Sesuatu yang Ajaib – PART II

Cepat sekali waktu berlalu, tapi cukup lambat bagi Nangroe Aceh Darussalam pulih dari bencana. Tsunami yang melanda baru enam bulan kemudian terpulihkan sedikit dari deritanya. Itu pun tidak secara total, masih banyak yang harus diperbaik di sana-sini. Masih banyak pula keluarga yang belum menemukan anggota keluarganya yang hilang (dipastikan mereka telah meninggal). Sungguh miris keadaan pada waktu awal-awal terjadinya bencana tsunami yang dahsyat itu.

Begitu pula denganku dan Aldi. Enam bulan aku menemaninya menghadapi cobaan yang ia dapat setelah tsunami. Ya, tangannya yang hilang terbawa derasnya arus air laut. Kala itu ia depresi berat, aku tak tega untuk meninggalkannya sebatang kara di Aceh. Ibunya ditemukan meninggal tertimbun tanah dan barang-barang masyarakat yang seakan menjadi satu kala itu, Aldi sudah sangat bersyukur dapat menemukan jasad ibunya, sedangkan ayahnya menghilang ditelan ombak.

Aku benar-benar tak ingin meninggalkannya, dan aku pun sepenuh hati mengurus dan membantunya beradaptasi dengan lingkungan setelah tangannya mengalami cacat. Aku tak berani mengucapkan kata-kata itu di depannya, karena pasti ia akan murung dan rasa percaya dirinya menghilang lagi. Begitu sulitnya masa-masa ini, trauma yang tak berkesudahan namun selalu ada keinginan untuk kembali.

Aku sendiri juga berusaha melewati masa-masa itu dengan sabar. Diawali dengan tinggal lebih dari satu bulan di tenda darurat bersama Aldi, menjadi sukarelawan yang sangat dibutuhkan, bahkan bekerja untuk Aldi. Semua itu aku lakukan untuknya. Orang tuaku di pesisir memakluminya. Bahkan mereka meyuruhku tetap di sana sampai Aldi benar-benar membaik.

Dan sekarang aku dan Aldi tinggal di lokasi perumahan khusus untuk korban tsunami selama enam bulan yang melelahkan itu. Tempat yang sangat sederhana dibangun degan secepat kilat demi semua korban mendapat tempat singgah dan bernaung yang lebih baik. Aldi sering menyuruhku pulang saja kembali ke pesisir, menurutnya aku membuang-buang waktu mengurus dirinya yang akan terus seperti itu. Tapi aku tidak akan meninggalkannya, aku akan terus bersamanya sampai ia benar-benar bisa mengandalkan dirinya dan mampu menghadapi kenyataan. Alasan terbesar adalah karena ia tidak punya siapa-siapa di sini.

“Kau pulang saja, Aira…” kata Aldi membangunkanku dari lamunan terdalam, sambil menatap hujan melewati jendela kamarnya dan duduk di kursi rodanya. Walaupun terlihatnya tangannya lah yang terparah mengalami musibah, namun sejauh ini Aldi sangat lemah untuk berjalan, butuh waktu beberapa lama lagi.

“Aldi…udahlah…aku bosan mendengarnya, yang jelas, aku tidak akan pernah meninggalkanmu…” kataku sambil bangun dari kursi.

“Tapi kau terlalu lama menemaniku. Kasihan orang tuamu di pesisir, pasti mereka sangat merindukanmu. Situasi di sini juga sangat tidak baik untukmu…” Aldi semakin meratap.

Aku hanya menghela napas dan mengerutkan dahi. Aku bingung apa lagi yang harus kukatakan padanya agar ia tidak berkata seperti itu lagi. Entah kenapa, aku ingin ia beranggapan tak ada orang lain yang bisa seperti ini selain aku. Aku yang sahabatnya.

Tiba-tiba saja aku menyadari sesuatu yang bisa menjawabnya, dan aku yakin Aldi sudah siap.

“Bagaimana kalau kau dan aku pulang ke pesisir bersama?” aku berkata riang. Aldi diam tak menjawab dan aku meneruskan, “Kalau kau tidak yakin, pesisir itu rumahmu juga!  Kau bisa tinggal bersamaku, dan kita bisa bermain ke pantai lagi!”

Sesaat tidak ada suara, tiba-tiba Aldi ,memutar kursi roda dengan tangan kirinya dan berkata, “Aku tidak bisa dan tidak mau kembali ke sana, banyak kenangan yang membuatku frustasi…”

Aldi pergi kea rah pintu. Dengan cepat aku menghentikan kursi roda Aldi dan duduk bertumpu pada lutut.

“Aldi…Asal kau tahu, aku sangat…sangat…tidak ingin berpisah denganmu lagi, rasanya sangat tidak enak, Aldi,” aku menatapnya lembut, “…dan kenapa kau harus takut dengan kenangan masa lalumu sendiri? Kau harus menghadapi dan melawannya. Aku yakin semuanya akan terlewati jika kau menikmatinya. Berbeda jika kau terus terpuruk di sini, di sini hanya ketakutan yang membelenggumu, begitu juga aku, aku takut berada di sini. Aku ingin memori dulu, saat kita bermain di pantai, aku ingin itu, Aldi. Kau butuh suasana berbeda, orang tuaku pasti sangat senang kau datang.” Aku menatapnya lekat-lekat.

Aldi terdiam. Aku tahu ia sedang berpikir.

“Kau mau kan?” aku kembali meyakinkannya.

Aldi pun mengangguk pelan. Aku menghela napas lega dan tersenyum.

“Aku akan terus tinggal?” tanya Aldi.

“Kau akan terus tinggal, sahabatku yang baik…” kataku sambil mencubit pipinya, dan kali ini aku berhasil membuatnya benar-benar tersenyum lebar. Aldi sudah siap untuk pulang dan melupakan ini semua, aku yakin itu.

 

Dua hari kemudian aku dan Aldi sudah selesai mengemasi pakaian-pakaian kami dan barang-barang lainnya. Bahkan aku sudah mempunyai dua tiket pesawat untuk pulang hari ini juga. Senang rasanya akan kembali ke rumahku sebenarnya.

Walaupun begitu,ada rasa sedih yang mendalam karena harus berpisah dengan warga senasib di sini. Sebagian besar aku tahu bagaimana perjuangan mereka; mencari kerabatnya yang hilang, mencari bantuan, kami beribadah bersama. Miris memang menghadapi dan menjadi saksi hidup dari suatu musibah yang takkan pernah terlupakan, namun kebersamaan mengalahkan semua ketakutan itu.

Salam perpisahan kami ucapkan kepada seluruh penghuni perumahan itu, semua bahagia, semua sedih, tapi kenangan ini tak akan terlupakan.

Aku dan Aldi berangkat ke bandara. Aldi terdiam terus sampai menaiki pesawat. Memang, sebelumnya dia mengatakan cukup berat meninggalkan Aceh dan kenangannya. Tapi aku selalu menghiburnya bahwa kita pasti akan mengunjungi Aceh lagi. Dan aku yakin dengan pulang ke pesisir Aldi bisa berubah secara psikis.

Di dalam pesawat Aldi masih saja diam, ia tidak menjawab semua pertanyaanku. Aku sedikit tidak enak padanya, karena memaksanya pulang ke pesisir. Tapi itulah kurasa yang ia butuhkan, suasana yang berbeda dari biasanya.

Akhirnya aku mengikuti kemauanya untuk diam sepanjang perjalanan.

 

Kami tiba di malam hari. Aku terus mendorong kursi rodanya dan naik taksi. Akhirnya, kami tiba di pesisir.  Suasana di sini sungguh masih terlihat sama seperti saat aku tinggalkan enam bulan lalu. Tapi inilah yang sangat aku rindukan.

Aku lihat senyum tipis Aldi saat melihat pemandangan laut di malam hari yang sudah lama tak dilihatnya. Aku melihat pondok rumahku, lampu-lampu masih menyala. Pasti ayah dan ibu menungu kedatangan kami.

Dengan susah payah aku berusaha menggiring Aldi dan kursi rodanya melewati undakan-undakan teras rumahku yang terbuat dari kayu. Setelah itu aku mengetuk pintu perlahan dengan perasaan senang yang tak bisa terjelaskan, aku juga yakin Aldi merasakan hal itu.

Setelah beberapa kali aku mengetuk, pintu terbuka. Aku melihat wajah ibuku yang sangat terkejut melihatku.

“Aira!! Kau kembali!”

Ibu memelukku lembut. Pelukan itu terhenti saat ibu melihat Aldi di kursi roda.

“Aldi…” panggil ibuku lembut.

Aldi mengangguk lembut dan menyembunyikan tangannya yang hilang. Ibuku menghampiri Aldi dan menunduk menyamainya.

“Aldi…kau tidak perlu menyembunyikan tanganmu. Aku sudah mengetahui semuanya dari Aira. Tanganmu tetap tanganmu, tidak ada yang berubah dari itu. Dan Aldi tetap Aldi” hibur ibuku. Kemudian ibuku memeluknya, dan menyuruh kami masuk karena makan malam sudah ibu siapkan.

Saat aku masuk, aku dan Aldi disambut hangat oleh ayahku yang sekarang makin terlihat kurus saja, tapi tetap gagah tentunya.

Kami makan malam bersama dengan suka cita yang tak terbendung. Tapi Aldi tidak bisa menutupi kesedihannya akan tempat ini. Ia tetap saja terus tertawa dan tersenyum, namun aku tahu di hatinya ia sangat ingin menangis. Banyak topik-topik yang ayah dan ibu hindari agar Aldi tidak semain terpuruk.

 

Malam pun berlalu, pagi menjelang.

Aku bangun dan menghampiri kamar Aldi yang sudah disiapkan sebelumnya. Tapi ia tidak ada di sana! Aku mencari-carinya di seisi rumah, tapi ia tetap tidak ada. Lalu aku keluar, dan ternyata ia sedang duduk di kursi rodanya, di jembatan kayu yang biasa kami hampiri dulu. Aku bingung, bagaimana caranya dia bisa menaiki kursi rodanya ke atas jembatan kayu itu. Mungkin orang tuaku membantunya. Atau, ia berusaha sendiri, karena memang kondisi kakinya sudah bisa dipaksakan untuk berjalan, namun tetap tidak baik untuknya.

Aku menghampirinya ke jembatan kayu itu dan menyentuh bahunya.

“Di sini kau rupanya. Aku mencarimu kemana-mana.” Kataku.

“Seharusnya kau sudah tahu di mana aku” kata Aldi menatap indahnya lautan yang menampilkan landscape matahari terbit dengan cahayanya yang hangat.

Aku berdiri di sampingnya, dan ikut menatap.

“Sesuatu yang ajaib, bukan?” tanyaku. Aldi tidak menjawab.

“Aira, apa aku merepotkan orang tuamu?” tanya Aldi setelah beberapa lama.

“Tentu saja tidak…”

“Kalau aku merepotkan, aku bisa kembali ke rumah lamaku disebelah sama…” Aldi menunjuk ke pondok yang menjadi terlihat tua setelah ditinggalkan beberapa tahun lalu itu, tempat ia dan keluarganya tinggal dulu. Aku ikut menoleh.

“Hey, kau tidak perlu melakukan itu, kau hanya perlu tinggal di rumahku. Bukannya aku melarangmu, tapi kau tidak baik kalau tinggal disana, kau akan stress.”

Aldi menghela napas kesal setelah mendengar perkataanku dan dengan susah payah bangun dari kursi rodanya dan berdiri. Aku cemas melihatnya dan mendekatinya untuk membantu berdiri.

“Sudahlah Aira!!” kata Aldi keras seraya menepis tanganku yang akan membantunya, “Sudah cukup kau terlalu protektif kepadaku seperti itu. Aku ingin bebas, aku ingin mandiri, aku ingin normal. Bukan sebaliknya dibayang-bayangi olehmu. Aku tahu aku cacat, tapi bukan berarti aku tidak bisa melakukan apa-apa, kan. Dan kau tahu, aku menyesal dengan kedatanganmu ke Aceh waktu itu…”

Aku sangat terkejut mendengarnya, seperti semua dinding yang menahanku untuk tetap berdiri kokoh runtuh seketika dan menghancurkan perasaanku. Apakah ini yang selama ini Aldi sembunyikan dariku? Ia tidak suka dengan keberadaanku? Aku pun mundur menjauh dari tempat Aldi berdiri. Air mataku menetes tak tertahankan.

“Maafkan aku, Aldi…” kataku tersengguk, “…aku tak bermaksud terus membayangimu, aku hanya mengkhawatirkanmu, dan kekhawatiranku itu untuk kebaikanmu juga.”

Sesaat semuanya hening, hanya ada suara ombak dan kicauan burung pagi. Aku memberanikan diri maju dan menghampirinya lagi dan berkata, “Maafkan aku Aldi…”

Aku berbalik dan berniat untuk berlari meninggalkan Aldi dan pergi masuk ke dalam rumah, tapi tiba-tiba tangan kiriku diraihnya dan aku terpaksa berhenti.

“Tunggu, Aira…aku tidak bermaksud marah padamu. Aku hanya ingin menyatakan sesuatu.” Aldi memandangku lembut seakan merasa bersalah dengan semua perkataannya tadi. Tubuhnya yang tinggi membuatku harus melihat ke atas.

“Tapi itulah yang kau nyatakan…” kataku mencoba pergi lagi, tapi ditahan lagi olehnya.

“Tunggu, Aira…ada yang mau aku katakan padamu.” Aldi memejamkan matanya.

“Apa?” tanyaku masih berlinang air mata.

“Aku…” ia berhenti, “Sebelumnya aku meminta maaf padamu atas apa yang aku katakana tadi. Dan aku mau berterima kasih padamu, atas semua yang telah kau lakukan dengan tulus untukku. Aku menyadari, seandainya tidak ada kau mungkin aku sudah menjadi gelandangan. Betapa bodohnya aku berkata kasar padamu…” Aldi menunduk dan melepas genggamannya dari lenganku.

Sebenarnya aku sangat bingung, apa yang mau ia katakan.

“Tidak apa-apa…dan aku melakukannya sepenuh hati.” Kataku memulih. Belum pernah aku sedekat ini dengan Aldi, rasanya juga sangat aneh dalam suasana ini.

“Aku…” Aldi melanjutkan, “Aku tahu aku sangat tidak pantas untukmu, sekalipun sebagai sahabat. Kau sahabat terbaikku yang pernah aku miliki di dunia ini. Aira, gadis pesisir, dan aku Aldi si anak pantai, yang cacat tentunya.” Aldi tersenyum kaku sambil melihat tangannya yang tak ada dan aku terus menatapnya.

Aku terus menunggu dan kata-kata itu pun mengalir terucapkan dari mulut Aldi.

“Aku…mencintaimu, Aira…dengan perasaan yang berbeda…”

Aldi sangat gugup dan aku sangat terkejut mendengarnya. Aldi mencintaiku dengan perasaan yang berbeda?

“Tapi kau tidak boleh mencintaiku juga, dan kau hanya boleh menjadi sahabat baikku…” Aldi terlihat bingung.

Lalu ia mendekat perlahan dan mencium keningku dengan lembut. Mungkin saat-saat itu hanya beberapa detik yang aneh, membuat aku dan Aldi memejamkan mata menikmati suasana yang tercipta ketika kecupan itu mendarat di keningku.

Aldi langsung pergi dan sedikit berlari dengan tertatih penuh usaha untuk melakukannya dengan kaki yang sakit. Tapi ia tak kembali ke rumahku, ia kembali ke rumah lamanya dan menutup pintu dari dalam dengan kencang. Rumah itu terlihat gelap.

Aku masih terpaku di jembatan kayu yang penuh kenangan. Lalu aku melangkah ke ujung jembatan, menatap matahari pagi yang semakin terang benderang dengan perlahan dan menangis tersedu-sedu.

 

DA 260913

Iklan

One thought on “Sesuatu yang Ajaib – PART II

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s