Sajak Pilu Cinta

Sedekat nafas dan udara...
Semanis mimpi dan ruang imaji...
Senyata kamu...
Seada aku...

Sedekat jarak dan seburam pandang...
Sejujur ketelanjangan...
Selelah simpuh...
Sebiadab harapan...

Sehancur keteguhan...

Sejauh mana lagi harus ku artikan 'cinta' kalau itu yang serendah-rendahnya telah kupahami...

#TGD 26 Mei 2016

DSC_0903

Iklan

PENDAR (bayangan dibawah sebuah cerita)

Aku melihat pendar cahaya di langit lepas. Memandangnya cukup menyipitkan mata yang lemah ini. Namun angin membantuku menikmati pantulan cahaya itu di atas air berombak. Kicauan burung menemaniku tergeletak di atas pasir putih yang hangat. Sendirian menikmati sedikit waktu dalam tahun perjuanganku yang panjang, membuatku larut dalam pikiranku yang tak pernah ada dalam waktu yang sama. Mengapa aku tak pernah berhasil? Mengapa aku tak berani melakukan hal yang kuingin? Mengapa aku tak memiliki cinta dalam hatiku? Mengapa aku tak pernah maju? Dan mengapa…aku larut dalam ketidakbahagiaan selama ini. Di ujung pandangan kumelihat perahu layar tak bertuan yang terombang ambing tak menahan hembusan angin yang menerpanya. Perahu itu tetap kokoh menerima kegaduhan di sekelilingnya. Mungkin kayunya kuat, layarnya mantap , dan yang pasti tak berpenghuni. Namun, perahu itu seakan dekat dan semakin dekat menghampiriku. Deburan ombak kecil berbuih menyambut kakiku yang terbangun dan melangkah maju. Hangatnya air seakan meresap ke dalam kulit dan hatiku. Tenang dan tenang melangkah pasti. Langkah dan melangkah melawan ombak yang masih bisa kurasakan. Perahu itu semakin dekat kepadaku.

Semakin jelas kulihat keanggunannya…dan kesunyian yang dalam tiba-tiba datang. Aku menyambut sebuah perahu yang tak pernah benar-benar menghampiriku di kejauhan. Dan ia jauh lebih indah di dasar lautan seperti ini……GELAP.

Wanita Jalang

Aku wanita jalang…

yang menebar kasih dan binar harapan

di setiap kesempatan

 

Aku wanita jalang…

yang berucap beda

pada tiap lelaki menyedihkan

 

Aku wanita jalang…

terkungkung dilema

disetiap keringat yang mendera raga

 

Aku memang wanita jalang…

yang penuh kisah dan kasih

Aku memang wanita jalang…

yang ingin menjamahi dunia seutuhnya

Aku memang wanita jalang…

yang punya alasan dan mimpi besar untuk hidup yang lama

 

Aku memang wanita jalang dan gila!

Dengan semua rayu dan harga diri yang dipertaruhkan

 

Aku si wanita jalang…

yang pemberani, punya mimpi, penuh kasih dan benci…

 

Aku lah wanita jalang…

yang tak pernah merasa terbuang…

 

-DA-

12/01/14

 

 

 

 

Raga Jiwa Asa dan Kehendak Buta

            Matahari menggelegar. Memanggil butiran-butiran keringat bersautan keluar dari pori kulit seorang wanita buta yang bertumpu di kedua lututnya, menghela nafas dibawah sebuah pohon besar. Mencuri bayangnya untuk berlindung dari langit yang menggila. Kakinya terluka setelah berlari bertelanjang kaki, meraba semak belukar, diantara pepohonan. Tubuhnya penuh luka lebam bekas timpukan batu, sedang matanya telah lama buta, dicungkil oleh orang-orang dari desanya sendiri, tanah dimana dia dilahirkan. Mereka berdalih, tatapannya dapat menyihir pria mana pun untuk menuruti kata-katanya. Nyaris saja mati Ia dibakar hidup-hidup, kalau bukan karena keberuntungan yang menuntunya. Bisikan-bisikan dari kupu-kupu yang beterbangan, katak diantara genangan, dan  angin yang membelai, menuntunya dari dua orang pria yang nyaris memperkosa dirinya malam itu, yang kemudian beralasan bahwa mereka berdua dalam kendali sihir. Setiap kejadian buruk, malapetaka, bencana dan hama selalu dikaitkan pada dirinya.

            ‘Sang Pembawa Sial’ begitulah julukan yang di tancapkan penduduk desa pada pribadi wanita lembut dan pendiam ini. Berawal dari kematian ibunya saat ia dilahirkan, tumbuh dan berkembang sebagai gadis pendiam yang senantiasa diolok-olok sebayanya, hingga kebiasaanya berdiam diri di hutan dan seakan-akan berbicara pada binatang, saat itulah orang-orang mulai menganggapnya aneh. Meskipun tak pernah ada yang benar-benar tahu, atau pernah menyaksikanya langsung, bagaimana ia memerintah ribuan belalang untuk merusak ladang milik tabib yang enggan mengobati ayahnya, hingga akhirnya meninggal dunia.

            Setelah semalam suntuk berlari tak tentu arah sejauh mungkin dari desanya, ia berbaring di pinggir padang rumput bersandar pada pohon tua. Diantara dedaunan, cahaya matahari menyelinap, mendarat di wajahnya yang penuh keringat diantara ilalang dan tetesan darah dari luka pada pelipisnya. Nafasnya berat , tubuhnya dingin, sedang perutnya saling menggerus, diburu lapar, dan tenggorokanya diradang dahaga. Setengah sadar ia meraba rumput disekitarnya, mengendus bau tanah kering yang terpanggang matahari, menyandarkan kepalanya pada kulit kayu yang kasar. Perlahan ia mendengar suara langkah. Panik memburu, memacu darahnya mengalir deras, bersiap berdiri dan berlari, namun kakinya tak lagi dapat digerakkan. Menahan nyeri ia menyeret tubuhnya dengan tangan, menjambak rerumputan, menjauh dari suara yang mendekat.

Satu langkah, dua langkah, tiga langkah, empat langkah, dan berhenti.

“Tidak perlu takut wahai nona yang malang.”

“Jangan kau mendekat! siapa kau!?” tertatih-tatih ia membentak.

            Satu, dua, tiga, empat. Langkahnya mendekat. Dari suara benturan langkahnya ke tanah, bukanlah langkah manusia. Apabila seseorang dari desa, mengejarnya dengan berkuda, tentulah sang wanita itu tertangkap.

“Apa yang kau inginkan!? Bunuh saja aku sekarang!”

“Untuk apa aku membunuhmu, nona yang sebetulnya cantik. Aku bukan pemangsa! wahai kau yang merusak rumput-rumput lezatku!” balasnya ketus.

“Siapa kau?” sang wanita bertanya.

“Aku domba jantan yang sedang merumput, nona cantik.” jawabnya.

“Mau kah kau membantuku?”

“Bagaimana caranya aku membantumu?” sang domba balas bertanya.

“Aku lelah sekali, kaki ini sudah tak lagi dapat digerakkan, berilah aku tumpangan menuju bukit di selatan…”

“Lantas apa yang aku dapat?” sang domba bertanya.

“Disana tumbuh rumput tersubur dan terlezat di seluruh negri, tak kan habis kau lahap hingga akhir hayatmu wahai domba yang perkasa.”

“Sejauh aku memandang, seluas aku merumput, belum pernah aku melihat bukit di selatan, dan rumput seperti yang kau ceritakan.” balas sang domba.

“Maka antarlah aku kesana dan engkau akan menemukanya wahai domba yang perkasa, melangkahlah terus ke selatan.”

            Sang domba bersimpuh dan membiarkan wanita itu naik ke punggungnya dan berpegangan pada kedua tanduknya yang besar, dan berjalan mengarah ke selatan menuju bukit. Ketika matahari mulai bersiap menukik tenggelam, dan panasnya tidak lagi menggigit, perjalanan mereka terhenti. Dihadapan mereka membentang luas hutan pinus penuh kabut berhiaskan lolongan anjing. Hutan yang akan menyesatkan siapapun yang melewatinya, tertelan dalam kabut, dan berakhir di perut anjing liar, dan kemudian di habisi oleh gagak hingga tak tersisa. Melangkahlah masuk sang domba yang perkasa, menginjakkan kaki di tanah basah tertutup daun berguguran, kabut mulai menyelimuti, sedang kerumunan gagak berkumpul menyaksikan, menanti waktu pesta datang dari dahan-dahan diatas mereka.

“Wahai nona cantik, apa kau yakin ini jalan yang harus ditempuh?” tanya sang domba penuh ragu dengan suara gemetar.

“Ya, teruslah melangkah ke selatan.”

“Namun tak ada domba yang pernah melewati hutan ini, kami merumput disekitar hutan ini dan menyaksikan bagaimana mereka yang tersesat dan tak pernah kembali, aku tidak akan menukar nyawaku demi rerumputan sesegar apapun.” balas sang domba.

            Lolongan anjing dan gagak yang bersautan, serta dinginnya kabut menggelitik kulit sang wanita buta, membuatnya merinding dan membeku sejenak, lantas berpikir. Pastilah kita akan tersesat dan berakhir dalam perut anjing jika tertelan dalam kabut ini, diantara labirin pepohonan dan tanah yang dingin.

            Wajahnya menengadah ke langit, kegelapan bayang-bayang pepohonan menyelimuti, seperti kegelapan  dibalik kain yang membalut luka dalam rongga mata wajah sang wanita, dan berteriak…

“Wahai gagak-gagak yang agung, datanglah kepadaku dari kalian, seekor yang terpandai dan paling bijaksana. Seekor yang pernah terbang menembus langit dan mencuri rahasia takdir. Datanglah pada ku dan buktikan!”

            Teriakkanya bagai mengguncang pepohonan, membubarkan puluhan kawanan gagak yang terkejut dan beterbangan menjauh, hingga tinggal satu ekor, yang paling bijak. Sementara anjing-anjing mulai memburu asal teriakan tersebut.

“Duhai wanita pemberani, kau telah menunjukan keberanian yang tidak biasa dalam hutan yang siap menerkam dirimu kini. Aku sang gagak yang menguasai misteri hutan ini, siap menjawab tantanganmu!”

“Duhai gagak yang bijak dan mengetahui, tunjukkan kami jalan keluar dari labirin ini dan tunjukkan langkah yang menghindarkan dari anjing-anjing lapar!” sang wanita membalas.

“Mengapa aku harus membantumu?”  tanya sang gagak.

“Agar kau dapat membuktikan padaku bahwa benar kau menguasai misteri hutan ini.” jawab sang wanita.

“Lebih baik aku membiarkanmu mati dan menjadi makan malamku duhai wanita pemberani”

“Kalau kau benar mengetahui, tahukah kau obat yang dapat menyembuhkan kebutaan ini, dan menghilangkan kelumpuhan kaki ini duhai gagak yang bijaksana?” sang wanita bertanya.

“Kematian, duhai wanita pemberani. Tak ada yang mampu mengembalikan pengelihatanmu, atau menyembuhkan kaki-kakimu.”

“Kau salah! Sungguh kau tidak mengetahui. Kau hanya bisa beromong kosong…” sang wanita menghina.

“Tidak mungkin! Beritahu aku dan aku akan menyelamatkanmu dari anjing-anjing lapar dan ketersesatan.”

“Aku akan menunjukkanya padamu, semua itu ada di bukit di selatan, dibalik lebatnya hutan ini, tunjukkan sang domba yang perkasa kemana ia harus melangkah membawaku keluar dari hutan ini.”

            Segera sang gagak melesat menembus pepohonan menuju langit dan melihat hutan dari ketinggian, lantas menukik tajam, memberi tanda bagi sang domba, kemana ia harus melangkah. Menembus kabut, menjauhi kejaran anjing-anjing liar yang lapar. Hingga mereka tiba di tepi hutan, kembali teracak kaki sang domba menyentuh padang rumput yang menjingga seiring matahari yang mulai tenggelam. Ketiganya melanjutkan perjalanan. Sang gagak terbang tinggi menunjukkan arah sedang sang domba mengikuti.

“Kita harus sampai sebelum malam datang, aku tidak dapat melihat sang gagak dalam kegelapan.”  kata sang domba sambil berlari kelelahan.

            Sekuat tenaga ia melangkah, hingga sang gagak hinggap di bahu wanita buta. Malam telah tiba, matahari berganti menjadi bulan yang terangnya tidak seberapa dibanding kegelapan langit.

“Aku kira aku sudah tidak bisa mengarahkan kalian, kita tunggu saja hingga fajar membara.” kata sang gagak.

“Dan aku tidak berani melangkah atas apa yang tidak aku lihat, serta aku tidak tahu kemana aku mengarah.” tambah sang domba, kemudian ia bersimpuh beristirahat.

            Kemudian sang wanita turun dari punggung sang domba, menyeret tubuhnya dengan kedua tangannya cepat. Diantara alang-alang dia tertatih menjauh dari sang domba dan gagak yang hanya pasrah diam menunggu. Mendadak sang wanita menggeram kesakitan. Tanganya tidak sengaja menggenggam seekor ular yang berdesis. Terkejut, sang ular menggigit tangan wanita itu dan menyuntikkan racun ke dalam tubuhnya. Sang ular pergi menjauh, sedang sang wanita buta duduk terdiam. Beberapa saat kemudian sang ular kembali menghampiri wanita buta yang tampak tak bergerak sedari tadi, memastikan apakah korbannya sudah siap disantap.

“Aku mendengar desisanmu dari kejauhan, maaf mengejutkanmu, aku tidak dapat melihat.” tiba-tiba sang wanita berkata, dan mengejutkan sang ular yang mengira dia sudah mati.

“Bagaimana mungkin kau selamat dari gigitanku?”

“Karena aku tidak bergerak, dan bisa mu tidak menyebar. Segera aku menghisapnya keluar.” jawab sang wanita buta.

“Tidakkah kau berusaha melawanku? atau mengejarku dan menangkapku yang telah menggigitmu dengan penuh kebencian?” tanya sang ular.

“Tidak. Aku memaafkanmu. Lagipula, Kebutaan ini tidak memungkinkan untuk menangkapmu.”

“Atau tidakkah kau lari menjauh ketakutan?”

“Tidak. Aku percaya padamu. Lagipula, Aku tidak mampu berjalan.”

“Dengan siapa aku berbicara oh wanita pemberani?” tanya sang ular.

“Oh ular yang anggun, Aku mengembara dari desa di utara. Membawa seekor domba dan gagak. Namun, ketika hari sudah gelap, tak ada dari mereka yang sanggup melanjutkan. Ketika aku mendengar desismu, siapa lagi yang bisa kuandalkan dalam gelapnya malam selain dikau yang merasakan apa yang tidak kami rasa dan melihat melaluinya?”

“Belum pernah ada yang selamat dari racunku, dan berbicara seperti itu pada pembunuh berdarah dingin seperti diriku. Apa yang aku harus lakukan oh pengembara buta? Apa yang kau butuhkan dariku?” sang ular kembali bertanya.

“Adakah sebuah bukit disekitar sini oh ular yang anggun?” tanya sang wanita buta setengah berbisik.

“Ada, namun tidak ada apapun disana oh pengembara buta. Apa gerangan yang kau cari?”

“Syukurlah, Aku berjanji mengantarkan kedua hewan itu menuju bukit di selatan. Aku mencari seekor ular yang dapat kupercaya, anggun, mematikan, dan mampu melindungiku. ” jawab sang wanita buta penuh keyakinan.

“Adalah kehormatan bagiku mendampingi seorang pengembara sepertimu nona.” balas sang ular.

            Sang wanita buta memanggil domba dan gagak untuk melanjutkan perjalanan. Ular yang mereka temui menuntun jalan mereka dalam kegelapan, merayap diantara kaki-kaki sang domba menuju bukit di selatan.

            Matahari mulai merekah kembali di ujung langit pagi hari, keempatnya tiba di bukit yang dimaksud sang ular. Sang domba perkasa yang kelaparan dan lelah segera merumput. Menyantap rerumputan di bukit di selatan. Rumput paling nikmat yang pernah ia rasakan seumur hidupnya. Sedangkan sang gagak yang bijaksana, menemukan bahwa obat yang mampu membuat sang wanita berjalan dari utara ke selatan adalah domba yang ia tunggangi, dan mata yang membimbing wanita itu adalah penglihatan sang gagak sendiri, ditambah sang ular yang siap melindungi dan menunjukkan jalan dalam kegelapan.

            Di bukit itu sang pengembara buta mendapatkan makanan dan air, serta jauh dari orang-orang yang memburunya, dengan bantuan ketiga pengikutnya ia bertahan hidup. Kemudian ia bepergian dari hutan ke hutan, hingga menjadi legenda, seorang abdi alam, penyihir yang mengendalikan tanaman dan hewan.

            Sementara, ular yang tidak pernah buas selalu bertanya, ” Rumput mana lagi yang ingin kau cicipi wahai domba perkasa? Langit mana lagi yang ingin kau bongkar rahasianya duhai gagak bijak? Dan, bukit mana lagi yang akan kau taklukan wahai pengembara buta?”

 

 

“Dan…sekarang waktunya kau tidur…” kata si Hitam lelaki yang tak pernah kehilangan karisma. Di kamar yang penuh dengan warna putih ini dan kasur yang empuk senantiasa memberi kenyamanan pada malam yang dingin yang menusuk. Si Putih yang terus terbaring di sampingnya terlonjak dan merasa heran.

“Hey, kenapa tidur?”

“Karena ceritaku sudah selesai…biasanya dongeng sebelum tidur membawamu tidur, bukan?” tanyanya sambil menatap langit-langit ruangan.

“Aku pikir belum selesai. Lalu apa maksud dari cerita itu?”

“Sejak kapan kau sekritis ini? Biasanya kau tidak pernah bertanya maksud cerita-ceritaku setiap malam…” si Hitam terheran.

“Kali ini aku ingin tahu, dan aku butuh untuk tahu, karena cerita ini menggelitik untukku.”

Mereka terdiam sejenak, tak ada yang bergerak dan saling menunggu.

“Baiklah,…” si Hitam merubah posisi tubuhnya dan menatap dalam mata si Putih yang penuh rasa penasaran, “…aku akan menjelaskannya padamu…”

“Semua tokoh itu adalah proyeksi kehidupan, yang selalu ada dan saling terhubung. Setiap manusia pasti memilikinya. Setiap hal yang tersebut dalam kisah memiliki arti yang sebenarnya. Domba digambarkan  sebagai tubuh, yang bergerak menurut nafsu dan akan terus menerus seperti itu. Tubuhlah yang membawa kita kemana saja, ingin melakukan apa saja. Yang membantu kita mencapai hal yang kita inginkan untuk kita gapai. Gagak digambarkan sebagai pikiran, logika yang tak berhenti, perhitungan menurut kenyataan, pikiran itu tak pernah terkalahkan, selalu ada jalan. Dan ular, ular adalah hati…yang menuntun seluruh raga dan pikiran ini untuk jernih dan melakukan hal yang benar, bagian terhalus dari semuanya, tak terkalahkan dengan caranya sendiri.”

Sejenak si Hitam dan Putih terdiam lagi saling menatap.

“Lalu bagaimana dengan wanita Buta? Kau bilang semua hal yang tersebut dalam cerita itu memili arti sebenarnya” tanya si Putih.

“Kau pintar…” si Hitam tersenyum, “Kisah itu menggambarkan kehidupan. Hutan, langit, suara adalah proyeksi dari semua. Mereka bagaikan jalan, cara dan hambatan yang sering kita temukan. Bagaimana dengan wanita buta itu? Wanita buta itu adalah diri ini, Putih. Diri yang tak tahu arah dan tujuan seperti wanita buta itu tak tahu sebenarnya ingin kemana. Ia hanya menyebutkan harapan akan tempat yang ia sendiri tak tahu ada atau tidak kebenarannya. Ia hanya penuh dengan harapan dan harapan. Hal terpenting adalah, ia tidak bisa apa-apa. Ia tak punya daya dan upaya untuk menggapai harapannya, tanpa ke tiga hal itu, si Domba, Gagak dan Ular…”

“Jadi maksudmu…” potong si Putih, “…wanita buta adalah Jiwa?”

“Cerdas…ya, wanita buta itu adalah jiwa yang tak akan pernah bisa memimpin dirinya tanpa tubuh, pikiran dan hati. Dan kau tahu, hal yang perlu kau pahami adalah, domba, gagak dan ular itu memiliki keegoisan yang sama dan tak terkalahkan. Mereka punya bakat masing-masing untuk menang. Dan yang terkalahkan adalah yang lainnya. Kabar baiknya adalah, satu-satunya yang bisa mengontrol mereka semua adalah diri kita sendiri, kebutaan yang jenius itu, kau perlu tahu itu, Putih…”

“Maksudnya?”

“Seberapa pun domba, gagak, dan ular menguasai si wanita buta, wanita buta tetap bisa mengontrol keadaan dan tak pernah goyah dari tujuannya…itulah diri kita yang luar biasa, Putih…diri kita sebenarnya mampu untuk tak terganggu dengan betapa dahsyatnya kendali diluar diri; akan nafsu, akan pemikiran-pemikiran yang tak berujung, dan kelemahan hati kita yang bisa menghancurkan tujuan dan mimpi kita. Tapi diri ini lah kesejatian itu, diri dan jiwa ini yang selalu ingat akan tujuan yang harus kita gapai, dan terus tersadar.”

Si Putih tersenyum.

“Jadi apa tujuan hidupmu?” tanya si Hitam.

“Menjadi cantik, pintar, dan seksi…”

“Ahhh…itu kurang spesifik, buat lebih jelas, Putih…”

“Baiklah…aku ingin menjadi penyanyi terkenal…” si Putih mengangkat alis seakan bertanya apakah itu benar.

“Mmmm…sudah lebih spesifik , tapi tentukan tujuan awalmu sedikit lagi…”

“Okee…aku ingin memenangkan sebuah perlombaan menyanyi yang akan datang sebentar lagi…”

“Kalau begitu, buat si domba, gagak, dan ularmu untuk bekerja sama…jangan biarkan mereka mendominasi dirimu, hai wanita buta…”

A professional Actor Words in His Performance…(May I hope this?hahaha)

If each and every breath I take is a blessing…

It is because of every secondof my life spent with you

For thore glare

And every stare of your beauty

Breath of your hair

And touch of your skin

For those smiles that keeps linger on my mind

Alongside with each and every laughter

For those stories we made

And adventure we’ve been trough

And discoveries we made

And love we create

May our love be stronger

And our bond unbreakable

As our heart clings together

And our blood flows for each other

My mind, flesh, and soul are yours

You’re the torch of my passion

And beacon of my happiness

I love you, Milady, My Vampire…

… …

Terima kasih, Tuhan…

Kau temukan lagi aku dengan angka-angka yang bertambah, dan jam pasir kehidupan yang terus berkurang…

Tak tahu seberapa bermanfaatkah aku di muka bumi ini, terlalu banyak yang kukecewakan dan kuabaikan…

 

Bantu aku memilih, Tuhan…

Untuk menjadi orang yang berhasil dalam hidup, berguna untuk semua orang dan bertaqwa kepada-Mu…

 

Terima kasih untuk yang datang dan pergi mewarnai hidupku…

Semuanya…

Aku sangat sayang…

Segelas Semesta…

Ini teh…

Di mana gelas jadi semesta

Kita daun tehnya

Air hangat jadi Tuhannya

 

Semua jadi satu

Dalam kuasa-Nya

Larut dalam kebesaran-Nya

 

Kemana pun ku menghadap

Kemana pun ku melangkah

Tiap tarikan napas

Tiap-tiap denyut dan gerak

Tak ada yang tanpa kuasa-Nya

 

Silahkan saja kau cari

Tak mampu kau uraikan

Tak mampu kau pisahkan

Karena Ia jauh lebih dekat

Dari nadimu sendiri…