dari utara ke selatan adalah domba yang ia tunggangi, dan mata yang membimbing wanita itu adalah penglihatan sang gagak sendiri, ditambah sang ular yang siap melindungi dan menunjukkan jalan dalam kegelapan.

            Di bukit itu sang pengembara buta mendapatkan makanan dan air, serta jauh dari orang-orang yang memburunya, dengan bantuan ketiga pengikutnya ia bertahan hidup. Kemudian ia bepergian dari hutan ke hutan, hingga menjadi legenda, seorang abdi alam, penyihir yang mengendalikan tanaman dan hewan.

            Sementara, ular yang tidak pernah buas selalu bertanya, ” Rumput mana lagi yang ingin kau cicipi wahai domba perkasa? Langit mana lagi yang ingin kau bongkar rahasianya duhai gagak bijak? Dan, bukit mana lagi yang akan kau taklukan wahai pengembara buta?”

 

 

“Dan…sekarang waktunya kau tidur…” kata si Hitam lelaki yang tak pernah kehilangan karisma. Di kamar yang penuh dengan warna putih ini dan kasur yang empuk senantiasa memberi kenyamanan pada malam yang dingin yang menusuk. Si Putih yang terus terbaring di sampingnya terlonjak dan merasa heran.

“Hey, kenapa tidur?”

“Karena ceritaku sudah selesai…biasanya dongeng sebelum tidur membawamu tidur, bukan?” tanyanya sambil menatap langit-langit ruangan.

“Aku pikir belum selesai. Lalu apa maksud dari cerita itu?”

“Sejak kapan kau sekritis ini? Biasanya kau tidak pernah bertanya maksud cerita-ceritaku setiap malam…” si Hitam terheran.

“Kali ini aku ingin tahu, dan aku butuh untuk tahu, karena cerita ini menggelitik untukku.”

Mereka terdiam sejenak, tak ada yang bergerak dan saling menunggu.

“Baiklah,…” si Hitam merubah posisi tubuhnya dan menatap dalam mata si Putih yang penuh rasa penasaran, “…aku akan menjelaskannya padamu…”

“Semua tokoh itu adalah proyeksi kehidupan, yang selalu ada dan saling terhubung. Setiap manusia pasti memilikinya. Setiap hal yang tersebut dalam kisah memiliki arti yang sebenarnya. Domba digambarkan  sebagai tubuh, yang bergerak menurut nafsu dan akan terus menerus seperti itu. Tubuhlah yang membawa kita kemana saja, ingin melakukan apa saja. Yang membantu kita mencapai hal yang kita inginkan untuk kita gapai. Gagak digambarkan sebagai pikiran, logika yang tak berhenti, perhitungan menurut kenyataan, pikiran itu tak pernah terkalahkan, selalu ada jalan. Dan ular, ular adalah hati…yang menuntun seluruh raga dan pikiran ini untuk jernih dan melakukan hal yang benar, bagian terhalus dari semuanya, tak terkalahkan dengan caranya sendiri.”

Sejenak si Hitam dan Putih terdiam lagi saling menatap.

“Lalu bagaimana dengan wanita Buta? Kau bilang semua hal yang tersebut dalam cerita itu memili arti sebenarnya” tanya si Putih.

“Kau pintar…” si Hitam tersenyum, “Kisah itu menggambarkan kehidupan. Hutan, langit, suara adalah proyeksi dari semua. Mereka bagaikan jalan, cara dan hambatan yang sering kita temukan. Bagaimana dengan wanita buta itu? Wanita buta itu adalah diri ini, Putih. Diri yang tak tahu arah dan tujuan seperti wanita buta itu tak tahu sebenarnya ingin kemana. Ia hanya menyebutkan harapan akan tempat yang ia sendiri tak tahu ada atau tidak kebenarannya. Ia hanya penuh dengan harapan dan harapan. Hal terpenting adalah, ia tidak bisa apa-apa. Ia tak punya daya dan upaya untuk menggapai harapannya, tanpa ke tiga hal itu, si Domba, Gagak dan Ular…”

“Jadi maksudmu…” potong si Putih, “…wanita buta adalah Jiwa?”

“Cerdas…ya, wanita buta itu adalah jiwa yang tak akan pernah bisa memimpin dirinya tanpa tubuh, pikiran dan hati. Dan kau tahu, hal yang perlu kau pahami adalah, domba, gagak dan ular itu memiliki keegoisan yang sama dan tak terkalahkan. Mereka punya bakat masing-masing untuk menang. Dan yang terkalahkan adalah yang lainnya. Kabar baiknya adalah, satu-satunya yang bisa mengontrol mereka semua adalah diri kita sendiri, kebutaan yang jenius itu, kau perlu tahu itu, Putih…”

“Maksudnya?”

“Seberapa pun domba, gagak, dan ular menguasai si wanita buta, wanita buta tetap bisa mengontrol keadaan dan tak pernah goyah dari tujuannya…itulah diri kita yang luar biasa, Putih…diri kita sebenarnya mampu untuk tak terganggu dengan betapa dahsyatnya kendali diluar diri; akan nafsu, akan pemikiran-pemikiran yang tak berujung, dan kelemahan hati kita yang bisa menghancurkan tujuan dan mimpi kita. Tapi diri ini lah kesejatian itu, diri dan jiwa ini yang selalu ingat akan tujuan yang harus kita gapai, dan terus tersadar.”

Si Putih tersenyum.

“Jadi apa tujuan hidupmu?” tanya si Hitam.

“Menjadi cantik, pintar, dan seksi…”

“Ahhh…itu kurang spesifik, buat lebih jelas, Putih…”

“Baiklah…aku ingin menjadi penyanyi terkenal…” si Putih mengangkat alis seakan bertanya apakah itu benar.

“Mmmm…sudah lebih spesifik , tapi tentukan tujuan awalmu sedikit lagi…”

“Okee…aku ingin memenangkan sebuah perlombaan menyanyi yang akan datang sebentar lagi…”

“Kalau begitu, buat si domba, gagak, dan ularmu untuk bekerja sama…jangan biarkan mereka mendominasi dirimu, hai wanita buta…”

Merahnya Hitam Putih – by @halimunali

Sebuah kotak musik berdering anggun, mengaung di sunyinya kamarku yang besar. Aku terduduk di kasur, di samping jendela, menatap ke langit kelam siang itu. Jingga belum datang, kini hanya ada kelabu yang siap menangis.

Aku menghela napas panjang, dan berdiri. Meresapi tiap nada yang melayang di udara, menyelaraskanya dengan langkahku. Kedua lenganku berayun santai. Berputar dan tersenyum, sementara gaun putih ini berkibar bagai mangkuk yang berputar. Tuk… alunan merdu mendadak terhentak, berhenti. Kotak musik tua itu membisu, seiring dengan berhentinya langkah-langkah kecil, dan ayunan tanganku. Ku ambil kotak musik itu. Agaknya kotak musik tua pemberian ibuku ini memang sudah rusak.

Aku berdiri terpaku ditengah kamar, menatap kotak itu. Diam.  Angin dingin berhembus masuk, melalui jajaran jendela besar di kamarku yang suram. Hening. Bosan. Bingung.

“Hidup itu hanya sekedar rangkaian napas. Tak ada yang begitu berarti dalam hidup ini. Tak ada yang berkuasa melawan waktu yang berlalu.” Berapapun kata menggema diantara dinding ini, mereka tetaplah dinding bisu. Hanya aku dan batinku, monolog semu.

“Mengapa kau berhenti menari?”  seseorang berkata, dari luar sana.

Aku menatap menembus jendela, tak puas, lantas aku berjalan, membuka pintu. Disini aku, di balkon kamarku, di lantai dua.

Mataku memburu. Seperti setitik tinta yang terjatuh di kertas putih, mencuri pandanganku pada satu arah, mengoyak sepi menembus rindangnya pepohonan dan daun-daun yang berjatuhan. Seorang pria aneh berbaju hitam, duduk santai di sebuah batang pohon di depan rumahku, tak jauh dari tepi jendela kamarku.

 “Boo!” suaranya meletup ketika mata kami bertemu.

“Sejak kapan kau berada disana!?” tanyaku ketus.

Ia menatapku dalam, dan tersenyum. Sekejap saja ekspresi wajahnya yang misterius dan dingin berubah jadi senyum hangat nan lebar, bahkan mungkin bibirnya mempertemukan kedua telinganya, lantas menyeringai.

Pria itu menjawab dengan tenang, “Baru kali ini aku melihatmu menari… biasanya kau hanya duduk termenung di balkon itu, menatap langit.”

            “Jawab pertanyaanku! Sejak kapan kau berada disitu?! Dan beraninya kau memata-mataiku!?”

            “Sejak kapan aku berkewajiban untuk menjawab pertanyaanmu?” balasnya.

Aku menatap tajam penuh kekesalan. Tapi dia malah tertawa. Seperti anak panah terhempas tameng, dan gagal menusuk hatinya.

Ayah!!! Akan kupanggilkan Ayahku!Dia akan menangkapmu wahai penyelinap! aku menjerit.

“Memangnya dia ada di rumah?” balasnya dengan nada merendahkan yang membuat aku makin jengkel.

“Dia tadi baru pulang! Tunggu! Lihat saja! Aku akan memanggilnya! aku berlari keluar kamar menuju lantai dasar sambil berteriak memanggil. Sesampainya di separuh dari seluruh anak tangga rumahku, mataku memburu. Hanya ada ruang-ruang kosong dan dua orang pelayan yang membersihkan perabot.

“Baru pergi lagi non bapaknya…” balas seorang dari mereka.

Kembali dengan setengah berlari, aku di balkon kamarku. Sendiri? Kemana pria itu? Dan kotak musikku! Tadi kutinggalkan disini! Dia mencurinya!

 

***

 

 

Langitnya mendung seperti kemarin. Aku merenung, memikirkan kotak musikku yang hilang dicuri orang. Apakah dia akan datang lagi? Semoga saja iya… aku  ingin kotak itu kembali.

“Hai! Hari ini kau kembali duduk disana, menatap langit, dan memikirkan aku?” Mendadak suara itu melesat masuk ke telingaku.

“Kembalikan kotak musik milikku, dasar pencuri! Dan aku tak pernah memikirkanmu!”

Sambil tertawa dia menjawab, “Ah! Sekarang kau menuduh aku pencuri… sedang kau mencuri diriku dalam pikiranmu.”

“Cepat kembalikan kotak itu!Kotak itu yang kupikirkan, bukan dirimu!

“A’a… panggil saja ayahmu, suruh dia menangkapku dan mengambil kotakmu.”

Ayah belum pulang, sejak kemarin ia belum kembali.

“Aku mohon kembalikan kotak itu!” Aku berteriak, memohon, menunduk, dan air mata menyelinap, lantas jatuh dari kelopak mataku.

Aku kembali mengangkat kepala ini. Tiba-tiba dia sudah ada di hadapanku, entah bagaimana caranya. Pria itu, begitu dekat dan berbisik di telingaku.

“Kotak itu menceritakan segalanya padaku.”

Lalu ia menutup mataku dengan tangannya…

Begitu aku membuka mata, aku melihat ibuku! Cantik. Memberi sebuah kotak, kotak musik, yang mengalunkan lagu fur elise. Aku, aku masih kecil. Ibuku memutar tungkai kotak itu. Aku menari, menari, terjatuh, dan ibu membantu aku bangun dan menari bersamaku. Hari-hari bahagia terdahulu, aku melintas waktu. Aku, ibu, dan senyum. Terus… hingga hari itu. Ayah mabuk. Ia menjemput Ibu setelah mengajar. Lalu Ibu mati. Bersama semua senyumku. Ayah… Ayah pada hidupnya sendiri. Membuang kotak itu dan yang lainnya ke gudang. Ya, kegudang. Salah satu pelayan di rumahku mencarikannya untukku. Ketemu! Tapi sudah rusak. Lalu… lalu aku melihat wajah orang asing. Seorang pria, berbaju hitam, tersenyum menyerahkan kotak musik itu… terbuka, melantunkan lagu. Terus, sampai habis. Tidak berhenti ditengah jalan. Aku memejamkan mata, menikmati alunan nadanya, menari, dan tersenyum.

“Woi…” letupan suara itu membuat mataku terbuka.

Aku sendiri… di balkon bersama kotak musik yang terbuka dan melantunkan lagu, terus, sampai habis tidak berhenti di tengah lagu.

 

***

 

Hari ini, lebih cerah dari hari-hari lainnya. Langit masih murung, tapi siapa peduli. Aku tak menatap langit. Aku membuka jendela kamarku lebar-lebar, lalu keluar menuju balkon. Duduk di tepian, menatap pohon besar di hadapanku, di sana di seberang balkon ini.

Dia tidak ada, tidak duduk disana seperti biasa. Masih pagi, mungkin dia belum bangun. Atau dia sedang berjalan menuju kemari dari rumahnya. Lucu juga dia. Duduk di pohon itu setiap hari dan memperhatikan aku. Kenapa tidak bilang saja, atau menyapaku? Atau memang dia orang aneh mesum yang hobinya mengintip.

 Aku terus bertanya-tanya, bercakap-cakap dengan suara-suara kecil dari hatiku. Apa aku wawancarai saja pohon itu? Andai pohon besar itu bisa bicara. Seperti orang gila, aku senyum sendirian, menatap ke sana ke pohon itu.

Aku penasaran, bagaimana dia memanjat? Aku tertawa membayangkanya. Ah, mungkin dia lelaki bajingan yang memanjat pohon untuk mengintip kamar seorang gadis kan? Apa saja yang sudah dia lihat!? Apakah dia melakukan itu setiap hari? Rasa-rasanya aku mulai termakan batinku sendiri.

Tiba-tiba terdengar suara yang mulai familiar di telingaku, dari atas, diatap rumahku.

“Kenapa kau sangat suka bengong di balkon itu? Bukankah aku sudah memperbaiki kotak musikmu itu? Menarilah!”

“Sejak kapan kau ada disana!?”

“Sejak kapan aku wajib menjawab pertanyaanmu!?” balasnya bertanya.

“Kalau begitu aku tidak akan menjawab pertanyaanmu! Dan sejak kapan aku harus menari untuk menghiburmu! Jangan harap!” jawabku ketus.

“Ya sudah, siapa juga yang butuh jawaban dari perempuan gila yang tertawa sendiri dan berbicara dengan pohon.” Balasnya.

  “Hei! Mengapa kau tidak memanjat pohon itu! Dan bagaimana kau bisa naik kesana!?”

“Ahahahahahaha! Kau berharap aku datang padamu dan menantiku di pohon itu.” Jawabnya tertawa puas, lalu menyeringai.

“Tidak! Aku ingin melihatmu jatuh saat memanjat pohon itu!

“Aku sudah jatuh. Jatuh dari langit. Bukankah kau lebih suka menatap langit? Jadi aku datang dari langit.”

Aku tersenyum, dan berkata, “Langit sekarang hanya muram dan menangis. Lagipula ada hal lain yang lebih aku sukai daripada menatap langit dari balkon ini.”

“Apa?”

Yaitu tadi! Melihatmu jatuh dari pohon itu!” jawabku sambil tersenyum.

Hei bodoh, aku sedang menawarkan jasa mengabulkan keinginan. Satu keinginan. Dan kau hanya ingin aku jatuh dari pohon itu!?”

“Mengapa kau mau mengabulkan keinginanku?” aku bertanya.

Dia turun dari atap ke balkon, berjalan melewatiku, melompati tralis pagar balkon dan melayang! Ya, dia menyusun lompatan-lompatan langkah kecil antara dahan menuju pohon tempat ia biasa bertengger, sambil berkata.

“Kau tahu kupu-kupu?”

“Ya, tentu saja,”

“Umur kupu-kupu adalah seminggu. Seminggu, atau 2 minggu, atau sebulan, atau berapapun lamanya yang masih tak dapat dikatakan panjang. Seekor kupu-kupu tak pernah hidup sampai satu tahun,”

“Oh ya? Mereka semua sudah menjadi tanah sebelum waktu yang dibutuhkan bayi untuk bisa berjalan tercapai?” aku bertanya.

Pernah sempat kupikirkan berapa luas dari dunia ini yang sempat mereka nikmati dalam waktu hidupnya yang singkat itu. Banyak yang mati dan kemudian menjadi tanah, meyambung lingkaran rantai kehidupan di dunia ini, hancur dan kemudian dihisap tanaman yang madunya dimakan oleh anak cucu mereka sendiri, dan ada juga yang terus membeku menghiasi kotak koleksi para kolektor serangga.”

“Lalu?”

Kemudia ia bertanya padaku, “Pernahkah sempat terbersit di pikiranmu, apakah mereka puas dengan kehidupan sesingkat itu?”

Pertanyaan tersebut menghentikan lidahku. Aku berpikir sejenak, hendak menjawab, namun Ia keburu melanjutkan.

“Mereka terus menari. Mereka seakan melompat-lompat dari satu bunga ke bunga lainnya. Tak peduli dengan tetesan air hujan yang memberatkan kepakan sayap mereka, yang harus berusaha mereka hindari.Seperti hujan hujaman anak panah yang siap merobek sayap mereka, namun mereka terus berkelana.” kisahnya dengan semangat.

Dengan yakin aku melanjutkan, “Mereka ingin menghabisi masa hidupnya dengan warna! Mereka selalu mencari bunga-bunga yang terindah, yang terharum dari sekumpulan makhluk cantik itu. Mencicipi madu yang manis, seakan berkenalan dengan warna yang baru yang ia temui di mahkota setiap bunga…”

“Bayangkan jika mereka manusia…” ucapnya.

“Mereka justru menghabiskan waktu untuk merengut, berkeluh kesah dan menggerutu, atas umurnya yang pendek itu.Atau mempertanyakan kenapa hari hujan.”  Balasku.

“Tidak, tentu mereka tidak punya waktu sebanyak itu! Yang harus kau lakukan adalah hanya menghitung pertemuanmu dengan matahari sampai 7 kali, sebelum kau terbebas dari kehidupan ini.”

Lalu aku bertanya, “Apakah mereka meneteskan air mata saat mereka kelelahan bersuka ria berdansa di udara dan bertengger di tangkai kecil? Apakah mereka sedih karena mereka melewatkan waktunya dengan lelah?”

“Untuk apa mereka menangis? Hidup tak mengasihani mereka, meskipun mereka menangis. Mereka selalu tampak angkuh, terus berpergian saat kau mencoba menangkapnya. Tapi yang mereka inginkan hanyalah bebas, mereka tak punya waktu untuk terkekang. Jika kau hanya punya seminggu untuk hidup, kau pun akan begitu.” Jawabnya.

“Ya, meski mereka dengar detakan jam dinding di kamarku yang setia menghitung mundur umurnya yang singkat, meski turun hujan, meski lelah, mereka tetap menari. Tapi aku, kita, bukan kupu-kupu!”

“Kita memang bukan kupu-kupu, tapi apa menurutmu, umur manusia itu pasti lama?”  ucapnya. Lalu Ia datang menghampiriku, memegang tanganku dan berkata sambil tersenyum, “Hiduplah! Lalu setelah itu bebaskan dirimu dari kehidupan ini.”

 

***

 

“Jika kau menjadi kupu-kupu, kemana kau akan terbang?” Ia bertanya perlahan.

“Aku ingin terbang ke langit…”

“Angan-angan klise… bisakah kau lebih imajinatif?” Ia mengejek.

“Ah! Dengar dulu! Ibuku dulu sekolah di Eropa, katanya sore hari di musim dingin, sangatlah indah!”

Lalu ia berkata sambil menjauh pergi, menuju pohon di seberang sana, “Intinya, kau ingin kesana?”

“Bukan, aku belum selesai bicara! Aku ingin terbang ke langit, menembus salju yang berjatuhan menuju tempat salju dibuat!”

“Hei bodoh, kau ini kupu-kupu, bukan pesawat Apollo atau satelit cuaca!” setelah menyelesaikan kata-katanya, wajahnya menengadah ke atas sambil berusaha menggoyang-goyangkan pohon besar itu.

Salju! Berjatuhan diantara rindangnya dedaunan dan dahan. Angin yang berhembus mengantarkan mereka kearahku dan mendarat di wajahku. Dingin.

“Waaaah! Bagaimana mungkin?” aku bertanya sambil menjatuhkan pandangan ke dahan pohon di seberang… dia hilang… kemana dia.

Salju terus berjatuhan, aku berdiri di tepi balkon ini sendiri, melihat langit yang cemberut, tapi gagal mematahkan senyumku.

 

 

***

 

 Suara tiap tetes air yang jatuh ke bumi berdetakan, saling menyusul, mengantarkanku membuka mata hari itu. Akhirnya langit menangis juga. Segeralah aku bangkit dan melangkah menuju balkon. Jangan-jangan pria itu kehujanan dan menunggu di pohon itu! Atau di atap rumahku?

Aku membuka pintu, dan mataku memburu. Tak ada sosok orang itu. Hujan begitu deras. Dia tidak akan datang.

Mendadak terdengar suara seorang pria dari halaman rumahku di bawah sana. Mungkinkah itu dia?

“Hai” teriak seseorang berpayung biru, membawa seikat mawar. Dia membawa seikat mawar. Aku tidak percaya.

“Kupikir kau tidak akan datang!” aku berteriak, penuh semangat.

Mata kami bertemu, wajahnya muncul dari balik payung, dan orang itu bukan dia yang kutunggu.

“Ah! Aku tau kamu menunggu aku! Aku segera keatas, tunggu aku yah! Oh iya, ini aku belikan seikat mawar dan coklat” balasnya.

Tak lama kemudian ayah berjalan dibelakangnya, mereka saling bicara sebentar, sepertinya, membicarakan aku. Pria di bawah sana, adalah anak rekan kerja ayah. Dan ayah berusaha menjodohkanya denganku. Sial. Dan aku malah menyapanya dengan ramah penuh semangat, dan tak lama lagi dia sampai dihadapanku. Sial kuadrat.

“Aku pikir aku berhasil mencegah langit yang murung, untuk tidak menangis.”

Kalimat itu menyeret pandanganku ke pohon di seberang sana. Suara yang tak asing lagi, sosok yang kunanti berdiri di dahan itu dengan basah kuyup.

“Tidak… kau berhasil melakukan lebih dari sekedar membuatnya tidak menangis, kau membuatnya tersenyum…” kataku sambil tersenyum.

“Kemana saja kau! Kupikir kau tak akan datang…” aku menambahkan.

“Bukankah sudah kubilang, meskipun hujan turun mereka tetap beterbangan dan menari.”

“Jadi kau kupu-kupu?”

Tiba-tiba terdengar suara dari dalam kamar. Ah, ayah dan mantu idamanya itu sudah nampak di pintu kamarku.

“Bisakah kau mem…” belum selesai aku berkata, Ia menggenggam tanganku dan mengajak tubuh ini melayang menembus hujan, menuju pohon besar di seberang balkon rumahku.

Kami berdua menunduk, bersembunyi. Tampak di seberang sana, ayah dan mantu idamannya kebingungan mencariku, melihat sekitar, menyerah dan kembali keluar dari kamarku.

 Kami berdua tertawa, suara kami bertempur dengan derasnya suara hujan.

“Tadi kau bertanya apa?”

“Jadi kau kupu-kupu?” aku membalas.

“Menurutmu?”

“Bukankah kupu-kupu itu penuh warna? Tidak seperti kau…”

Lalu ia duduk berhadapan dengan ku, matanya menatapku dalam, dan berkata, “Hitam itu, adalah semua warna yang menyatu, kuat dan pekat.”

“Oh ya?”

“Ya.” Jawabnya yakin dan tegas.

“Sementara putih itu hampa dan kosong.” Ia menambahkan.

“Kalau begitu beri aku warna.”

“Kuberikan kau merahku.”

            Aku bingung mau berkata apa, rasanya lompat kebawah sana adalah jalan yang tepat. Tapi aku mengurungkan niatku itu.

“Apa? Aduh, hujan begitu deras, suaramu tidak terdengar jelas.” Aku beralibi. Dan dia malah tertawa puas. Brengsek.

Hujan mulai mereda. Dia berhenti tertawa, dan menempelkan jari telunjuknya ke bibirku, “Sssttt.”

Lalu ia menunjuk ke langit, ke arah pelangi yang merekah diantara kelabu. Indah.

“Wah… kan sudah kubilang kau berhasil membuat langit tersenyum.” ucapku.

“Ssst… bukan hanya langit yang tersenyum…”

“Ya… aku juga tersenyum…”

“Ya… iya… terserahlah, bukan itu maksudku.”

Err… kali ini aku bingung mau berkata apa lagi, sebaiknya aku diam sebelum makin parah. Dan dia malah tertawa melihat kebodohanku ini.

“Kau dengar itu?” Ia bertanya.

Perlahan terdengar suara kodok dan jangkrik, makin lama makin nyaring, dan beberapa kupu-kupu terlihat beterbangan. Indah.

“Ya…”

“Dulu Ibu pernah mengajakku pergi, dan ternyata hari itu hujan, dan kami berteduh di bawah pohon seperti ini.”

“Dia menyayangimu.”

“Ya.”

“Dan aku bukan Ibumu…”

“Ehm… ya.”

Keadaan menjadi hening, hanya suara-suara kodok dan jangkrik di bawah sana, serta tetesan air sisa-sisa hujan. Kami berdua memandang pelangi yang mulai pudar.

Dia menengok dan memandangku, lalu bertanya,

“Adakah yang ingin kau katakan?”

“Oh, iya… itu, pelanginya mulai sirna,” aku menjawab gugup. Ia tetap memandangku.

“Hanya itu yang ingin kau katakan? Karena aku harus pergi sekarang.”

“Pergi? Kemana?”

“Aku harus pergi.”

Baru kali ini dia berpamitan, biasanya dia menghilang begitu saja.

“Benar tak ada yang ingin kau katakan lagi?” Ia menambahkan.

“Entahlah…”

“Andai aku adalah Ibumu. Apa yang akan kau katakan?”

“Eem… Aku menyayangimu…”

“Aku atau Ibumu?” ia bertanya.

“Ibumu”

“Hah?”

“Maksudku Ibuku!”

“Baiklah, aku pergi. Kesempatan bicaramu sudah habis.” Setelah selesai bicara, dia melompat turun dan menghilang.

“Bagaimana aku turun!” aku berteriak, namun dia sudah entah dimana. Brengsek.

***

 

Hari menjelang malam. Aku berhasil turun dari pohon itu dengan selamat. Perlahan aku berjalan menuju rumahku. Aku disambut seorang pelayan di rumahku,  dengan wajah cemas dan handuk, ia menghampiriku. Segera aku mengeringkan diri dengan handuk.

“Non, kemana aja sih, dicariin ayah, dia marah-marah non…” katanya cemas. Sementara hanya kubalas dengan senyum.

Tak lama kemudian keluarlah si mantu idaman ayah dari rumah. Ia menghampiriku dan berkata,

“Kemana aja kamu, aku sangat mencemaskanmu. Kamu bisa sakit, basah-basahan seperti ini.” Sambil berusaha merangkulku, namun aku berontak.

“Bi, cepat sana buatkan teh.” Dan pelayan rumahku bergegas pergi.  “Aku baik-baik saja” tambahku.

“Lihat kamu tidak memakai sandal, kakimu bisa terluka.”  Ujarnya sambil membungkuk memeriksa kakiku, sementara aku terus berjalan, tak menghiraukan. Begitu aku sampai didepan pintu, ayah telah menunggu di ruang tamu. Aku memberanikan diriku untuk masuk.

“Dari mana saja kau!?” tanyanya ketus, setengah berteriak.

Aku hanya menatapnya tajam. Diam.

“Jawab!”

“Sejak kapan aku berkewajiban menjawab pertanyaanmu!?”

“Aku ini ayahmu! Orangtuamu! Sudah berani melawan yah!”

“Iya, jawab kamu. Jangan melawan orang tua.” Mantu idamanya itu, yang kini berdiri di samping ayah dia menambahkan. Membuatku makin jengkel.

“Orang tuaku hanya ibu, dan dia sudah mati karena kau!” aku membentak, “Kau hanya pria tua yang sibuk bekerja, dan dilucuti perempuan jalang itu! Kau bukan Ayahku”  

Selesai aku berucap, sebuah tamparan pedas mendarat di wajahku. Aku tidak peduli. Kebencianku menggebu. Aku terbakar kebencian, air mataku meleleh di pipi.

“Ayahku adalah orang yang mencintai ibuku, bukan menghapus dirinya dari kehidupan dan menggantikankanya dengan perempuan jalang!”

“Kau tidak boleh berkata seperti itu pada ayahmu!” pria disebelah Ayah berkata.

“Diam kau penjilat!” aku memaki dan meninggalkan mereka berdua, ke lantai atas, ke balkon. Ayah masih terpaku disana, terpaku kata-kata.

Sesampainya aku dikamar, aku langsung membuka pintu menuju balkon. Namun tak ada seorangpun disana. Dia, bagaimana caraku memanggil dia. Haruskah aku menunggu hingga esok.

Aku duduk di tepi dan menangis. Tak lama kemudian, aku menatap pohon itu, dia duduk disana melihatku menangis.

“Mereka terus menari. Mereka seakan melompat-lompat dari satu bunga ke bunga lainnya. Tak peduli dengan tetesan air hujan yang memberatkan kepakan sayapnya, mereka terus berkelana. Mereka ingin menghabisi masa hidupnya dengan warna, mereka selalu mencari bunga-bunga yang terindah, yang terharum. Mencicipi madu yang manis, berkenalan dengan warna yang baru yang ia temui di mahkota setiap bunga.”

“Aku ingin jadi kupu-kupu, mereka tidak perlu memiliki waktu untuk merengut, memikirkan masalah dalam hidupnya yang menghantui pikirannya. Mereka tidak memiliki waktu untuk berkeluh kesah.”

Ia mendekat, tersenyum padaku dan berkata,

“Aku harus pergi.”

“Kau benar. Mereka tampak angkuh, terus berpergian saat kau mencoba menangkapnya. Tapi yang mereka inginkan hanyalah bebas, mereka tak punya waktu untuk terkekang.” Aku berkata, kecewa.

Aku menatapnya dalam dan bertanya, “Apakah bunga itu memberimu madu yang manis? Aku punya setoples—tapi jika kuberikan pun, tentu kau tak datang.”

“Kau tau tempatku bukan di sini, di balik jendela di bawah atap, dekat perapian yang hangat.”

Tiba-tiba ayah datang, ia membuka pintu kamar, dan berusaha mencariku. Ia melihatku, dari balik jendela. Mata kami bertemu, ia menangis, menunduk dan berjalan mendekatiku.

Aku mengalihkan pandanganku, kembali menatap dia yang kini berdiri dihadapanku. Kedua tangannya berada di pipiku. Kami begitu dekat. Aku bisa mendengar suara napasnya.

Ia mendekatkan wajahnya, berbisik di telingaku,

“Kini kau bebas.”

Ia menurunkan tanganya, meletakkanya di pundakku dan memutar badanku menghadap sisi lain, membelakangi dia. Dan kini aku berhadapan dengan ayah.

Pria itu menangis, matanya basah berkaca-kaca. Kami berdua berjalan mendekat. Ia memeluk erat tubuhku. Aku mendengar detak jantungnya yang menggebu-gebu. Tubuhnya yang hangat bergetar menangis, tak berhenti mengucap maaf. Maaf padaku. Pada Ibu. Pada segalanya. Aku terdiam membisu. Air mataku jatuh lagi, di bahunya, bahu ayah. Bahu ayahku.

“Pergi! Kupu-kupu itu akan segera pergi!” Batinku memperingatkan. Aku melepaskan diri dari pelukan hangat ayahku. Berbalik, berpaling darinya. Pria itu, pria aneh berbaju hitam, melayang. Aku berlari, memanjat, melampaui tralis pagar tepian balkon ini. Dan berteriak.

“Aku ingin selalu bersamamu!”

Dia mendengarnya! Langkahnya berhenti, wajahnya menengok ke belakang, menatap aku. Mata kami bertemu, Ia tersenyum. Aku tertawa bahagia. Tubuhnya berpaling menghadapku, kedua tangannya terbuka lebar seraya menyambut.

Kini aku melayang… Tapi hanya untuk beberapa detik.

 

***