“A Real Man…”

“Tos…” kata Romy memulai.

Dentingan gelas terdengar begitu kecil saat mereka beradu di tengah meriah dan gemerlapnya ruangan penuh sesak manusia yang berpesta pora penikmat suasana tengah malam Jakarta di salah satu tempat hiburan malam . Disanalah Jay dan Romy duduk bersama di depan meja bar, menikmati minuman penghilang penat. Disanalah pula dua sosok lelaki sosialita Jakarta yang sibuk menguntai cerita dibalut kemeja dan jins .

“Je…” panggil Romy lembut sambil menaruh tangan dan di bahu Jay yang sedang meminum sedikit demi sedikit, “ …gak nyangka ya kita udah selama ini.”

“Apanya My…?” jawabnya dengan panggilan kesayangan.

“Hubungan kita…”

Jay tertegun. Ya, tak terasa hubungan unik dan penuh ketidakjelasan antara mereka ini sudah berjalan lima tahun. Hubungan yang tak semestinya, gelagat yang tak semestinya. Tak terasa semua itu berjalan cukup lama dan tak hanya sesederhana itu. Rasa cinta dan sayang diantara mereka tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, hanya bisa dengan emosi. Hal-hal yang terlarang justru membuat pasangan ini semakin berani untuk menumbuhkan rasa diantara mereka. Perhatian sosial sudah tidak menjadi batu ganjalan untuk hubungan semacam ini, dan akan terus lumrah terjadi seiring banyak yang melakukanya.

Namun disitulah ada yang berbeda, ya, disana, hati kecil Jay yang masih bisa mengatakan ini salah, ditengah minimnya dukungan untuk menyatakan semua ini benar. Lima tahun yang aneh baginya, mencintai dan dicintai dengan cara yang berbeda. Bahkan dalam memperlakukan dirinya sendiri. Tapi tak bisa dipungkiri, Romy adalah separuh dirinya. Lima tahun bukanlah waktu yang singkat, lima tahun bukanlah waktu yang tidak berarti. Cinta menguasai mereka, dua lelaki yang belum pernah merasakan cinta seorang wanita. Tapi perasaan bersalah bukanlah kendala itu. Diamnya Jay membuat Romy bingung.

“Kamu kenapa, sayang?” Tanya Romy.

“Gak apa-apa,My…” balas Jay senyum.

“Mmmmm…mungkin kamu kecapekan ya ngurus distro kamu?Gimana kalo ke rumah aku?”

“Kayaknya aku gak bisa My, aku mau tidur di rumah aja…” kata Jay menaruh gelasnya ke meja.

“Pleasee…”

Jay tak pernah bisa memosisikan dirinya  untuk bisa menolak. Hal yang tidak bisa dilakukan adalah ketika Romy menunjukkan ekspresi itu, ekspresi memelas, menatapnya dalam dan memegang lengannya sekeras itu tanda memohon.

“Oke…” hanya itu yang bisa dikatakan Jay.

 

Di lain tempat dalam waktu yang sama, ayah Jay masih terjaga. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 1 pagi. Walaupun sudah menjadi duda sejak 15 tahun yang lalu dan berusaha melaksanakan peran seorang ibu dan seorang ayah sekaligus sejak Jay masih berumur 14 tahun, ia tetap memberikan perhatian terbaiknya pada anak semata wayangnya itu.

Ia berdiri menikmati dini hari yang dingin itu di teras rumahnya, sambil menatap pekarangan rumahnya yang kian kotor dipenuhi daun berguguran dari pohon mangga yang ia rawat. 60 tahun hidupnya terasa menjadi berat saat tak ada sosok wanita yang mengurusnya. Kali ini tak ada yang bisa membantunya mengurus rumah, selain dirinya sendiri, dan mengharapkan Jay. Namun Jay tak pernah menunjukkan itu.

“Kemana itu anak…” gumamnya sambil menggaruk-garuk bahunya dan menahan rasa dingin malam itu.

Semenjak Jay berhasil membangun distro pakaian lelaki 2 tahun terakhir ini, tak bisa dielakkan mengharuskan Jay pulang larut malam, bahkan tidak sama sekali. Ayah Jay tak bisa melarang lagi, Jay sudah cukup tahu kebaikan dan keburukan untuknya.  Namun kebiasaannya menunggu kepulangan Jay setiap malam yang tanpa kabar itu tak pernah ia hilangkan. Hati dan jiwanya akan lebih tenang saat melihat Jay datang kembali melewati pintu pagar rumah sederhana itu dan mengetuk pintu dengan lembut, mencium tangan ayahnya dan pergi ke kamarnya. Ya, ke kamarnya, ruangan yang tak pernah didatangi ayah Jay. Bukan karena tidak mau, bahkan keinginan itu sangat besar, dapat melihat bagaimana anak lelakinya menata kamarnya, kehangatan kamar itu. Tapi Jay bersikeras selalu melarang ayahnya pergi ke ruangan pribadinya itu tanpa memberikan alasan mengapa.

Disitulah ayah Jay tertegun. Kenapa tidak? Pikirnya. Dengan mantap ia melangkahkan kaki masuk ke dalam dan berjalan ke pintu kamar Jay. Ketika sampai di depan pintu berwarna putih itu, ayah Jay terdiam dan hanya memandangi daun pintu, memikirkan sekali lagi tindakan yang akan dia lakukan. Ayah Jay selalu memikirkan perasaan anaknya, tak pernah ia mengecewakan Jay dengan sebuah janji. Tapi ini semua untuk apa? Terkadang ia merasa aneh, kenapa seorang ayah perlu takut untuk masuk ke kamar anaknya sendiri.

Ayah Jay pun membuka pintu perlahan, entah kenapa menjadi sedikit mencekam dengan perasaan aneh seperti itu yang menyelimuti hati seorang ayah kandung memasuki kamar anaknya yang tak pernah ia masuki. Wangi lavender pengharum ruangan langsung menghampiri hidung ayah Jay. Setelah pintu ia buka lebar-lebar, terlihatnya sebuah kamar yang rapih dengan dinding berwarna merah hati yang elegan. Setidaknya warna cat kamar ini sering dilihat sendiri oleh ayah Jay dari kejauhan. Sebuah rak buku setinggi  badan orang dewasa  memojok di sudut ruangan, tak ada ruangan disana untuk buku baru karena terlihat begitu penuhnya urutan buku itu. Ayah Jay tak menyangka anaknya adalah seorang pembaca buku. Tak jauh dari sana, terpajang sebuah lukisan berpigura emas yang mengkilap, sebuah lukisan abstrak yang sarat makna. Sebuah PC juga tertata dengan rapi beserta perangkatnya. Ayah jay melangkah lebih jauh masuk ke dalam kamar. Pandangannya yang terus mengelilingi seisi ruangan tiba-tiba berhenti di satu sisi menuju sebuah buffet yang membentuk siku-siku di sudut ruangan dekat jendela. Buffet itu penuh dengan pajangan-pajangan foto. Ayah Jay melangkah mendekatinya. Senyumnya terkembang saat melihat semua foto-foto yang terkemas rapi pada pigura kecil. Ia mengambil sebuah pigura pertama, disana ada sepasang wajah yang sangat ia cintai, almarhumah istirinya sedang menggendong Jay saat ia masih kecil di sebuah taman hiburan bermain Jakarta dengan background pepohonan dan rumput hijau, mungkin Jay masih 2 tahun saat itu. Tempat itu menjadi tempat yang sering dikunjungin keluarga kecil ini setelahnya. Ekspresi yang tulus, memancar dari wajah istrinya yang masih sehat saat itu.Terlihat betapa bahagianya mereka berdua. Air mata tak sengaja membumbung di mata ayah Jay, seakan menyesal kenapa tak ada dirinya disana. Namun melihat kebahagiaan itu terasa begitu cukup memekarkan hatinya yang rapuh. Ia taruh foto itu kembali di tempatnya.

Foto lain di sebelahnya pun tak kalah membuat ayah Jay berseri-seri, seakan tak percaya Jay menyimpan dan memberikan arti pada semua foto-foto ini. Ada si kecil Jay disana, berpakaian seragam pilot yang masih kebesaran. Ayah Jay ingat saat itu ketika umur Jay 6 tahun, Jay sering mengatakan bercita-cita ingin menjadi pilot, sehingga ayah Jay ingin memberikan kebahagiaan kepada anaknya dengan mengikutsertakan Jay pada lomba 17 Agustus di daerah rumahnya. Betapa lucu dan gagahnya Jay di foto itu, berpose sendiri dengan tegap dengan ekspresi serius. Dalam pandanganya ayah Jay tak sanggup menahan air mata untuk jatuh di pipi, tapi tak ia hapus. Ia usap foto itu seakan ingin segera memeluknya jika Jay dewasa berada di hadapannya sekarang.

Ia taruh foto kedua itu. Dengan semangat yang sama ia terus memperhatikan foto-foto yang terpajang disana. Foto saat Jay dan ayahnya ketika bermain gitar bersama di sebuah acara keluarga, foto Jay sedang mendesain baju di depan ruang tv, foto ayah Jay sedang tertidur. Semua itu kenangan-kenangan yang tak disangka sangat berarti untuk Jay, anaknya yang begitu dingin dan tak banyak bicara.

Sampailah pandangan Jay di ujung buffet itu. Terdapat sebuah kotak hitam yang cukup besar dan tidak tertutup. Ayah Jay melihat ke dalamnya, banyak pigura-pigura foto yang terbalik. Ayah Jay heran kenapa foto-foto ini tidak dipajang dengan foto-foto yang lain. Ia pun mengambil salah satu pigura itu. Saat membalikannya, sebuah foto Jay dan Romy yang saling merangkul di bahu dan tertawa bersama.

“Oohh, foto Jay sama teman-temannya…” Ayah Jay melihatnya seksama.

Sambil memegang foto itu, ia mengambil foto yang lain dari dalam kotak itu, yang ini lebih besar. Saat membalikannya, terpampang foto Romy dan Jay sedang olahraga gym bersama. Ayah Jay tertegun, karena kali ini gelagat di foto ia rasa mulai aneh. Ia mengambil foto-foto yang lain ; Jay dan Romy sedang membereskan stok baju di distro Jay, gambar mereka foto di kamar mandi hotel, foto mereka berjemur di pantai dengan memakai underwaer. Semua pigura itu berisi foto mereka.

Ayah Jay semakin cepat mengambil dan melihat semua gambar yang membuatnya terkejut itu, sampai ada yang berjatuhan dan tak diambil olehnya. Tanpa disadari tangan ayah Jay gemetaran menahan rasa kejut dan panik yang muncul tiba-tiba itu. Ekspresi bahagia dan bangga yang baru beberapa menit lalu terpampang jelas di wajahnya, kini digantikan amarah dan kecewa yang begitu dalam. Ia memperhatikan semua foto-foto yang banyak itu terus menerus bergantian, seakan berharap apa yang ia lihat adalah salah dan tidak akan mungkin terjadi. Semua foto itu mengarah pada kesimpulan yang tidak ia harapkan selama ini.

“Ternyata ketakutanku benar…”

Ayah Jay memandang keluar jendela, malam gelap gulita yang diliputi dingin yang menusuk. Malam terburuk baginya, saat Jay tak kunjung pulang. Tak pulangnya Jay kali ini terasa berbeda setelah semua gambar itu berputar-putar di kepalanya.

Rasa sakit yang sudah tidak pernah hadir sejak beberapa tahun terakhir kini kembali menusuk di dada ayah Jay. Sontak ia memegang dada kirinya yang seakan tertarik. Ayah Jay terhempas duduk di tempat tidur Jay. Kepanikannya memuncak, rasa sakitnya semakin mendalam sampai ia sulit untuk mengatur nafasnya. Dengan sekuat tenaga ia menghampiri telepon yang terletak di samping buffet, dan berusaha menekan beberapa tombol nomor.

Ayah Jay tak sanggup mengangkat tangannya ke telinga saat nomor itu mulai terhubung, ia tak kuat menahan tubuhnya dan ia terjatuh. Membuat kotak yang menampung semua foto-foto Jay dan Romy jatuh dan mengeluarkan seisi kotak itu menjadi berantakan. Ayah Jay tersungkur dan memejamkan mata.

 

Di tempat yang berbeda, apartemen Romy yang sarat akan mode menjadi saksi rutinitas mereka dalam memadu kasih. Romy dan Jay tidur di satu ranjang yang sangat nyaman dan berselimut tebal.

“Kamu gak lepas baju? Gak mau sekarang?” Tanya Romy memandang Jay sambil menyanggah kepala di tangan kanannya.

“Sebenernya aku lagi males, My..” balas Jay tak menoleh.

“Males? Males kenapa sih? Kamu bener-bener ada masalah ya?”

“Enggak juga sih…”

“But hey…this is our 5th anniversary, beib…” kata Romy sambil mengelus lengan Jay yang menopang kepalanya .

“Sebenernya hubungan kita mau dibawa kemana sih My?” suasana tegang seakan langsung menghampiri ruangan itu saat Jay menanyakan hal itu.

Diawali dengan diam yang cukup lama, Romy menjawab, “ Yaa…semestinya kamu gak perlu tanya hal itu baru sekarang. Kenapa gak dari awal…”

“Mesti dong, My…” Lagi-lagi Jay tak menoleh.

“Kita tahu persis apa yang kita lakuin, Je…” Romy berusaha meyakini, “…dengan apa yang udah kita lewatin dan rasain, untuk apa kita pikirin ujungnya hubungan kita? Toh aku akan selalu sama kamu, Je…”

Jay terdiam. Berusaha mencerna semua kata-kata itu. Berusaha bertanya kepada diri sendiri, apa yang membuatnya menjadi galau dan ragu akan hubungan tak pernah rumit ini, yang selama lima tahun adalah waktu yang indah bagi mereka berdua. Dan kenapa baru sekarang. Ini adalah masa-masa yang aneh bagi Jay, melihat dirinya ke belakang dan lebih mendalam namun pada saat ia sudah matang dan sulit untuk berubah.

            Tiba-tiba Romy merubah posisi tubuhnya, ia mendekat menghampiri tubuh Jay dan memeluknya . menaruh kepala di dada Jay dengan lembut.

“Aku percaya kamu, Je…”

Jay memejamkan mata sejenak untuk merasakan kata-kata itu.

Romy dengan perlahan tapi pasti melepaskan kancing Jay satu per satu, memasukkan jari jemarinya dan menyentuh kulit Jay yang halus. Membelai-belai dengan penuh sayang dan hasrat yang memuncak. Dengan tanpa keraguan sentuhan Romy terus menjalar dari atas sampai bawah tubuh Jay, menimbulkan getaran-getaran yang tak terjelaskan bagi Jay. Dikecupnya sekujur tubuh Jay. Jay sangat menikmati saat tangan Romy tak pernah pergi dari kemaluannya, seakan membawa otak dan pikirannya pergi  dari tempat itu. Malam itu pun seindah malam-malam lainnya dengan keindahan dua insan dengan caranya yang berbeda.

Malam itu terasa begitu panjang bagi Jay dan Romy. Selesai dengan urusan masing-masing adalah tujuannya. Jay melepas dekapannya dari tubuh Romy yang menghadap ke arah lain. Romy mungkin cukup lelah untuk tetap terjaga. Jay kembali menatap langit-langit kamar, pikiran kosong namun bergerak cepat dalam benaknya.

Entah kenapa pikiran itu sampai di masa lalu, yang tak pernah ia kira sebelumnya. Tayangan kejadian di masa lalu seakan terulang kembali dalam daftar kenangan buruknya yang tak pernah dia inginkan. Jay teringat saat hari dimana ayahnya melakukan hal yang sangat membuatnya marah, namun diawali dengan hal yang mengesankan. Beberapa tahun lalu sebelum mengenal Romy, Jay memang sangat kesulitan mendapat pasangan hidup yang sesuai. Bukan karena tidak pernah ada yang menghampiri, entah kenapa Jay adalah sosok yang pemilih saat itu. Hubungan asmara bukan hal prioritas dalam hidupnya. Hal itu yang menggerakan ayah Jay sengaja mengajak anak semata wayangnya itu ke tempat hiburan malam dengan alasan menghabiskan waktu berdua dengan anaknya dengan cara yang berbeda tanpa ada hal yang ditutup-tutupi antara ayah dan anak. Jay cukup kurang pergaulan saat itu, tak pernah sebelumnya dia menginjakan kaki di tempat seperti itu. Walaupun canggung Jay tetap berusaha percaya diri demi menyenangkan hati ayahnya.

Disana mereka makan dan minum bersama. Saling menceritakan pengalaman hidup masing-masing sambil mengomentari sekeliling yang ramai dan penuh kegembiraan. Ternyata ada rencana dibalik itu semua. Ayah Jay telah meminta pertolong seorang wanita cantik, menarik, dan terbaik di kalangannya untuk menemani Jay semalam di salah satu hotel. Memang terdengar aneh karena ini adalah permintaan seorang ayah yang menurutnya untuk  kebaikan anaknya. Tak ada alasan jelas kenapa ayah Jay melakukan itu semua, mungkin ketidakpercayaan dengan istilah jodoh pasti bertemu untuk kategori orang seperti Jay di masa itu.

Jay tak pernah tahu ayahnya membawa kemana setelah mereka menikmati hiburan malam saat itu. Tapi mobil mereka sampai di sebuah hotel berbintang di Jakarta. Tak pernah sebelumnya ayah Jay mengajak anaknya bermalam di tempat lain selama masih punya rumah dan bukan saat-saat liburan. Disana mereka tak melakukan pemesanan kamar, namun langsung menaiki lift dan sampai di lantai 5 mereka mengetuk pintu salah satu kamar. Keluarlah seorang wanita cantik, putih, berambut pendek seleher berwarna hitam pekat menyambut kedatangan mereka.

“Pa…ini siapa? Mama baru?” Tanya Jay lugu bercampur heran dan sindiran untuk ayahnya ditengah suasana canggung saat pintu itu terbuka dan menampilkan sesosok wanita muda yang cukup tinggi semampai layaknya model professional.

“Mmm..bukan untuk papa, tapi untuk kamu…” singkatnya.

“Maksudnya?” Jay mengernyitkan dahi.

“Papa tinggal dulu ya, kamu tunggu di dalam aja..” Tak memberi kesempatan pada tanggapan Jay, ayah Jay langsung berlalu dengan senyuman kepada wanita itu.

“Pa?” panggil Jay setelah ayahnya beranjak.

“Yaudah…tunggu didalem aja..” ajak wanita itu.

Jay tak menjawab.

“Udah gak apa- apa, pasti papa kamu lama…” wanita itu menarik lembut tangan Jay agar dia masuk. Jay tak kuasa menolaknya. Ia masuk sambil berusaha melepaskan genggaman wanita itu dari lengannya.

Tanpa menoleh Jay mendengar pintu di belakangnya tertutup. Tak lama wanita itu berjalan mendahuluinya. Pakaian wanita itu seakan suatu kesengajaan, piyama putih selicin plastik ditambah dia terlihat tak memakai pakaian dalam membuat Jay justru sedikit jijik.

“Namaku  Tania…panggil aja aku Nia” mulai Nia sambil mengambil sebuah gelas bening dan meminum isinya. Nia menghampiri Jay dan mengelilinginya seakan ingin menginterogasi lelaki itu. Suaranya yang berat membuat Jay justru benar-benar merasa takut, wanita macam apa ini. Mungkin karena rokok, pikir Jay.

“Duduk?” tawar Nia sambil menunjuk tempat tidur yang masih tertata rapi.

Tanpa mengangguk dan berkata, Jay menghampiri kasur itu dan duduk. Ia berusaha santai dan gugup. Ia sangat heran kenapa mau masuk ke tempat ini, terlebih lagi tindakan ayahnya yang pergi begitu saja.

Nia menghampiri Jay dan duduk di sebelahnya. Jay merasa kurang nyaman dengan tindakan itu. Gelas yang dipegang Nia ia taruh di bawah dan langsung menatap Jay sangat dalam, dan semakin rapat mengatur posisinya. Tiba-tiba saja tangan Nia mengelus-elus punggung Jay yang terasa sangat hangat. Tangan Jay hanya terus terlipat di pahanya sendiri. Namun Nia mampu memanfaatkan kondisi itu, dipegang erat tangan Jay yang tak berkelit namun setelahnya terus berjalan menelusuri lengan, bahu dan leher Jay yang kaku. Pikiran Jay seakan mulai terbuka dengan ‘kegiatan’ aneh ini, pasti ayahnya dibalik semua ini.

Beberapa jam kemudian, ayah Jay datang kembali ke kamar hotel itu dengan cukup mengetuk pintunya. Tak lama setelah mengetuk keluarlah Jay dengan baju kaosnya yang basah penuh keringat, muka yang sedikit pucat dan tatapan yang garang. Marah dan benci menyatu saat itu dalam hati Jay. Tapi tak ingin berlama-lama di sana, ia langsung pergi dari hadapan ayahnya dengan sengaja membenturkan bahunya cukup keras ke bahu ayahnya yang terheran-heran.

“Bagaimana?” Tanya ayah Jay kepada Nia semangat untuk mengetahui hasil pendekatan yang ia ciptakan.

“Hhhh…gak terjadi apa-apa om, dia cuma duduk, panik sendiri. Cupu banget om. Saya sentuh dan mainin Mr. P dia aja gak ada reaksi apa pun, tanpa open baju loh om, dibuka aja susah banget…” nada bicara Nia seakan kekecewaan akan pekerjaannya yang kurang berhasil kali ini.

Ayah Jay hanya menghela napas, ternyata wajah yang keluar dari pintu itu bukan suatu hasil yang baik.

Jay yang sedang terbaring melihat masa lalu di samping Romy yang tertidur kembali menghadapi kenyataan sekarang. Ia menggeleng-geleng keras mengingat hal paling menyebalkan dalam hidupnya itu. Saat itu ia sangat membenci ayahnya, sampai selalu membentak-bentak ayahnya waktu itu karena Jay tidak su           ka dengan yang ayahnya perbuat. Membiarkan anaknya berada di suatu kamar hotel dengan wanita mengerikan untuk suatu tujuan agar ia mampu memiliki hubungan secepat kilat dengan wanita itu. Butuh waktu yang lama bagi Jay untuk memaafkan ayahnya.

Kini ia mungkin sedikit mengerti apa maksud semua tindakan ayahnya itu, agar ia mampu menjadi lelaki pemberani dan menemukan cinta sejatinya. Berani mengungkap perasaan terdalam dengan seorang pasangan dan menjadi lelaki sesungguhnya dengan itu semua. Ya, lelaki sesungguhnya dalam cinta. Dan kini, -Jay menoleh melihat Romy- ia menemukan hal yang tak terduga, dengan cinta yang tulus dan besar dari seorang lelaki, bukan wanita secantik dan mengerikan seperti Nia.

Tapi kini tak seindah awal bertemu dengan Romy. Ada hal aneh yang Jay rasakan setelah lima tahun berjalan, hanya saja tak bisa ia jabarkan itu. Entah jenuh, kesadaran, merasa kehilangan jati diri atau rasa bersalah karena ayahnya tak pernah mengetahui hal ini, semua itu bercampur jadi satu. Rasa sayangnya terhadap Romy tak bisa dipungkiri, dan itu begitu besar. Tapi ada hal menggelitik, merayap dan menjadi racun tersendiri dalam diri Romy yang seakan menyuruhnya untuk berhenti. Walaupun ia tak pernah yakin untuk menyudahinya karena tidak punya alasan pasti.

Jay berusaha bangkit dari lamunannya yang semakin liar dan terduduk sambil merapikan selimut yang menutupi seluruh tubuh telanjangnya. Tiba-tiba handphone Jay bergetar, ia mengambilnya di meja yang tak jauh dari tempat tidur dan mengangkat telpon tak beridentitas itu.

“Halo…siapa ya?” sapa Jay.

Jay berusaha mencerna semua kata-kata, berita, dan kabar buruk dari suara di ujung telpon itu. Jay terkejut akan berita bahwa ayahnya dilarikan ke rumah sakit setelah ditemukan tergeletak di kamarnya.

Tanpa pikir panjang ia langsung bangkit dari sana. Romy yang perlahan mulai terbangun dari tidurnya heran melihat kepanikan Jay dalam berpakaian.

“Kamu kenapa, Je?” Tanya Romy.

“Ayahku masuk rumah sakit, My..” Jay berkata sambil berusaha memakaikan celana jinsnya, “…jantungnya kambuh. Kamu disini aja ya My.” Selesai berpakaian Jay bergegas pergi.

Tanpa berkata-kata Romy membiarkan Jay pergi dan kembali terlelap.

Dengan cepat dan gas sekuat tenaga Jay pergi meninggalkan apartment Romy dan meluncur dengan mobilnya menyusuri pagi sekitar pukul 3 itu di jalanan ibu kota yang lengang. Kecemasannya semakin memuncak saat mengingat kembali perkataan tetangganya yang berhasil membawa ayah Jay ke rumah sakit mengatakan bahwa ayah Jay tergeletak di kamar depan yang berarti adalah kamarnya. Apa yang papa lihat sampai bisa seperti ini, tanya Jay dalam hati.

Kesedihan menguasai hati Jay yang takut dan cemas. Sudah lama ayah Jay tak pernah kambuh dari penyakitnya dan kini terlihat darurat sekali. Jay berusaha menghilangkan rasa takutnya sebelum melihat dengan jelas wajah ayahnya.

Jay sampai di salah satu rumah sakit yang khusus menangani masalah jantung tempat ayahnya dirawat. Ia turun dengan cepat dari mobilnya, berlari memasuki rumah sakit dan segera menuju kamar yang sudah ia ketahui setelah dikabari tadi. Jay sampai di lantai 2 rumah sakit itu, mancari kamar 207 dengan kepanikan yang tak tertahankan. Saat melihat kamar itu langsung ia buka dengan perlahan.

Disana terbaring ayah Jay dengan pakaian berwarna putih, selang-selang penyelamat terhubung rapi ke seluruh tubuhnya. Nafasnya pun turut dibantu oksigen. Terlihat naik turunnya dada ayah Jay yang perlahan tapi pasti menghirup udara.

Jay masuk selangkah demi selangkah dengan  rasa berkecamuk penuh haru melihat kondisi ayahnya yang seburuk ini. Jay langsung menarik bangku dan duduk disamping tempat tidur ayahnya. Mencium tangannya dengan lembut dan perlahan tanpa mengangkatnya tinggi. Namun ayahnya terbangun, mata ayah Jay membuka sedikit demi sedikit. Terlihat tatapan senang dengan kesakitan yang tertahan melihat anak semata wayang ada di hadapannya. Namun kekecewaan juga terlihat jelas di mata itu.

“Papa…” sapa Jay ragu.

“Nak…” ayah Jay berusaha memperjelas kata-kata yang akan keluar walaupun sedikit bergetar, “…kenapa nak? Kenapa …kamu ngelakuin …hal yang papa…takuti…?”

“Maksud papa apa, Pa? Papa jangan banyak omong dulu…” suara Jay bergetar menahan sedih menduga-duga apa yang dimakud ayahnya adalah hubungannya dengan Romy yang baru saja ia ketahui.

“Foto…”  kata ayah Jay sambil memindahkan lengannya yang di tahan Jay dan mendarat di dada sebelah kirinya, “…foto kamu dan…lelaki itu.”

Jay menghela napas . Papa akhirnya tahu, pikir Jay miris. Jay menunduk tak berani menatap mata ayahnya. Jay merasa seperti saat-saat dulu lagi saat ia masih kecil, dimarahi ayahnya karena melakukan sesuatu yang salah. Mungkin saat dulu mata ayahnya seakan bisa keluar untuk menunjukkan betapa marahnya ia pada Jay. Namun kali ini dengan masalah yang berbeda, dengan sebuah rahasia lama, dalam kondisi yang berbeda. Dan amarah ayah Jay bukan amarah karena kenakalan seperti dulu, tapi kekecewaan mendalam lah yang terlihat di matanya.

“Nak…” panggil ayah Jay, “…Papa gak akan pernah menghakimimu, nak…Papa menyayangi kamu dan tak pernah berkurang…seberapa pun dewasanya kamu…” ayah Jay terdiam mengatur napasnya yang tersengal-sengal namun berusaha untuk bicara.

Ayah Jay semakin larut dengan perasaannya .

“Papa tahu itu mungkin pilihanmu, keputusanmu yang mungkin sebenarnya kamu… juga tidak yakin. Tapi itu semua ,..itu semua salah nak…itu semua bukan tujuanmu. Papa mengharapkan hal yang lebih dari kamu…bukan ini. Ketakutan papa…terjawab saat melihat foto itu…foto-foto kamu dan…temanmu itu. Papa takuti itu, nak…”

Jay tak mampu berkata-kata dan menunduk melihat kakinya sendiri. Ia tak kuasa melihat wajah atau tatapan ayahnya yang pasti akan sangat menusuk. Jay tak mampu dan tak akan membela diri untuk saat ini. Dan tak  bisa Jay hentikan ayahnya terus berkata-kata.

“Tapi papa minta maaf, nak…papa minta maaf…tak bisa menjadi seorang ayah yang bisa kamu teladani. Tak bisa…sekaligus menjadi ibu untukmu. Papa minta maaf…telah menghilangkan sosok ibu untuk kamu…”

“Meninggalnya mama bukan salah papa, bukan siapa pun…” sergah Jay dalam tunduk malu.

“Ya…tapi papa tak sanggup menggantikannya. Papa…minta maaf nak. Tapi papa mohon, jangan tambah rasa berasalah papa…dengan apa yang akan kamu lakukan…nantinya. Kamu mampu menjadi lelaki sejati itu, nak. Hidup mandiri…bersikap…tanpa menjadi pasangan untuk lelaki manapun yang kamu sayangi. Kamu adalah lelaki sejati itu…apapun kamu nantinya. Jangan jadikan semua ini pilihan…jadikan ini putusan…mau pergi kemana kamu nantinya, dengan…atau tanpa lelaki dalam foto itu. Banggakan papa. Kamu…adalah …lelaki sejati… yang tak pernah menyembunyikan apapun pada papa. Memiliki kuasa atas diri kamu sendiri…dan makhluk paling kuat dari siapapun di muka bumi ini…”

Jay memberanikan mengangkat kepala dan melihat wajah ayahnya. Ia seakan melihat kesunyian, ketidakmampuan untuk berkata-kata lagi, marah dan haru. Namun, ada rasa sayang mendalam di mata itu.

Tanpa Jay sadari air mata membumbung di kelopak matanya, dan terjatuh di pipi. Beberapa detik Jay tak menyadari apa yang baru saja mengalir dipipi lelaki yang tak pernah menangis itu selain memberikan tangisannya pada ibu tercinta.

Hey, aku menangis, heran Jay dalam pikirnya.

“Kamu memang lelaki sejati itu, nak…percaya papa, yakini dirimu.” ayah Jay mengusap air mata yang mengalir deras di pipi Jay.

Saat itu juga Jay merasa menemukan titik balik hidupnya yang harus ia jalani. Seakan ini semua jawaban atas keraguannya yang aneh akan hubungannya dengan Romy, yaitu mengakhirinya untuk sebuah kejelasan, dan untuk ayahnya. Mungkin satu-satunya alasan yang jelas adalah kekecewaan ayahnya.

“Mungkin ini yang harus aku lakukan, Pa…aku pasti menyelesaikan ini semua…” kata Jay meyakini dan menghentikan kata-katanya dengan pertimbangan, “…asal papa sembuh dan pulang dari sini secepatnya.”

“Papa pasti pulang, nak…papa kangen sekali sama kamu yang jarang pulang ke rumah.” Ayah Jay memunculkan senyumnya, demi menenangkan hati Jay.

Jay pun memunculkan senyuman tulus itu untuk ayahnya, seakan permohonan maaf yang mendalam atas semua ini dan ketidakpulangannya ke rumah yang ternyata hal itu membekas di hati ayahnya.

Jay menghabiskan waktu bersama ayahnya. Jay temani ayahnya tertidur lelap dan nyenyak seakan beban telah terlepas dari tubuhnya yang kini ringkih. Jay tak bisa ikut tidur , ia tidak akan tenang, cukup melihat ayahnya tertidur dan memperhatikan terus satu-satunya orang yang paling berharga dalam hidupnya yang tak pernah bisa benar-benar ia sadari.

Tapi ia kembali teringat, ada hal yang harus ia selesaikan dengan bijak. Diluar hari sudah pagi dan matahari hangat sudah cukup menyinari jalan. Jay mengecup kening dan tangan ayahnya yang tertidur dan meninggalkan tempat itu.

Jay kembali mengendarai mobilnya, tidak dengan terburu-buru, tidak dengan kepanikan, namun dengan keyakinan yang terus ia tumbuhkan untuk bertemu Romy di apartmentnya. Romy menyetujui untuk bertemu kembali disana saat Jay hubungi sebelumnya. Ketika sampai kembali di ruangan yang baru saja semalam Jay dan Romy hadirkan cinta yang tulus namun kebimbangan pada salah satu dari mereka, Jay langsung menutup pintu apartment diikuti dengan suara yang keras, menghampiri Romy yang terlihat senang dengan kedatangan Jay di pagi hari.

“Hei, beib..aku lagi bikin…” perkataan Romy terhenti karena dengan tiba-tiba Jay menarik Romy dengan kencang dan menghempaskan Romy ke tempat tidur, melepaskan pakaiannya sendiri dan Romy satu per satu membuat Romy tersenyum-senyum geli melihat tingkah Jay. Jay membalikkan tubuh Romy dengan nafsu mendalam yang sengaja ia timbulkan penuh dalam dirinya, dan ia lakukanlah semua itu dengan rasa yang memuncak akan suatu penyelesaian, keberanian memilih, semua itu untuk terakhir kalinya.

Setelah selesai dengan semua hal menggairahkan itu, Romy mencium pipi Jay dengan senyum lebar.

“Kamu hebat banget hari ini.” puji Romy yang terduduk tanpa busana sedikitpun, begitu juga dengan Jay.

“Aku mau ngomong sesuatu sama kamu, sesuatu yang serius…” Jay berkata dingin membuat ekspresi Romy berubah tak mengerti.

“Ngomong apa, Je…masalah papa kamu? Dia sakit parah?”

“Bukan itu,” sanggah Jay berusaha untuk tidak dingin dalam situasi ini, “…aku mau putus dari kamu, aku mau udahin ini semua…”

“Apa? Maksud kamu apa sih, Je…becandanya jangan kayak gitu ah…” Romy seakan meminta penjelasan dan menatap Jay serius.

“Enggak, aku gak becanda My… kita harus ngealakuin ini. Maksudku, aku…” Jay berusaha tegar.

“Apa?!? Kenapa kamu jadi gak jelas gini sih, Je… kamu jangan sembarangan ngomong begitu. Apa yang salah belakangan ini? Perasaan gak ada… kalo ada aku gak tahu itu apa, Je. Tapi aku minta maaf banget sama kamu kalo aku salah…” Romy mulai cemas dengan kata-kata yang keluar dari mulut Jay. Ia mendekati Jay dan memeluknya, tapi Jay berusaha melepasnya dengan perasaan yang juga sakit untuk melakukannya.

“Aku harus ngelakuin ini, My…” lanjut Jay, “Aku harus memutuskan ini sebelum hubungan kita makin aneh dan berantakan. Suka gak suka kita harus begini…”

Emosi Romy yang bercampur kesedihan mendalam yang datang tiba-tiba akibat pernyataan Jay jadi memuncak, “Apanya yang aneh, Je?! Apanya yang berantakan?! Semuanya baik-baik aja dari semalem, aku gak bisa terima ini.”

“Kamu memang gak harus nerima ini, My…ini keputusan aku untuk ninggalin kamu dan belajar jadi diri sendiri. Kita ini salah…”

“Salah lo bilang? Lima tahun lo bilang salah?!” Romy mengubah panggilannya karena kesal yang memuncak atas keputusan sepihak Jay yang mendadak. Suara Romy meninggi dan menatap Jay marah, “Lo pikir hubungan kita selama ini apa? Bercanda?!?”

“Terus kamu pikir mau dibawa kemana hubungan kita, My?” tanya Jay tegas dengan suara yang menyamai Romy.

Romy terdiam dengan pertanyaan itu. Romy memiliki banyak kata yang bisa ia keluarkan pada Jay tapi ia tak mampu. Seakan logikanya baru terbangun saat itu.

“Tapi cinta kita gak pernah salah, Je…” hanya itu yang keluar dari mulut Romy dengan air mata menetes di pipinya. Jay sedikit merasa bersalah melihat itu. Ia tak pernah membuat Romy menangis sebelumnya. Dan kini ia harus bersikap nekat untuk bisa menghilangkan semua ini dalam sesaat.

Jay menghadapkan tubuhnya pada Romy, duduk mendekat dan menempelkan lututnya pada lutut Romy. Mengambil kedua tangan Romy dan menyatukan jari-jemarinya dengan jari-jemari Romy. Ini untuk terakhir kalinya, pikir Jay sedih.

“Cinta kita gak pernah salah, My… Cinta kita indaah banget buat aku, terutama untuk kamu. Cinta kita yang menurut banyak orang aneh, buat kita sangat berharga kan, My. Gak akan ada orang yang mengerti selain diri kita sendiri. Kita ngelaluin semuanya, dihujat, sembunyi, rahasia, bahagia, semua kita rasain bareng-bareng. Indah banget, My…” Jay sedikit menunduk tidak ingin menunjukkan wajah sedihnya pada Romy yang berlinang air mata tanpa suara dan kembali berani melanjutkan , “Tapi kita gak tahu sama sekali tujuan hubungan kita, tujuan hidup kita.”

“Semua itu gak perlu alasan, Je…dulu kita pernah janji sama-sama…” kata Romy lembut.

“Sekarang salah satu dari kita bukan yang dulu lagi, My…yaitu aku, aku harus mampu memilih saat ini. Dan yang aku pilih bukan kamu… Bukan karena aku jahat, tapi ini untuk kebaikan kita berdua, karena kita gak ditakdirkan untuk ini, itu yang udah bisa aku pahamin My. Kita harus mampu nemu akhir perjalanan kita, bukan terus menerus menikmati hal yang gak ada habisnya, dan ngelupain kehidupan pribadi kita yang ternyata adalah keluarga kita.” Jay menatap Romy tulus tanpa melepaskan genggaman tangannya, “Dan yang perlu kamu tahu, aku gak pernah nyesel ketemu kamu My… aku gak pernah nyesel dengan semua cerita hidup yang berhasil kita buat. Ini begitu indah. Yang terpenting, dari hubungan ini aku tahu arti cinta sebenarnya… dan aku tulus bilang ini semua.”

Romy naik pitam, tak menerima semua perkataan Jay. Ia tarik dengan kasar tangannya dari genggaman Jay. Bangun dari duduknya dan turun dari kasur masih dengan tubuhnya yang tak terbungkus pakaian. Menatap Jay dengan kebencian yang teramat dalam, wajahnya sedikit memerah. Telapak tangannya seakan sudah tak sabar melakukan ini, dan…

“Paakk…!” telapak tangan Romy mendarat di pipi kiri Jay dengan keras dan tanpa ragu.

“Cepet lo pergi dari sini…cepet pergi!!!!” teriak Romy sambil menunjuk pintu keluar. Jay memegang pipi kirinya yang baru saja ditampar telapak tangan seorang lelaki.

Tapi Jay tak ingin menimpali kemarahan Romy lagi, Jay sangat mengerti apa yang Romy rasakan sekarang. Ia berpakaian dengan cepat tanpa melihat Romy yang gemetar menahan amarah yang besar. Ternyata Romy tak bisa mengerti, pikir Jay.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Jay yang sudah berpakaian segera mengambil kunci mobil di bawah kakinya, menatap Romy yang tak ingin menatapnya. “Terima kasih banyak, My…” hanya kalimat  itu yang keluar untuk terakhir kalinya.

“Pergi gue bilang…” kata Romy dengan nada garang tanpa melihat sedikit pun.

Jay pergi dan melewati pintu yang ia tutup sendiri. Ia berdiri cukup lama diluar apartment Romy, menatap pintu itu dengan tatapan perpisahan. Bukan respon ini yang dia inginkan. Lalu Jay memegang pipi kirinya yang mendapat tamparan Romy, entah kenapa ada rasa aneh dalam hatinya, ia begitu lega dan puas dengan tamparan keras itu. Seperti telah menghancurkan tembok rapuh yang sudah lama berdiri dalam sekali dentuman. Dan Jay amat senang dan puas akan hal itu.

Jay menepuk pintu itu dengan lembut tanda perpisahan untuk Romy di dalam sana, dan pergi meninggalkan tempat itu. Ada senyum simpul yang terbentuk di bibir Jay yang tak bisa ia tahan, rasa puas dan kebahagiaan berhasil menyelesaikan ini untuk ayahnya, dan untuk dirinya sendiri.

Jay semakin yakin dengan proses terbaru dalam hidupnya ini, memutuskan titik balik dimana dia harus berubah. Keyakinan itu semakin bertambah saat ia sudah sampai lagi di rumah sakit. Kebahagiaan memuncak saat perjalanan menuju ke ruangan ayahnya ia mempersiapkan kata-kata apa yang tepat untuk menggambarkan ini semua, bahwa dia ternyata mampu melepas kehidupan lamanya dengan caranya sendiri.

Namun semua itu hancur berkeping-keping saat melihat kamar ayahnya penuh dengan orang-orang, para kerabat dan tetangga rumahnya yang senantiasa membantunya. Ayah Jay memang sosok yang bersahabat di mata semua orang disekelilingnya, terutama tetangga-tetangganya. Jay terlihat bingung dengan semua ini, kenapa semua orang berada disini secara bersamaan, ditambah wajah mereka yang terlihat sedih. Mereka tersigap saat melihat kedatangan Jay.

“Dimana papa?” tanya Jay kepada semua orang yang ada disana saat melihat ayahnya tak ada di tempat tidur itu.

“Maaf kami harus mengatakan ini, Jay…” kata seorang lelaki paruh baya yang masih terlihat bugar, tetangga Jay yang membantu ayahnya saat mengalami serangan jantung kemarin, “Ayahmu sempat mengalami masa kritis tadi, detak jantungnya tak terkendali. Seluruh dokter sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi…”

“Tapi apa om?” tanya Jay membelalak.

“Tapi nyawa ayahmu tidak bisa tertolong…” lanjutnya.

“Jangan bohong, om…” Jay belum bisa percaya, “…saya baru bersama dia tadi pagi, dan dia baik-baik aja sedang tertidur!” suara Jay meninggi tanpa dia sadari.

“Semua itu juga tidak ada yang mengira Jay…kejadiannya baru terjadi dua jam lalu…”

“Kenapa tidak ada yang menghubungi saya?!?” suara Jay mulai  bergetar.

“Kami mencoba menghubungimu, Jay, tapi nomormu sepertinya tidak aktif…” sambut salah seorang wanita di ujung ruangan. Dengan panik Jay cepat-cepat mengeluarkan handphone dari kantungnya, dan melihat kondisi handphone. Ternyata benar handphone Jay mati total dan dia tidak berani berkata apa-apa.

Dunia Jay serasa runtuh saat itu. Ia menatap semua orang yang iba kepadanya saat itu. Siang yang kelam ini terasa bahagia sebelumnya dengan kabar kejutan untuk ayahnya, namun terasa buruk saat kabar ini sampai di telinganya.

Jay tak mampu berkata-kata, terpaku karena rasa kaget. Dengan perlahan ia berbalik dan keluar ruangan yang penuh itu, menatap kekosongan meninggalkan orang-orang di dalam. Ia menjauhi ruangan itu dan bersandar di dinding koridor.

“Papa kan janji mau pulang ke rumah sama Jay, Pa…” gumam Jay yang terpaku bersandar.

Lelah serasa tiba-tiba menghampirinya dengan kenyataan ini, ia pun teduduk di lantai. Menangis penuh sesal tak terbayarkan karena tak bisa melihat ayahnya lagi dengan kesembuhan. Jay menopang wajahnya di lutut dan menangis sekencanganya. Badannya berguncang tak kuasa menahan tangisannya. Tangisan yang seakan terkumpul untuk semua kejadian yang baru saja ia alami, semuanya. Ketidakyakinannya akan hidup, rasa kecewa ayahnya atas apa yang ia perbuat selama ini, hubungannya dengan Romy yang harus ia akhiri, semua terasa berada di hadapannya kini. Dan yang menyakitkan tak ada yang bisa ia salahkan saat ini, selain dirinya sendiri.

Dalam tangis Jay terus bertanya pada keadaan apakah ia memang harus melewati semua ini dulu untuk bisa berubah sepenuhnya. Berjuang sendiri menata hidup yang baru. Atau ini adalah hukuman terberat untuknya. Jay tak bisa menjawab itu semua. Kenyataan ini begitu menyakitkan harus ia hadapi.

 

Beberapa hari berlalu. Saat-saat pemakaman adalah yang terberat, melihat sekali lagi wajah ayahnya tercinta dalam liang lahat tempat peristirahatan terakhir. Namun kesendirian setelah itu yang menjadi tanda tanya untuk Jay harus bagaimana.

Jay tak pernah pergi dari renungan, rasa putus asa dan sesal sedang menguasai dirinya. Terkadang ia merasa tidak yakin apakah yang ia lakukan setelah berjanji pada ayahnya itu benar, karena ia merasakan hal yang lain. Jay kali ini ingin mengenang sesuatu, ia pergi ke taman hiburan bermain yang dulu pernah sangat berarti saat ibu, ayah, dan dirinya ada disini beberapa tahun yang lalu. Ia membawa kotak hitam besar yang belum lama ini menjadi penyebab atas keterpurukan ayahnya. Namun kini tidak berisi semua foto-fotonya dengan Romy, kini berisi semua foto berkesan dalam hidupnya. Foto penuh cinta dari sebuah keluarga, saat ibu Jay menggendong Jay waktu masih kecil, foto ayah Jay, dan semua kenang-kenangan kehidupan yang sudah tidak bisa terulang lagi. Salah satunya adalah foto itu, foto yang diambil saat berada di taman hiburan ini, paling berkesan baginya.

Saat sampai di taman utama, sepinya tempat itu seakan mendukung suasana hati Jay. Suasananya masih terlihat sama saat banyak kenangan yang pernah tecipta disini bersama orang tuanya. Tapi matahari sore dengan suara kicauan burung sangat melegakan hati Jay, bahwa tak akan lebih buruk lagi. Ia memilih duduk di bangku taman yang cukup untuk 3-4 orang. Ia menaruh kotak hitam itu disampingnya dan mengambil salah satu isinya, yaitu pigura foto yang berisi gambar dirinya dan ibu sedang dalam bahagia dan ceria akan candaan yang tak bisa dijelaskan. Tak ada ayahnya disana, tapi ayahnya ada di balik kamera. Membuat Jay mengerti bagaimana rasanya saat itu, melihat sosok-sosok berharga dalam hidup sedang tertawa di hadapannya, dan tak akan bisa ia rasakan lagi.

Hembusan angin yang lembut menerpa kulit dan rambut Jay yang tak terlindungi. Kemeja lengan pangan berwarna biru tua Jay juga ikut bergoyang di terpa angin. Semua seakan menandakan kehadiran orang-orang yang telah pergi dalam hidup Jay.

Terkadang ada senyum di bibir Jay saat melihat foto-foto yang sangat berkesan baginya. Ia tak ingin ada air mata lagi, semua terasa cukup untuk ditangisi. Beberapa lama ia melihat foto-foto itu, Jay tertegun, membayangkan keputusannya untuk berubah dalam menjalani hidup ini. Ketidakyakinan sempat menghampirinya akan kesimpulan bahwa ia seperti tidak bisa menjalani hidup yang baru ini, apalagi dengan semua musibah yang baru saja ia alami. Keraguan itu kini sangat besar.

Pandangannya menjalar ke semua tempat di taman ini. Namun pandangannya terhenti di ujung taman yang cukup jauh darinya, sesuatu datang dari sebelah kanan. Seorang wanita cantik berjalan perlahan dari kejauhan. Tangan kanannya membawa seutas tali yang mengikat sebuah balon yang menggantung di atas kepalanya. Balon berwarna merah muda berbentuk hati. Tangan kirinya menggantung sebuah tas kecil berwarna merah. Rok pendek selutut berkibar-kibar saat wanita itu berjalan dengan ceria. Senyum lebarnya selalu menghiasi wajah setiap ia membetulkan caranya memegang balon itu. Rambut gelombangnya yang berwarna coklat tembaga terjuntai panjang di belakang bahunya sampai pinggang. Bando tipis berwarna senada dengan balon menambah manisnya wanita itu. Bajunya yang berlengan pendek dan berwarna putih semakin membuat jelas indah rambut coklatnya.

Wanita itu semakin mendekat dengan tempat Jay singgah. Jay tak pernah pergi dari pandangannya kepada wanita yang semakin medekat itu. Terlihat wanita itu juga membalas tatapannnya dengan ekspresi heran dan penasaran yang muncul tiba-tiba. Wanita itu seakan memutuskan untuk mendekati Jay.

Dan sampailah ia di hadapan Jay yang duduk termangu dan tak berkutik. Saat wanita itu berdiri di hadapan Jay sekitar satu meter, Jay seakan mengenal pakaian yang dikenakan wanita itu.

“Hai…” suara wanita itu terdengar lembut saat menyapa dengan penuh ceria.

“Hai…” balas Jay singkat.

“Sori…kalo gue boleh nebak lo itu Jay bukan sih? Yang punya distro di daerah Jakarta Selatan?”

Pertanyaan yang langsung benar-benar tertuju untuk Jay itu membuatnya berpikir dan membuktikan sesuatu. Pakaian yang dikenakan wanita itu adalah salah satu pakaian wanita yang dijual didistronya, dan keluaran terbaru. Jay sangat mengetahui itu karena ada tulisan “TRUE LOVE ALWAYS COME” di bagian dada pada kaus itu. Membuatnya salah tingkah namun tetap menjaga kewibawaannya.

Jay seakan terlempar dari jurang yang tinggi dan dalam, Jay menemukan sesuatu yang sebenarnya, sesuatu yang lebih nyata. Dan semua itu datang seperti sebuah keajaiban yang muncul dengan tiba-tiba saat wanita itu memberikan sesuatu yang berbeda dan tak ada yang pernah menduga. Seakan ini adalah jawaban dari semua keraguan yang menghantui Jay. Dan inilah kenyatannya; kalau titik balik Jay itu bukanlah saat janji yang terucap kepada ayahnya untuk berubah, bukan saat dia begitu puas dengan tamparan perpisahan Romy, bukan saat ia harus menghadapi cobaan hidup dengan kepergian ayahnya dan menjadikannya berjuang sendirian, bukan itu. Jay menyadari dan melihat lebih dalam bahwa titik baliknya adalah ini, wanita yang ada di hadapannya dengan tak terencana, begitu indah suara dan parasnya. Dan seakan mendapat suatu penjelasan entah darimana, Jay memahami rasanya cinta pada pandangan pertama. Titik baliknya dalam hidup.

Sedikit risih dengan tatapan Jay dan keheningan karena Jay tak kunjung menjawab membuat wanita itu kembali menegur, “Hey…”

“Oh…ya…” Jay gugup, “…iya bener, gue Jay…”

“Woww…gak nyangka gue ketemu disini sama lo. Oh ya, gue suka banget sama baju-baju distro lo, gue hobi banget beli disana…” kata wanita itu ceria.

“Jay…” Jay dengan spontan mengulurkan tangannya dan menunggu respon perkenalan dari wanita itu.

Wanita itu terdiam heran melihat uluran tangan itu, tapi langsung ia sambut. Dengan senyum manis yang terkembang ia berkata, “Yasmine…”

Semua itu pun menjadi begitu jelas. Yasmine dipersilahkan duduk disamping Jay dan kotak besarnya. Mereka tertawa bersama membahas balon berbentuk hati yang dibawa Yasmine, dan obrolan mereka pun semakin akrab.

Jay belajar banyak dari ini semua, suara, tatapan, dan gelagat Yasmine. Semua itu begitu indah ia rasakan untuk pertama kalinya. Seakan kedaan menunjukkan suatu kebenaran bahwa inilah kenyataannya. Walaupun tak pernah ada yang salah dengan cinta sebelumnya, cinta dan ketulusan Romy tidak pernah salah, meski bukan kemauan mereka. Cinta dan kenangan Romy adalah hal berarti bagi Jay. Tapi Yasmine lebih dari nyata dari itu semua, hal baru dalam hidupnya yang begitu sempurna.

Namun ada hal terpenting yang berhasil Jay jawab atas tantangan ayahnya, bahwa ia sudah memilih, untuk menjadi lelaki sejati yang tak terkalahkan oleh keadaan.

DA 210913