Rudolf Puspa, dan catatannya…

Saya juga seorang pemain teater. Saya suka akting dan berimajinasi mengikuti naskah. Baik yang humoris maupun real drama. Tapi saya juga tidak berdiri sendiri. Hobi saya tersalurkan oleh seorang sutradara tetaer handal yang sudah mendunia karena kecintaannya akan seni teater. Ia sangat senang dengan para remaja, karena menurut beliau pendidikan sebenarnya harus untuk remaja, mengerti? Beginilah pandangannya, lewat sedikit catatan oleh dirinya :

 

SISWA SISWI PERLU RUANG BICARA.

Catatan Rudolf Puspa

 

Sebelum mulai latihan teater sekelompok pelajar yang datang kerumahku berbincang soal soal politik yang ada dinegeri ini. Yang aku senang menyambutnya karena mereka punya antusiasme yang besar dalam hal ini. Mereka bukan tak punya perhatian, mereka bukan masa bodoh, mereka bukan mendiamkan, mereka bukan tidak mau atau tidak ingin, mereka hanya tidak punya ruang dan waktu untuk bicara. Ini terjadi karena system pendidikan sejak zaman orde baru sudah dirubah sedemikian rupa sehingga siswa kini tidak punya ruang gerak untuk ikut bicara hal hal yang menyangkut kehidupan bernegara dan berbangsa. Bahkan kini bicara tentang ideologi bangsa, lambang bangsa, Pancasila, UUD 45, NKRI sangat jauh dari lingkungan pelajar.

Jumlah jam pelajaran yang terlalu banyak dalam satu hari, waktu belajar yang mulai 6.30 hingga 15.00 tiap harinya. Setiap mata pelajaran masih diberi beban tambahan yang bernama pekerjaan rumah. Apalagi yang kelas tiga maka akan ada tambahan kegiatan yang bernama try out , pemantapan dsb. Masih lagi ada les di luar skeolah karena orang tua merasa perlu agar anaknya lulus dnegan baik. Ini pendidikan model apa? Kapan anak remaja Indonesia memiliki kegiatan remajanya? Kapan mereka punya waktu untuk bergembira, bersenang senang menyalurkan hobynya? Menonton pertunjukkan seni?

Siang hari Jumat itu mereka melontarkan kegelisahan dalam menjalani kegiatan belajar di sekolah. Mereka merasa otaknya setiap hari dijejali lebih dari dua pelajaran. Hal itu sangat menyiksa tentunya , melelahkan. Maka sekolah akhirnya terasa tidak menyenangkan tapi haya buang waktu dan melelahkan. Inilah hasil dari institusi pendidikan yang menggunakan cara cara kekerasan. Apa hasil dari kegiatan yang menggunakan cara kekerasan? Guru menjadi otoriter di sekolah. Siswa harus menurut, harus melakuka apa yag diperintahkan. Maka yag ditangkap siswa adalah orang yang lebih tua harus bersikap “otoriter”. Maka terhadap adik kelasnya pun “kekerasan” itu menurun. Maka bertahun tahun sejak orde baru hingga kini berlangsunglah sikap sikap senioritas. Hal ini akan menjadi satu kesulitan ketika siswa diwajibkan mengikuti ekskul yang tersedia di sekolah.  Kesulitan besar adalah dalam hal senioritas ini. Pengalaman ku melatih ekskul teater adalah dalam hal membagi casting. Mau tidak mau masalah senioritas ini perlu dipertimbangkan karena tidak mudah menyatukan siswa yang berbeda kelas. Memang ada yang pada akhirnya bisa menghilangkan sifat ini karena kesenian tentu saja tidak membedakan kelas karena yang dilihat adalah bakat dan kemampuannya. Dalam hal ini kelas lebih tinggi bukan jaminan actingnya akan lebih bagus dari adik kelasnya. Tidak jarang yang malu hanya kebagian peran sedikit sementara adik kelas justru mendapat peran utama.

Apakah sudah ada penelitian dari kementerian pendidikan soal soal seperti ini? Atau justru mempertahankan system ini karena dianggap lebih mudah untuk menguasai siswa hingga mahasiswa? MaSih adakah ketakutan jika para siswa dan mahasiswa menjadi orang muda yang cerdas? Orang muda yang menyadari bahwa republik ini banyak salah kelola? Takut jika anak muda yang cerdas lalu protes? Takut kejadian tahun 1966 dan 1998 terulang kembali dimana suara pelajar dan mahasiswa menggelegar dijalanan dan menuntut kekuasaan turun? Oleh karenanya system orde baru yang melemahkan kekuatan mahasiswa memang harus terus dibendung. Padahal orde baru mendapat kekuasaan atas dukungan mahasiswa, namun kekuatan mahasiswa sekaligus menjadi “hantu” yang menakutkan sehingga harus diperlemah. Maka mulailah pendidikan yang dilaksanakan melalui “kekerasan.” Salah satu kegiatan extra yang harus dibungkam adalah LSM dan kesenian yang mencerdaskan.  Sejak orde baru hingga kini yang namanya ormas dilarang masuk sekolah atau kampus, apalagi yang berbau politik. Kesenian yang dimatikan waktu itu adalah teater. Kita semua merasakannya betapa teater dianggap hantu yang tidak dilarang namun sukar mendapatkan ruang sehingga mati dengan sendirinya.

Bicara soal soal politik mereka ternyata senang dan banyak pertanyaan yang diajukan. Mereka masih kurang paham tentang berbagai peristiwa yang merupakan sejarah hitam seperti oeristiwa G30S, Soal PKI, Orde baru, Orde reformasi yang semuanya hampir tak pernha menjadi pembicaraan di ruang kelas. Tak ada pelajaran sejarah soal tersebut. Maka begitu ikut teater dan kebetulan kita punya kemauan menampung gejolak batin mereka, maka pelan pelan terbukalah mata hati mereka tentang sejarah bangsanya. Jawaban kenapa sekolah justru terasa menyengsarakan kini terdengar dengan sendirinya. Dan jika siswa sudah memiliki pengetahuan soal tersebut maka ketika memerankan peran yang punya hal tersirat tentang berbangsa dan bernegara maka terdengar lebih hidup. Mereka mulai memiliki perasaan ketika harus mengucapkan kata “merdeka”, “kebebasan’,  rakyat kecil, korupsi, dan sejenisnya yang selama ini hanya bagai angin lalu. Mereka merasakan ada angin lewat tapi terbiarkan karena memang tak punya kepekaan untuk merasakannya. Paling kalau terlalu kuat angin tersebut menjadikan dirinya pusing atau sakit kepala tanpa tau sebabnya. Namun kini meraka menemuka angin teater yang mampu memberikan ruang bagi menjawab kegalauan hidupnya. Kegelisahan yang terasa namun tak tau apa isinya.

Politik orde baru mengajarkan bahwa anak didik tugas dan kewajibannya hanya sekolah menuntut ilmu saja.  Sekolahpun diajarkan untuk bekerja secara individual. Maka sejak remaja sudah mulai diasah untuk menjadi manusia yang hanya memikirkan diri sendiri. Orang muda seperti ini tak akan mungkin menjadi agen perubahan, sementara rakyat menganggap mahasiswa adalah ujung tombak perubahan. Mahasiswa adalah pencerah kehidupan rakyat yang menderita kemiskinan dan kebodohan yang luar biasa. Dua sisi mata uang yang tidak menguntungkan bangsa. Apakah system pendidikan seperti ini masih akan diteruskan?  Bila penguasa menginginkan tenteram selama berkuasa ya memang ini system yang terbaik yang sudah terbukti 32 tahun orde baru ditambah 10 tahun reformasi ini.   Walaupun tanpa disadari ini bisa menjadi bom waktu yang sekali waktu akan meledak seperti 1998. Senjata makan tuan kata pepatah lama.

Orag tua muda yang telah mengenyam pendidikan semacam ini pasti sadar atau tidak selalu tidka setuju jika anak anaknya ikut menjadi siswa atau mahasiswa yang kritis. Apalagi menjadi demonstran atau menjadi orang muda yang progresiv revolusioner. System pendidikan telah menjadikan anak harus menurut apa kata “mama”. Harus menjadi anak manis dipangkuan mama. Banyak aku jumpai alasan kenapa tidak datang latihan, kenapa tidak ikut lagi dsb yang jawabnya adalah “tidak boleh mama”.  Dalam situasi sedemikian rupa memag sering kita harus merasa pesimis dalam 10 tahun kedepan negeri ini bsia terbebas dari penyakit “korupsi” disegala bidang. Korupsi uang, korupsi mental, korupsi moral, korupsi pemikiran. Penyakit penyakit yang kini hinggap di benak penguasa dan rakyat golonga menengah yang telah terlanjur mendapat ilmu bahwa hidup cari yang enak, jangan cari susah. Berjuang untuk merombak kemiskinan dna kebodohan bukan pekerjaan yang menarik dan sebaiknya dihindarkan; begitu kira kira pemikiran para orang tua kita saat ini.

Maka kini tumbuh sebuah pertanyaan mendasar:”Lalu apa yang didapatkan dari sebulan berpuasa”. Berpuasa yang katanya adalah waktu untuk merenung, membaca kitab suci sehingga lebih memahami hidup ini untuk apa? Bahwa hidup adalah mampu berjalan secara horisontal dan vertikal. Bahwa hidup adalah sebuah kebersamaan. Bahwa hidup bukan hanya mementingkan diri sendiri. Bahwa hidup perlu peduli dan berbagi. Bahwa hidup adalah….bahwa hidup perlu…bahwa sekian banyak bahwa…….yang mesti direnungkan dan selanjutnya diamalkan.

 

Siswa siswi sudah memberikan bukti bahwa mereka perlu ruang untuk bicara, untuk berexpresi, untuk menyatakan bahwa diri mereka bukan benda mati.

Amin.

 

Jakarta 28 Agustus 2011.

 

RUDOLF PUSPA, MY FATHER IN ART, I LOVE YOU SO MUCH…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s