Sesuatu yang Ajaib – PART II

Cepat sekali waktu berlalu, tapi cukup lambat bagi Nangroe Aceh Darussalam pulih dari bencana. Tsunami yang melanda baru enam bulan kemudian terpulihkan sedikit dari deritanya. Itu pun tidak secara total, masih banyak yang harus diperbaik di sana-sini. Masih banyak pula keluarga yang belum menemukan anggota keluarganya yang hilang (dipastikan mereka telah meninggal). Sungguh miris keadaan pada waktu awal-awal terjadinya bencana tsunami yang dahsyat itu.

Begitu pula denganku dan Aldi. Enam bulan aku menemaninya menghadapi cobaan yang ia dapat setelah tsunami. Ya, tangannya yang hilang terbawa derasnya arus air laut. Kala itu ia depresi berat, aku tak tega untuk meninggalkannya sebatang kara di Aceh. Ibunya ditemukan meninggal tertimbun tanah dan barang-barang masyarakat yang seakan menjadi satu kala itu, Aldi sudah sangat bersyukur dapat menemukan jasad ibunya, sedangkan ayahnya menghilang ditelan ombak.

Aku benar-benar tak ingin meninggalkannya, dan aku pun sepenuh hati mengurus dan membantunya beradaptasi dengan lingkungan setelah tangannya mengalami cacat. Aku tak berani mengucapkan kata-kata itu di depannya, karena pasti ia akan murung dan rasa percaya dirinya menghilang lagi. Begitu sulitnya masa-masa ini, trauma yang tak berkesudahan namun selalu ada keinginan untuk kembali.

Aku sendiri juga berusaha melewati masa-masa itu dengan sabar. Diawali dengan tinggal lebih dari satu bulan di tenda darurat bersama Aldi, menjadi sukarelawan yang sangat dibutuhkan, bahkan bekerja untuk Aldi. Semua itu aku lakukan untuknya. Orang tuaku di pesisir memakluminya. Bahkan mereka meyuruhku tetap di sana sampai Aldi benar-benar membaik.

Dan sekarang aku dan Aldi tinggal di lokasi perumahan khusus untuk korban tsunami selama enam bulan yang melelahkan itu. Tempat yang sangat sederhana dibangun degan secepat kilat demi semua korban mendapat tempat singgah dan bernaung yang lebih baik. Aldi sering menyuruhku pulang saja kembali ke pesisir, menurutnya aku membuang-buang waktu mengurus dirinya yang akan terus seperti itu. Tapi aku tidak akan meninggalkannya, aku akan terus bersamanya sampai ia benar-benar bisa mengandalkan dirinya dan mampu menghadapi kenyataan. Alasan terbesar adalah karena ia tidak punya siapa-siapa di sini.

“Kau pulang saja, Aira…” kata Aldi membangunkanku dari lamunan terdalam, sambil menatap hujan melewati jendela kamarnya dan duduk di kursi rodanya. Walaupun terlihatnya tangannya lah yang terparah mengalami musibah, namun sejauh ini Aldi sangat lemah untuk berjalan, butuh waktu beberapa lama lagi.

“Aldi…udahlah…aku bosan mendengarnya, yang jelas, aku tidak akan pernah meninggalkanmu…” kataku sambil bangun dari kursi.

“Tapi kau terlalu lama menemaniku. Kasihan orang tuamu di pesisir, pasti mereka sangat merindukanmu. Situasi di sini juga sangat tidak baik untukmu…” Aldi semakin meratap.

Aku hanya menghela napas dan mengerutkan dahi. Aku bingung apa lagi yang harus kukatakan padanya agar ia tidak berkata seperti itu lagi. Entah kenapa, aku ingin ia beranggapan tak ada orang lain yang bisa seperti ini selain aku. Aku yang sahabatnya.

Tiba-tiba saja aku menyadari sesuatu yang bisa menjawabnya, dan aku yakin Aldi sudah siap.

“Bagaimana kalau kau dan aku pulang ke pesisir bersama?” aku berkata riang. Aldi diam tak menjawab dan aku meneruskan, “Kalau kau tidak yakin, pesisir itu rumahmu juga!  Kau bisa tinggal bersamaku, dan kita bisa bermain ke pantai lagi!”

Sesaat tidak ada suara, tiba-tiba Aldi ,memutar kursi roda dengan tangan kirinya dan berkata, “Aku tidak bisa dan tidak mau kembali ke sana, banyak kenangan yang membuatku frustasi…”

Aldi pergi kea rah pintu. Dengan cepat aku menghentikan kursi roda Aldi dan duduk bertumpu pada lutut.

“Aldi…Asal kau tahu, aku sangat…sangat…tidak ingin berpisah denganmu lagi, rasanya sangat tidak enak, Aldi,” aku menatapnya lembut, “…dan kenapa kau harus takut dengan kenangan masa lalumu sendiri? Kau harus menghadapi dan melawannya. Aku yakin semuanya akan terlewati jika kau menikmatinya. Berbeda jika kau terus terpuruk di sini, di sini hanya ketakutan yang membelenggumu, begitu juga aku, aku takut berada di sini. Aku ingin memori dulu, saat kita bermain di pantai, aku ingin itu, Aldi. Kau butuh suasana berbeda, orang tuaku pasti sangat senang kau datang.” Aku menatapnya lekat-lekat.

Aldi terdiam. Aku tahu ia sedang berpikir.

“Kau mau kan?” aku kembali meyakinkannya.

Aldi pun mengangguk pelan. Aku menghela napas lega dan tersenyum.

“Aku akan terus tinggal?” tanya Aldi.

“Kau akan terus tinggal, sahabatku yang baik…” kataku sambil mencubit pipinya, dan kali ini aku berhasil membuatnya benar-benar tersenyum lebar. Aldi sudah siap untuk pulang dan melupakan ini semua, aku yakin itu.

 

Dua hari kemudian aku dan Aldi sudah selesai mengemasi pakaian-pakaian kami dan barang-barang lainnya. Bahkan aku sudah mempunyai dua tiket pesawat untuk pulang hari ini juga. Senang rasanya akan kembali ke rumahku sebenarnya.

Walaupun begitu,ada rasa sedih yang mendalam karena harus berpisah dengan warga senasib di sini. Sebagian besar aku tahu bagaimana perjuangan mereka; mencari kerabatnya yang hilang, mencari bantuan, kami beribadah bersama. Miris memang menghadapi dan menjadi saksi hidup dari suatu musibah yang takkan pernah terlupakan, namun kebersamaan mengalahkan semua ketakutan itu.

Salam perpisahan kami ucapkan kepada seluruh penghuni perumahan itu, semua bahagia, semua sedih, tapi kenangan ini tak akan terlupakan.

Aku dan Aldi berangkat ke bandara. Aldi terdiam terus sampai menaiki pesawat. Memang, sebelumnya dia mengatakan cukup berat meninggalkan Aceh dan kenangannya. Tapi aku selalu menghiburnya bahwa kita pasti akan mengunjungi Aceh lagi. Dan aku yakin dengan pulang ke pesisir Aldi bisa berubah secara psikis.

Di dalam pesawat Aldi masih saja diam, ia tidak menjawab semua pertanyaanku. Aku sedikit tidak enak padanya, karena memaksanya pulang ke pesisir. Tapi itulah kurasa yang ia butuhkan, suasana yang berbeda dari biasanya.

Akhirnya aku mengikuti kemauanya untuk diam sepanjang perjalanan.

 

Kami tiba di malam hari. Aku terus mendorong kursi rodanya dan naik taksi. Akhirnya, kami tiba di pesisir.  Suasana di sini sungguh masih terlihat sama seperti saat aku tinggalkan enam bulan lalu. Tapi inilah yang sangat aku rindukan.

Aku lihat senyum tipis Aldi saat melihat pemandangan laut di malam hari yang sudah lama tak dilihatnya. Aku melihat pondok rumahku, lampu-lampu masih menyala. Pasti ayah dan ibu menungu kedatangan kami.

Dengan susah payah aku berusaha menggiring Aldi dan kursi rodanya melewati undakan-undakan teras rumahku yang terbuat dari kayu. Setelah itu aku mengetuk pintu perlahan dengan perasaan senang yang tak bisa terjelaskan, aku juga yakin Aldi merasakan hal itu.

Setelah beberapa kali aku mengetuk, pintu terbuka. Aku melihat wajah ibuku yang sangat terkejut melihatku.

“Aira!! Kau kembali!”

Ibu memelukku lembut. Pelukan itu terhenti saat ibu melihat Aldi di kursi roda.

“Aldi…” panggil ibuku lembut.

Aldi mengangguk lembut dan menyembunyikan tangannya yang hilang. Ibuku menghampiri Aldi dan menunduk menyamainya.

“Aldi…kau tidak perlu menyembunyikan tanganmu. Aku sudah mengetahui semuanya dari Aira. Tanganmu tetap tanganmu, tidak ada yang berubah dari itu. Dan Aldi tetap Aldi” hibur ibuku. Kemudian ibuku memeluknya, dan menyuruh kami masuk karena makan malam sudah ibu siapkan.

Saat aku masuk, aku dan Aldi disambut hangat oleh ayahku yang sekarang makin terlihat kurus saja, tapi tetap gagah tentunya.

Kami makan malam bersama dengan suka cita yang tak terbendung. Tapi Aldi tidak bisa menutupi kesedihannya akan tempat ini. Ia tetap saja terus tertawa dan tersenyum, namun aku tahu di hatinya ia sangat ingin menangis. Banyak topik-topik yang ayah dan ibu hindari agar Aldi tidak semain terpuruk.

 

Malam pun berlalu, pagi menjelang.

Aku bangun dan menghampiri kamar Aldi yang sudah disiapkan sebelumnya. Tapi ia tidak ada di sana! Aku mencari-carinya di seisi rumah, tapi ia tetap tidak ada. Lalu aku keluar, dan ternyata ia sedang duduk di kursi rodanya, di jembatan kayu yang biasa kami hampiri dulu. Aku bingung, bagaimana caranya dia bisa menaiki kursi rodanya ke atas jembatan kayu itu. Mungkin orang tuaku membantunya. Atau, ia berusaha sendiri, karena memang kondisi kakinya sudah bisa dipaksakan untuk berjalan, namun tetap tidak baik untuknya.

Aku menghampirinya ke jembatan kayu itu dan menyentuh bahunya.

“Di sini kau rupanya. Aku mencarimu kemana-mana.” Kataku.

“Seharusnya kau sudah tahu di mana aku” kata Aldi menatap indahnya lautan yang menampilkan landscape matahari terbit dengan cahayanya yang hangat.

Aku berdiri di sampingnya, dan ikut menatap.

“Sesuatu yang ajaib, bukan?” tanyaku. Aldi tidak menjawab.

“Aira, apa aku merepotkan orang tuamu?” tanya Aldi setelah beberapa lama.

“Tentu saja tidak…”

“Kalau aku merepotkan, aku bisa kembali ke rumah lamaku disebelah sama…” Aldi menunjuk ke pondok yang menjadi terlihat tua setelah ditinggalkan beberapa tahun lalu itu, tempat ia dan keluarganya tinggal dulu. Aku ikut menoleh.

“Hey, kau tidak perlu melakukan itu, kau hanya perlu tinggal di rumahku. Bukannya aku melarangmu, tapi kau tidak baik kalau tinggal disana, kau akan stress.”

Aldi menghela napas kesal setelah mendengar perkataanku dan dengan susah payah bangun dari kursi rodanya dan berdiri. Aku cemas melihatnya dan mendekatinya untuk membantu berdiri.

“Sudahlah Aira!!” kata Aldi keras seraya menepis tanganku yang akan membantunya, “Sudah cukup kau terlalu protektif kepadaku seperti itu. Aku ingin bebas, aku ingin mandiri, aku ingin normal. Bukan sebaliknya dibayang-bayangi olehmu. Aku tahu aku cacat, tapi bukan berarti aku tidak bisa melakukan apa-apa, kan. Dan kau tahu, aku menyesal dengan kedatanganmu ke Aceh waktu itu…”

Aku sangat terkejut mendengarnya, seperti semua dinding yang menahanku untuk tetap berdiri kokoh runtuh seketika dan menghancurkan perasaanku. Apakah ini yang selama ini Aldi sembunyikan dariku? Ia tidak suka dengan keberadaanku? Aku pun mundur menjauh dari tempat Aldi berdiri. Air mataku menetes tak tertahankan.

“Maafkan aku, Aldi…” kataku tersengguk, “…aku tak bermaksud terus membayangimu, aku hanya mengkhawatirkanmu, dan kekhawatiranku itu untuk kebaikanmu juga.”

Sesaat semuanya hening, hanya ada suara ombak dan kicauan burung pagi. Aku memberanikan diri maju dan menghampirinya lagi dan berkata, “Maafkan aku Aldi…”

Aku berbalik dan berniat untuk berlari meninggalkan Aldi dan pergi masuk ke dalam rumah, tapi tiba-tiba tangan kiriku diraihnya dan aku terpaksa berhenti.

“Tunggu, Aira…aku tidak bermaksud marah padamu. Aku hanya ingin menyatakan sesuatu.” Aldi memandangku lembut seakan merasa bersalah dengan semua perkataannya tadi. Tubuhnya yang tinggi membuatku harus melihat ke atas.

“Tapi itulah yang kau nyatakan…” kataku mencoba pergi lagi, tapi ditahan lagi olehnya.

“Tunggu, Aira…ada yang mau aku katakan padamu.” Aldi memejamkan matanya.

“Apa?” tanyaku masih berlinang air mata.

“Aku…” ia berhenti, “Sebelumnya aku meminta maaf padamu atas apa yang aku katakana tadi. Dan aku mau berterima kasih padamu, atas semua yang telah kau lakukan dengan tulus untukku. Aku menyadari, seandainya tidak ada kau mungkin aku sudah menjadi gelandangan. Betapa bodohnya aku berkata kasar padamu…” Aldi menunduk dan melepas genggamannya dari lenganku.

Sebenarnya aku sangat bingung, apa yang mau ia katakan.

“Tidak apa-apa…dan aku melakukannya sepenuh hati.” Kataku memulih. Belum pernah aku sedekat ini dengan Aldi, rasanya juga sangat aneh dalam suasana ini.

“Aku…” Aldi melanjutkan, “Aku tahu aku sangat tidak pantas untukmu, sekalipun sebagai sahabat. Kau sahabat terbaikku yang pernah aku miliki di dunia ini. Aira, gadis pesisir, dan aku Aldi si anak pantai, yang cacat tentunya.” Aldi tersenyum kaku sambil melihat tangannya yang tak ada dan aku terus menatapnya.

Aku terus menunggu dan kata-kata itu pun mengalir terucapkan dari mulut Aldi.

“Aku…mencintaimu, Aira…dengan perasaan yang berbeda…”

Aldi sangat gugup dan aku sangat terkejut mendengarnya. Aldi mencintaiku dengan perasaan yang berbeda?

“Tapi kau tidak boleh mencintaiku juga, dan kau hanya boleh menjadi sahabat baikku…” Aldi terlihat bingung.

Lalu ia mendekat perlahan dan mencium keningku dengan lembut. Mungkin saat-saat itu hanya beberapa detik yang aneh, membuat aku dan Aldi memejamkan mata menikmati suasana yang tercipta ketika kecupan itu mendarat di keningku.

Aldi langsung pergi dan sedikit berlari dengan tertatih penuh usaha untuk melakukannya dengan kaki yang sakit. Tapi ia tak kembali ke rumahku, ia kembali ke rumah lamanya dan menutup pintu dari dalam dengan kencang. Rumah itu terlihat gelap.

Aku masih terpaku di jembatan kayu yang penuh kenangan. Lalu aku melangkah ke ujung jembatan, menatap matahari pagi yang semakin terang benderang dengan perlahan dan menangis tersedu-sedu.

 

DA 260913

Iklan

Sesuatu yang Ajaib

Teman sejati itu memang ada. Itulah yang aku rasakan kini. Aldi, ialah teman sejatiku, yang setia menemaniku kapanpun. Walaupun terkadang sulit untuk mejabarkan arti sebenarnya teman sejati di jaman sekarang, aku bersyukur tetap menemukannya.

Di pesisir patai inilah aku dan keluargaku, juga keluarga Aldi tinggal. Keluargaku dan keluarga Aldi sangat akrab. Aku sudah lima tahun tinggal di sini. Sungguh tempat yang indah dan terasa milik kami, karena memang hanya keluargaku dan keluarga Aldi yang tinggal.

Persahabatanku dengan Aldi sudah berusia sama dengan selama aku tinggal disini. Memang terlihat janggal disini, berteman dekat dengan seorang lawan jenis. Gejolak remaja justru mengajarkan kami akan jalannya persahabatan yang benar. Sebagai seorang perempuan malah terasa terlindungi berteman dengan laki-laki, karena ia sangat baik menurutku.

“Aira…” panggil Aldi di balik pohon belakang rumahku yang pintunya terbuka.

Aku menoleh dan tersenyum. Aldi, lelaki yang seusia denganku sekitar 14 tahun itu terlihat lucu memakai kaus oblong dengan celana pendek khas anak pantai.

Aku menghampirinya, “Ada apa, Di?”

“Kau sedang tidak sibuk kan?” tanya Aldi berbisik. Aku jawab singkat dengan gelengan.

Ia langsung menarik tanganku dan mengajakku berlari. Rok yang aku pakai terkibas angin sore yang kencang. Dihiasi dengan tawa riangku dengannya. Sebenarnya aku sudah tahu mau dibawa kemana oleh Aldi. Itu merupakan kebiasaan kami setiap sore, namun tetap berkesan.

Akhirnya kami tiba di sebuah jembatan kayu yang menjorok ke laut. Aldi naik terlebih dahulu dan membantuku menaiki papan kayu itu. Tanganku diraihnya.

Ya…benar. Aldi ingin menunjukkan lagi kepadaku matahari sore yang akan terbenam. Aldi tidak pernah bosan menunjukkannya. Karena menurutnya, ini adalah sesuatu yang ‘ajaib’. Dan sampai saat ini aku tidak pernah tahu maksud dari kata ‘ajaib’ itu. Menurutku, itu adalah kebesaran Tuhan, kan.

Kami pun duduk di ujung jembatan yang tak menghubungkan apapun itu. Kaki kami tergantung di jembatan dan menikmati percikan air.

“Kau lihat itu, Aira? Keajaiban datang lagi…” kata Aldi yang tatapannya menuju matahari sore yang berwarna oranye dan cahayanya yang datang langsung berhadapan dengan kami terasa hangat menerpa wajah.

Aku hanya menggelengkan kepala perlahan dengan senyum kagum. Selalu itu yang ia katakan. Tapi aku takkan pernah bosan, karena kata-kata itu begitu lembut terdengar.

Matahari pun perlahan terbenam. Sangat indah. Warna oranye bercampur jingga yang membuatku gemas ingin menyentuhnya. Tapi pertemuanku dengan Aldi kali ini sangat terasa berbeda. Sikapnya yang tidak seperti biasa, cara dia menatap matahari…semuanya.

Maghrib terdengar di ujung pendengaran. Detik-detik terbenamnya matahari merupakan saat-saat yang indah dan spesial, karena hanya berlangsung dalam beberapa detik, namun sangat istimewa. Dengan inisiatif aku dan Aldi pulang. Sebelum masuk ke rumah yang tak jauh dari pantai, aku melambaikan tangan pada Aldi. Tapi ia tak membalasnya. Ada tatapan sedih mendalam di wajahnya. Tatapan yang membuatku iba dan ingin kembali merangkulnya. Tapi biarlah, mungkin Aldi sedang ada masalah dengan keluarganya, dan itu bukan ranahku untuk mengetahuinya.

 

Malam itu pun terlewati dan pagi yang cerah datang. Aku terbangun di pagi yang indah, meregangkan seluruh tubuh dan tanganku dan segera keluar kamar.

Aku melihat ayah dan ibuku di meja makan. Mereka terlihat murung dan diam. Ada apa ini? Aku menghampiri mereka dan bertanya kepada ibuku sambil meminum segelas air yang kuambil terlebih dahulu.

“Ada apa, bu?”

Beberapa saat ibuku tetap terdiam dan menjawab, “Seharusnya kau bangun tadi subuh.”

“Memangnya kenapa?” aku terheran.

“Aldi dan keluarganya pergi…” ibu menatapku.

“Loh, itu wajar kan? Kan memang Aldi selalu ikut ayah dan ibunya ke pasar untuk menjual ikan.”

“Tapi mereka tak akan kembali, mereka pindah ke Banda Aceh. Mereka menetap disana.”

Spontan gelas plastik yang kupegang terjatuh dan menumpahkan airnya. Hal itu mengagetkan ayahku. Ya Tuhan? Aldi pergi? Sahabatku? Kenapa ia tidak mengucapkan salam terakhir untukku dan pergi begitu saja?

“Tapi ia memberikan ini untukmu,” Ibu menyodorkan sepucuk surat untukku. Dengan amplop berwarna biru kesukaanku. Aku mengambilnya dengan tangan sedikit gemetar. Dengan cepat aku membukanya. Aku tahu  pasti bahwa ini tulisan Aldi. Dan surat itu berbunyi…

“Aira. Maafkan aku, Aira. Cukup jelas aku harus pergi dan tinggal di Aceh. Mungkin saat kau membaca surat ini, aku sedang berada di pesawat menuju Aceh sekarang. Ayahku pindah untuk bekerja disana. Seandainya aku bisa menolak, aku tak akan mau pindah kesana, Aira. Mungkin akan sulit bagiku menemukan teman baru disana, khususnya seperti dirimu. Sekali  lagi maafkan aku, Aira. Selamat tinggal pesisir terindah. Selamat tinggal, Aira…”

Aku benar-benar terpaku. Tak terasa air mataku menetes dan membasahi surat dari Aldi. Aku masuk ke kamarku. Terdengar suara ombak yang menghancurkan. Seperti hatiku yang kini telah hancur. Aku tak menyangka, ternyata senja kemarin adalah senja terakhir untukku dan Aldi? Hal itu ternyata yang membuatku bingung dengan sikapnya. Apa yang bisa aku lakukan sekarang tanpanya? Ia juga tak memberitahuku kapan ia akan kembali. Apakah karena ia tak akan kembali? Aku terus saja menangis. Tapi tak ada yang bisa kutakutkan. Sampai akhirnya air mata itu pun habis dan terlupakan.

 

Sudah enam tahun Aldi tidak tinggal lagi disini. Pasti ia sudah besar sekarang, layaknya aku yang telah menjadi gadis dewasa.

Aku duduk menatap senja dari jendela kamarku. Teringat Aldi. Tapi aku berusaha untuk tidak mengingatnya, karena pasti air mataku pecah lagi.

Kini aku menatap layar TV di ruang tengah. Dan aku sangat terkejut. Disana, di setiap stasiun tv aku melihat berita yang terus membicarakan tentang bencana tsunami di Aceh. Aceh!! Itu tempat tinggal Aldi! Banyak warga Aceh yang meninggal dunia, bahkan tak terhitung jumlahnya. Apa termasuk Aldi? Keluarganya? Ya Tuhan…pikiran-pikiran aneh mulai menggerayangiku.

Perasaanku pun  bergejolak. Niat gilaku langsung muncul untuk menyusulnya ke Aceh, karena aku yakin tak mungkin Aldi benar-benar tidak mengalami hal yang sulit. Aku ingin tahu keadaannya. Aku sahabatnya, aku harus tahu. Lagi pula aku sudah besar, aku bisa pergi ke sana sendiri, bagaimana pun kondisi tidak aman yang masih bergejolak di sana.

Aku meminta izin kepada ayah dan ibu pada hari itu juga. Walaupun sempat bertengkar dan melarangku pergi karena aku telah memutuskan hal ceroboh, tapi mereka melihat sesuatu yang tulus di mataku dan rasa ingin tahu yang besar atas suatu ketidakjelasan. Aku yakin aku harus pergi untuk tidak menggantung hatiku.

Dengan cepat aku segera mempersiapkan keberangkatanku yang sudah bisa kulakukan esok hari walaupun penuh kesulitan untuk mengurusnya. Untung saja larangan terbang dan mendarat di Aceh belum langsung di sosialisasikan dengan tegas saat itu. Bagiku ini sangat penting dan mengganjal hatiku sampai aku harus melakukan ini secepatnya.

Esok paginya aku berpamitan dengan ibu dan ayahku, aku membawa beberapa pakaian saja agar tidak merepotkan diri sendiri di sana.

Setelah beberapa jam menaiki pesawat dengan perasaan berkecamuk dalam dada, akhirnya aku sampai di bumi Aceh. Tercium bau ‘kematian’ dimana-mana, aku sangat menyadari hal itu. Suasana menegangkan langsung menghantuiku. Mayat yang tergeletak di mana-mana dan masih dalam proses evakuasi, sampah-sampah rumah tangga yang tak terbendung menumpuk di berbagai sudut jalan seperti lautan sampah. Merasa sadar atau tidak, sepertinya aku sempat melihat seonggok lengan terdampar mengenaskan di salah sudut itu. Namun aku berusaha menguatkan diriku dan berkonsentrasi dengan tujuanku datang kesini. Mengatasi trauma bisa aku lakukan nanti.

Di Aceh, aku tahu alamat Aldi berada, sebelum berangkat ibu memberitahuku yang katanya ia tahu dari ibu Aldi sebelum beberapa tahun lalu meninggalkan pesisir, tapi ia tak pernah memberitahuku. Apakah rumah Aldi telah hancur diterpa tsunami? Semoga saja tidak.

Tak terbayang olehku, sudah enam tahun aku tidak bertemu dengan Aldi dan sekarang aku akan menghampirinya dalam keadaan seperti ini. Tuhan selalu memberikan kejutan tak terkira dalam setiap kehidupan manusia-Nya, baik suka maupun duka.

Aku terkejut, saat aku sampai di alamat yang aku tuju setelah menaiki kendaraan evakuasi yang terus berpatroli menyelamatkan warga. Dan nyatanya, rumah itu telah rata dengan tanah tanpa aku tahu bagaimana dulu bentuknya. Tapi pikiranku tak terhenti sampai disitu, aku langsung mencari Aldi di tenda-tenda pengungsian darurat. Aldi –jika memang ia terluka- pasti ada ditenda terdekat, atau mungkin terjauh.

Tenda pertama, tidak ada. Tenda kedua, juga tidak ada. Pencarian di beberapa tenda itu sangat membuatku shock, miris dan sedih yang amat mendalam menghadapi ini semua. Aku melihat mayat, orang-orang yang terluka parah, anak kecil yang mencari kedua orang tuanya, semuanya begitu memilukan tanpa bisa aku membantunya.

Namun aku tak berhenti. Aku sampai di tenda ke tujuh, tenda terakhir yang sedikit membuatku lebih jauh dengan lokasi yang pertama kudatangi. Dan aku menemukan sosok itu, sosok yang sangat mirip dengan Aldi yang kukenal di masa kecil, namun tampak berbeda. Itulah dia, itu memang Aldi, tergeletak di ujung ruangan tenda buatan ini di atas sebuah meja yang kelihatannya adalah sebuah meja makan yang terpaksa harus dijadikan tempat tidur sementara.

Ia tampak berbeda, wajahnya penuh goresan luka, terlihat sekali penderitaannya karena musibah ini. Perasaanku kini senang karena bisa kembali bertemu dengannya, sangat senang. Tapi juga begitu sedih karena harus bertemu dengannya dalam keadaan situasi seperti ini.

Kulihat seluruh bahunya yang berbalut perban dan sebelah tangannya tertutup kain. Aku memberanikan mendekat dan menyentuhnya. Ia terbangun. Air mataku terjatuh. Ia membuka mata perlahan. Aldi terkejut melihatku, ternyata ia cukup cepat mengingat dan mengenalku kembali.

“Aira…kenapa kau datang?” kata Aldi terbata-bata.

“Aku ingin menjemputmu..” aku mulai terisak.

“Aku tidak pantas lagi untukmu.”

Aku heran mendengar perkataannya. Tidak biasanya ungakapan ketidakpercayadirian keluar dari mulutnya selama aku mengenalnya. Tidak mungkin enam tahun mampu mengubah itu.

“Kenapa?” tanyaku sambil memegang erat pada pinggir meja yang sekarang menjadi alas terbaringnya Aldi.

Lalu ia membuka kain putih yang menutupi lengannya. Aku tersentak kaget melihat apa yang baru saja aku lihat. Tangan kanannya telah hilang, tidak ada. Dan banyak darah merembes pada balutannya. Aldi melanjutkan kata-katanya.

“Kau ingat tentang keajaiban?” kata Aldi dan kubalas dengan anggukkan yakin, “Aku sangat mengagumi matahari. Matahari sangat ajaib, pagi hari ia datang, sore hari ia pergi.” Aldi terdiam sesaat. “ Aku selalu menganggap aku ini ajaib memilikimu, meraih dan menarik tanganmu dengan senang dan melepas tanganmu dengan sedih. Tapi kini aku tak ajaib lagi, karena sekarang aku tidak bisa melakukannya, aku tidak bisa menyentuh tanganmu. Arus air itu menghilangkan tanganku, tapi aku juga tidak ingin menjadi hamba yang murka terhadap Tuhannya. Aku tidak seperti dulu lagi, Aira…” Aldi menangis.

Pertemuan ini seakan mengumpulkan pikiran kami jadi satu tanpa mengingat semua kejadian bencana yang baru saja terjadi. Seakan melupakan rasa syukur atas pertemuan berharga ini.

Lalu aku lebih mendekat, terduduk menopang pada lututku untuk menyamainya dan berusaha mengerti. Ia kehilangan tangannya, itu yang kutahu. Kini ia terpuruk, dan jelas masih belum bisa menerima keadaannya. Aldi…andai aku bisa menggantikanmu yang sedang sedih, aku bersedia, demi membuatmu tersenyum kembali. Tapi aku tahu apa yang harus dan bisa aku lakukan, yaitu menjadi dirinya.

“Aldi…” panggilku sambil menggenggam tangannya yang lain, “…jangan pernah salah berucap.” Aku berusaha tegar tanpa tangis yang kutahan, “Hal yang ajaib akan terus ajaib, mutlak dan tak bisa dijelaskan. Kalau kau percaya keajaiban itu, matahari tak akan pernah kehilangan seberkas pun cahayanya hanya karena mendung dan hujan. Tapi cahaya itu tetap disana dan tetap bersinar, tak pernah hilang. Percaya itu, Di…” air mataku tak terbendung, berusaha menjadi lebih kuat di tengah kondisi ini. Riuhnya keramaian pada tenda pengungsian itu tak membuat percakapan kami kehilangan makna bagi kami berdua.

Aku terus memegang tangan kirinya erat, “Kau sahabatku, si Aldi anak pesisir.” Aku mengembangkan senyum menahan tangis yang tak boleh lebih hebat lagi, “Kau tetap sahabatku itu, apapun dirimu dan keadaanmu sekarang, kau tetap Aldi yang kukenal, …Aldiku itu. Dan aku juga tetap sahabatmu yang tak akan pernah meninggalkanmu. Mulai sekarang kau harus berbagi padaku, aku disini untukmu, Aldi. Tak perlu kau bingung. Kau tahu, hanya sahabat yang indah. Sekarang, aku yang akan menjadi ajaib untukmu, menjadi mataharimu…”

Air mataku pun berlinang.

OLD SCRIPT WITHOUT CHANGES

DA 210913