Sesuatu yang Ajaib

Teman sejati itu memang ada. Itulah yang aku rasakan kini. Aldi, ialah teman sejatiku, yang setia menemaniku kapanpun. Walaupun terkadang sulit untuk mejabarkan arti sebenarnya teman sejati di jaman sekarang, aku bersyukur tetap menemukannya.

Di pesisir patai inilah aku dan keluargaku, juga keluarga Aldi tinggal. Keluargaku dan keluarga Aldi sangat akrab. Aku sudah lima tahun tinggal di sini. Sungguh tempat yang indah dan terasa milik kami, karena memang hanya keluargaku dan keluarga Aldi yang tinggal.

Persahabatanku dengan Aldi sudah berusia sama dengan selama aku tinggal disini. Memang terlihat janggal disini, berteman dekat dengan seorang lawan jenis. Gejolak remaja justru mengajarkan kami akan jalannya persahabatan yang benar. Sebagai seorang perempuan malah terasa terlindungi berteman dengan laki-laki, karena ia sangat baik menurutku.

“Aira…” panggil Aldi di balik pohon belakang rumahku yang pintunya terbuka.

Aku menoleh dan tersenyum. Aldi, lelaki yang seusia denganku sekitar 14 tahun itu terlihat lucu memakai kaus oblong dengan celana pendek khas anak pantai.

Aku menghampirinya, “Ada apa, Di?”

“Kau sedang tidak sibuk kan?” tanya Aldi berbisik. Aku jawab singkat dengan gelengan.

Ia langsung menarik tanganku dan mengajakku berlari. Rok yang aku pakai terkibas angin sore yang kencang. Dihiasi dengan tawa riangku dengannya. Sebenarnya aku sudah tahu mau dibawa kemana oleh Aldi. Itu merupakan kebiasaan kami setiap sore, namun tetap berkesan.

Akhirnya kami tiba di sebuah jembatan kayu yang menjorok ke laut. Aldi naik terlebih dahulu dan membantuku menaiki papan kayu itu. Tanganku diraihnya.

Ya…benar. Aldi ingin menunjukkan lagi kepadaku matahari sore yang akan terbenam. Aldi tidak pernah bosan menunjukkannya. Karena menurutnya, ini adalah sesuatu yang ‘ajaib’. Dan sampai saat ini aku tidak pernah tahu maksud dari kata ‘ajaib’ itu. Menurutku, itu adalah kebesaran Tuhan, kan.

Kami pun duduk di ujung jembatan yang tak menghubungkan apapun itu. Kaki kami tergantung di jembatan dan menikmati percikan air.

“Kau lihat itu, Aira? Keajaiban datang lagi…” kata Aldi yang tatapannya menuju matahari sore yang berwarna oranye dan cahayanya yang datang langsung berhadapan dengan kami terasa hangat menerpa wajah.

Aku hanya menggelengkan kepala perlahan dengan senyum kagum. Selalu itu yang ia katakan. Tapi aku takkan pernah bosan, karena kata-kata itu begitu lembut terdengar.

Matahari pun perlahan terbenam. Sangat indah. Warna oranye bercampur jingga yang membuatku gemas ingin menyentuhnya. Tapi pertemuanku dengan Aldi kali ini sangat terasa berbeda. Sikapnya yang tidak seperti biasa, cara dia menatap matahari…semuanya.

Maghrib terdengar di ujung pendengaran. Detik-detik terbenamnya matahari merupakan saat-saat yang indah dan spesial, karena hanya berlangsung dalam beberapa detik, namun sangat istimewa. Dengan inisiatif aku dan Aldi pulang. Sebelum masuk ke rumah yang tak jauh dari pantai, aku melambaikan tangan pada Aldi. Tapi ia tak membalasnya. Ada tatapan sedih mendalam di wajahnya. Tatapan yang membuatku iba dan ingin kembali merangkulnya. Tapi biarlah, mungkin Aldi sedang ada masalah dengan keluarganya, dan itu bukan ranahku untuk mengetahuinya.

 

Malam itu pun terlewati dan pagi yang cerah datang. Aku terbangun di pagi yang indah, meregangkan seluruh tubuh dan tanganku dan segera keluar kamar.

Aku melihat ayah dan ibuku di meja makan. Mereka terlihat murung dan diam. Ada apa ini? Aku menghampiri mereka dan bertanya kepada ibuku sambil meminum segelas air yang kuambil terlebih dahulu.

“Ada apa, bu?”

Beberapa saat ibuku tetap terdiam dan menjawab, “Seharusnya kau bangun tadi subuh.”

“Memangnya kenapa?” aku terheran.

“Aldi dan keluarganya pergi…” ibu menatapku.

“Loh, itu wajar kan? Kan memang Aldi selalu ikut ayah dan ibunya ke pasar untuk menjual ikan.”

“Tapi mereka tak akan kembali, mereka pindah ke Banda Aceh. Mereka menetap disana.”

Spontan gelas plastik yang kupegang terjatuh dan menumpahkan airnya. Hal itu mengagetkan ayahku. Ya Tuhan? Aldi pergi? Sahabatku? Kenapa ia tidak mengucapkan salam terakhir untukku dan pergi begitu saja?

“Tapi ia memberikan ini untukmu,” Ibu menyodorkan sepucuk surat untukku. Dengan amplop berwarna biru kesukaanku. Aku mengambilnya dengan tangan sedikit gemetar. Dengan cepat aku membukanya. Aku tahu  pasti bahwa ini tulisan Aldi. Dan surat itu berbunyi…

“Aira. Maafkan aku, Aira. Cukup jelas aku harus pergi dan tinggal di Aceh. Mungkin saat kau membaca surat ini, aku sedang berada di pesawat menuju Aceh sekarang. Ayahku pindah untuk bekerja disana. Seandainya aku bisa menolak, aku tak akan mau pindah kesana, Aira. Mungkin akan sulit bagiku menemukan teman baru disana, khususnya seperti dirimu. Sekali  lagi maafkan aku, Aira. Selamat tinggal pesisir terindah. Selamat tinggal, Aira…”

Aku benar-benar terpaku. Tak terasa air mataku menetes dan membasahi surat dari Aldi. Aku masuk ke kamarku. Terdengar suara ombak yang menghancurkan. Seperti hatiku yang kini telah hancur. Aku tak menyangka, ternyata senja kemarin adalah senja terakhir untukku dan Aldi? Hal itu ternyata yang membuatku bingung dengan sikapnya. Apa yang bisa aku lakukan sekarang tanpanya? Ia juga tak memberitahuku kapan ia akan kembali. Apakah karena ia tak akan kembali? Aku terus saja menangis. Tapi tak ada yang bisa kutakutkan. Sampai akhirnya air mata itu pun habis dan terlupakan.

 

Sudah enam tahun Aldi tidak tinggal lagi disini. Pasti ia sudah besar sekarang, layaknya aku yang telah menjadi gadis dewasa.

Aku duduk menatap senja dari jendela kamarku. Teringat Aldi. Tapi aku berusaha untuk tidak mengingatnya, karena pasti air mataku pecah lagi.

Kini aku menatap layar TV di ruang tengah. Dan aku sangat terkejut. Disana, di setiap stasiun tv aku melihat berita yang terus membicarakan tentang bencana tsunami di Aceh. Aceh!! Itu tempat tinggal Aldi! Banyak warga Aceh yang meninggal dunia, bahkan tak terhitung jumlahnya. Apa termasuk Aldi? Keluarganya? Ya Tuhan…pikiran-pikiran aneh mulai menggerayangiku.

Perasaanku pun  bergejolak. Niat gilaku langsung muncul untuk menyusulnya ke Aceh, karena aku yakin tak mungkin Aldi benar-benar tidak mengalami hal yang sulit. Aku ingin tahu keadaannya. Aku sahabatnya, aku harus tahu. Lagi pula aku sudah besar, aku bisa pergi ke sana sendiri, bagaimana pun kondisi tidak aman yang masih bergejolak di sana.

Aku meminta izin kepada ayah dan ibu pada hari itu juga. Walaupun sempat bertengkar dan melarangku pergi karena aku telah memutuskan hal ceroboh, tapi mereka melihat sesuatu yang tulus di mataku dan rasa ingin tahu yang besar atas suatu ketidakjelasan. Aku yakin aku harus pergi untuk tidak menggantung hatiku.

Dengan cepat aku segera mempersiapkan keberangkatanku yang sudah bisa kulakukan esok hari walaupun penuh kesulitan untuk mengurusnya. Untung saja larangan terbang dan mendarat di Aceh belum langsung di sosialisasikan dengan tegas saat itu. Bagiku ini sangat penting dan mengganjal hatiku sampai aku harus melakukan ini secepatnya.

Esok paginya aku berpamitan dengan ibu dan ayahku, aku membawa beberapa pakaian saja agar tidak merepotkan diri sendiri di sana.

Setelah beberapa jam menaiki pesawat dengan perasaan berkecamuk dalam dada, akhirnya aku sampai di bumi Aceh. Tercium bau ‘kematian’ dimana-mana, aku sangat menyadari hal itu. Suasana menegangkan langsung menghantuiku. Mayat yang tergeletak di mana-mana dan masih dalam proses evakuasi, sampah-sampah rumah tangga yang tak terbendung menumpuk di berbagai sudut jalan seperti lautan sampah. Merasa sadar atau tidak, sepertinya aku sempat melihat seonggok lengan terdampar mengenaskan di salah sudut itu. Namun aku berusaha menguatkan diriku dan berkonsentrasi dengan tujuanku datang kesini. Mengatasi trauma bisa aku lakukan nanti.

Di Aceh, aku tahu alamat Aldi berada, sebelum berangkat ibu memberitahuku yang katanya ia tahu dari ibu Aldi sebelum beberapa tahun lalu meninggalkan pesisir, tapi ia tak pernah memberitahuku. Apakah rumah Aldi telah hancur diterpa tsunami? Semoga saja tidak.

Tak terbayang olehku, sudah enam tahun aku tidak bertemu dengan Aldi dan sekarang aku akan menghampirinya dalam keadaan seperti ini. Tuhan selalu memberikan kejutan tak terkira dalam setiap kehidupan manusia-Nya, baik suka maupun duka.

Aku terkejut, saat aku sampai di alamat yang aku tuju setelah menaiki kendaraan evakuasi yang terus berpatroli menyelamatkan warga. Dan nyatanya, rumah itu telah rata dengan tanah tanpa aku tahu bagaimana dulu bentuknya. Tapi pikiranku tak terhenti sampai disitu, aku langsung mencari Aldi di tenda-tenda pengungsian darurat. Aldi –jika memang ia terluka- pasti ada ditenda terdekat, atau mungkin terjauh.

Tenda pertama, tidak ada. Tenda kedua, juga tidak ada. Pencarian di beberapa tenda itu sangat membuatku shock, miris dan sedih yang amat mendalam menghadapi ini semua. Aku melihat mayat, orang-orang yang terluka parah, anak kecil yang mencari kedua orang tuanya, semuanya begitu memilukan tanpa bisa aku membantunya.

Namun aku tak berhenti. Aku sampai di tenda ke tujuh, tenda terakhir yang sedikit membuatku lebih jauh dengan lokasi yang pertama kudatangi. Dan aku menemukan sosok itu, sosok yang sangat mirip dengan Aldi yang kukenal di masa kecil, namun tampak berbeda. Itulah dia, itu memang Aldi, tergeletak di ujung ruangan tenda buatan ini di atas sebuah meja yang kelihatannya adalah sebuah meja makan yang terpaksa harus dijadikan tempat tidur sementara.

Ia tampak berbeda, wajahnya penuh goresan luka, terlihat sekali penderitaannya karena musibah ini. Perasaanku kini senang karena bisa kembali bertemu dengannya, sangat senang. Tapi juga begitu sedih karena harus bertemu dengannya dalam keadaan situasi seperti ini.

Kulihat seluruh bahunya yang berbalut perban dan sebelah tangannya tertutup kain. Aku memberanikan mendekat dan menyentuhnya. Ia terbangun. Air mataku terjatuh. Ia membuka mata perlahan. Aldi terkejut melihatku, ternyata ia cukup cepat mengingat dan mengenalku kembali.

“Aira…kenapa kau datang?” kata Aldi terbata-bata.

“Aku ingin menjemputmu..” aku mulai terisak.

“Aku tidak pantas lagi untukmu.”

Aku heran mendengar perkataannya. Tidak biasanya ungakapan ketidakpercayadirian keluar dari mulutnya selama aku mengenalnya. Tidak mungkin enam tahun mampu mengubah itu.

“Kenapa?” tanyaku sambil memegang erat pada pinggir meja yang sekarang menjadi alas terbaringnya Aldi.

Lalu ia membuka kain putih yang menutupi lengannya. Aku tersentak kaget melihat apa yang baru saja aku lihat. Tangan kanannya telah hilang, tidak ada. Dan banyak darah merembes pada balutannya. Aldi melanjutkan kata-katanya.

“Kau ingat tentang keajaiban?” kata Aldi dan kubalas dengan anggukkan yakin, “Aku sangat mengagumi matahari. Matahari sangat ajaib, pagi hari ia datang, sore hari ia pergi.” Aldi terdiam sesaat. “ Aku selalu menganggap aku ini ajaib memilikimu, meraih dan menarik tanganmu dengan senang dan melepas tanganmu dengan sedih. Tapi kini aku tak ajaib lagi, karena sekarang aku tidak bisa melakukannya, aku tidak bisa menyentuh tanganmu. Arus air itu menghilangkan tanganku, tapi aku juga tidak ingin menjadi hamba yang murka terhadap Tuhannya. Aku tidak seperti dulu lagi, Aira…” Aldi menangis.

Pertemuan ini seakan mengumpulkan pikiran kami jadi satu tanpa mengingat semua kejadian bencana yang baru saja terjadi. Seakan melupakan rasa syukur atas pertemuan berharga ini.

Lalu aku lebih mendekat, terduduk menopang pada lututku untuk menyamainya dan berusaha mengerti. Ia kehilangan tangannya, itu yang kutahu. Kini ia terpuruk, dan jelas masih belum bisa menerima keadaannya. Aldi…andai aku bisa menggantikanmu yang sedang sedih, aku bersedia, demi membuatmu tersenyum kembali. Tapi aku tahu apa yang harus dan bisa aku lakukan, yaitu menjadi dirinya.

“Aldi…” panggilku sambil menggenggam tangannya yang lain, “…jangan pernah salah berucap.” Aku berusaha tegar tanpa tangis yang kutahan, “Hal yang ajaib akan terus ajaib, mutlak dan tak bisa dijelaskan. Kalau kau percaya keajaiban itu, matahari tak akan pernah kehilangan seberkas pun cahayanya hanya karena mendung dan hujan. Tapi cahaya itu tetap disana dan tetap bersinar, tak pernah hilang. Percaya itu, Di…” air mataku tak terbendung, berusaha menjadi lebih kuat di tengah kondisi ini. Riuhnya keramaian pada tenda pengungsian itu tak membuat percakapan kami kehilangan makna bagi kami berdua.

Aku terus memegang tangan kirinya erat, “Kau sahabatku, si Aldi anak pesisir.” Aku mengembangkan senyum menahan tangis yang tak boleh lebih hebat lagi, “Kau tetap sahabatku itu, apapun dirimu dan keadaanmu sekarang, kau tetap Aldi yang kukenal, …Aldiku itu. Dan aku juga tetap sahabatmu yang tak akan pernah meninggalkanmu. Mulai sekarang kau harus berbagi padaku, aku disini untukmu, Aldi. Tak perlu kau bingung. Kau tahu, hanya sahabat yang indah. Sekarang, aku yang akan menjadi ajaib untukmu, menjadi mataharimu…”

Air mataku pun berlinang.

OLD SCRIPT WITHOUT CHANGES

DA 210913

Iklan

One thought on “Sesuatu yang Ajaib

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s