Bakat Terpendam

Penulis : Agoeng Widyatmoko

Kamis, 08 Maret 2007, Dibaca : 7563 kali | Dicetak : 431 kali | Cetak artikel ini

Seekor kodok mengajak berlomba ikan adu cepat. Jalur yang ditempuh menyeberangi sungai. Sang ikan yang bisa berenang cepat menyanggupi karena merasa pasti akan menang.
Pada hari perlombaan, sang ikan bersantai-santai. Ia yang sudah lama hidup di sungai menganggap mustahil kodok bisa mengalahkan dirinya. Maka, ketika lomba dimulai, ia pun masih bersantai. Pikirnya, mana bisa kodok berenang lebih cepat?
Tapi, ternyata. Kodok tidak berenang. Ia meloncati beberapa batuan yang ada di sungai. Karena itu, kodok bisa sampai di seberang lebih cepat dari ikan.
Ikan pun protes.
“Kodok, kamu curang. Bukankah harusnya kamu berenang?”
“Siapa bilang? Kita kan lomba menyeberangi sungai, bukan berenang menyeberangi sungai?”

***

Kadang, kita sering jengkel pada keadaan. Sudah bekerja keras banting tulang peras keringat, kok belum sukses juga? Sesudah begitu, kita lantas membanding-bandingkan dengan orang lain. Rasa iri muncul saat melihat orang sukses karena koneksi lah, karena terlahir kaya lah, karena lebih pintar lah. Akhirnya, yang muncul kemudian komentar bernada miris. Yah, dia bisa begitu karena koneksi. Yah, dia sukses kan karena bapaknya kaya. Tanpa kita sadari, kita malah jadi buang-buang energi untuk mengutuk nasib kita yang miskin koneksi, yang tidak kaya, dan hal-hal negatif lainnya.

Cerita sang kodok yang mengalahkan ikan sebenarnya bisa kita jadikan pelajaran. Betapa setiap mahkluk itu punya kelebihan dan kekurangan. Karena itu, iri kepada kelebihan orang lain sebenarnya hanya akan membuang waktu dan tenaga. Kalau kita tahu kelebihan kita, serta tahu bagaimana memanfaatkan kelebihan itu, kita pasti juga bisa sukses. Tidak perlu lagi kita berkomentar negatif pada orang lain yang lebih sukses. Curiga pada kesuksesan orang lain hanya akan menghabiskan energi kita.

Yang perlu kita lakukan adalah menemukan potensi yang ada pada diri kita masing-masing. Kita gali bakat-bakat terpendam yang mungkin ada pada diri kita. Okelah sesekali kita iri dengan orang lain. Tapi, mari kita coba mengubah rasa iri itu jadi hal positif bahwa kita juga bisa berbuat lebih baik lagi. Kalau orang lain bisa sukses, kenapa kita tidak?

Ibarat kodok tadi. Kalau kita tidak pandai berenang, pandai-pandailah kita memanfaatkan kelebihan untuk meloncat. Jadi, siap menggali bakat-bakat terpendam kita?

Agoeng Widyatmoko

Dialog Prancis

Aip : Bonjour Dina!
Dina: Bonjour!
Aip : Ca va?
Dina: Bien merci, et vous?
Aip : Bien aussi! Dina qu’est-ce que tu as fait le week end?

Dina : Je suis alle a Cisarua
Aip : C’est interresant! Qu’est-que tu fait
Dina: J’ai visite le zoo Taman Safari
Aip : Avec qui?
Dina: Avec ma famille,ma cousine,et ma tante, et toi? Ou est-ce que tu as le vacances?

Aip : Je suis alle a Yogyakarta, Dina… J’ai visite le temple Borobudur
Dina: Wow! Comment tu es parti a Yogya?
Aip : Je suis parti en train avec mon copain.
Dina : Combien de temps tu es reste a Yogya?
Aip : mmm… Un semaine. Et toi?
Dina : Je suis reste a Cisarua 2 jour
Aip: A Yogya j’ai achete un sac. Qu’est-ce que tu as achete a Cisarua?
Dina : J’ai achete une cassette et un livre. Qu’est-ce que tu as regarde?
Aip : A Yogya j’ai regarde le temple,le musee,et monument. C’est magnifique!!
Dina : Wow.. C’est interressant! A Cisarua j ‘ai regarde le musee nationale
Aip : oke dina ma mere est m’appelle
Dina ouio..au revoir aip,mmmuuaacchh!!
Aip : au revoir 🙂

tidak sama…

Sesuatu tak akan pernah sama…
Saat ia menawarkan cintanya,
Itu adalah sesuatu yang seharusnya menjadi tanda.

Aku harus menyadari, sikapku bukan milik semua orang.
Dan dia bukan orang yang sama..

Cinta selalu ingin dimengerti,
Bagaimana pun bentuknya..

Aku harus menyadari, dia bukan orang yang sama.
Tugasku untuk menjadi berbeda dan tahu posisiku.
Bahwa sikapmu bukan milik semua orang.

Dan aku sangat mencintainya..
Untuk suatu perbedaan..
Untuk kesetiaan…

Review : The Exorcist

The Exorcist is a novel of supernatural suspense by William Peter Blatty in 1971. It was by a 1949 case of demonic possession and exorcism that Blatty heard about while he was a student in the class of 1950 at Georgetown University, a Jesuit school.

Aspect of the character Father Merrin were based on the British archaelogist Gerald Lankaster Harding, who had excavated the caves where the Dead Sea Scrolls had been found and whom Blatty had met in Beirut. Blatty has stated that Harding was the physical model in his mind when he created the character.

The story begins when an elderly Jesuit priest named Father Lankaster Merrin is leading an archaelogical dig in northern Iraq and is studying ancient relics. Following the discovery of a small statue of the demon Pazuzu (an actual ancient Assyrian demigod) and a modern day St. Joseph medal curriously justapoxed together at the site, a series of omens alerts him to a pending confrontation with a powerfull evil, which unknown to the reader at this point, he has battled before in an axorcism in Africa.

Meanwhile, in Georgetown, a young girl named Regan MacNeil living with her famous mother, actress Chris MacNeil, becomes inexplicably ill. After a gradual series of poltergeist-like disturbances, she undergoes disturbing psychological and physical changes, appearing to become “possessed” by a demonic spirit.

After several unsuccesful psychiatric and medical treatments, Regan’s mother turns to a local Jesuit priest. Father Damien Karras, who is currently going through a crisis of faith coupled with the loss of his mother, agrees to see Regan as a psychiatrist, but initially resist the nation that it is an actual demonic possession inhabited by a diabolical personality, he turns to the local bishop for permission to perform an exorcism on the child.

The bishop with whom he consults does not believe Karras is qualified to perform the rites, and appoints the experienced Merrin, recently returned to the States, to perform the exorcism; although he does allow the dourbt-ridden Karras to assist him. The lengthy exorcism tests the priests both physically and spiritually. After the death of Merrin, who had previously suffered cardiac arrhythmia, the task ultimately falls upon Father Karras. When he demands that the demonic spirit inhabit him instead of the innocent Regan, the demon seizes the opportunity to afflict the priest, thus Karras surrenders his own life in exchange for Regan’s.

Menangis di Malam Hujan

Menangis di malam hujan
Tak tahu arah akan kasih yang lama
Sepi mendekam,hanya hujan bersuara ganas
Seakan suara teriakan hati ini kalah begitu saja

Sepi menggerayangi hati
Akan kasih yang tak sampai di malam ini
Menunggu dan menanti..
Sesuatu yang tak pasti

Rasa yang kupertahankan..
Menangis resah ingin kepastian
Dimana sesuatu yang kunanti dan kucari
Aku lelah menunggu…
Aku lelah menutup tangis…
Yang tertutup hujan seakan aku tak pernah begitu…

Bernyanyi…Bagian dari Hidup :)

Bagi saya,bernyanyi adalah bagian dari jiwa.
Bernyanyi adalah keindahan.
Bernyanyi adalah kewajiban.
Bernyanyi adalah saya.

Entah mengapa,bernyanyi bagi saya sudah menjadi keharusan setiap hari,yang harus dilakukan.
Menyanyi bagi saya sangat mengasyikan,menenangkan,alternatif yang baik ketika jiwa sedang merasakan banyak tekanan.

Bernyanyi juga manumbuhkan cinta dimana saja.

Karena bernyanyi saya menjadi seseorang.
Karena bernyanyi saya menemukan jati diri.
Karena bernyanyi saya menemukan cinta sesungguhnya,yaitu kekasih yang selalu menemani dikala suka dan duka dengan nyanyiannya 🙂

I need singing
I like singing
I love singing
I always singing